Siantar — Walikota Pematang Siantar, Susanti Dewayani, terkesan menyalahkan masyarakat atas tidak berjalannya program LiSA (Lihat Sampah Ambil) yang diusungnya.
Kesan itu tertangkap dari jawaban yang disampaikan Susanti terhadap Pemandangan Umum Fraksi PDIP yang mempertanyakan program tersebut dalam sidang paripurna Penyampaian Pemandangan Umum Fraksi-fraksi terhadap Nota Pengantar Keuangan Walikota Terhadap Ranperda P-APBD 2022, yang digelar Jumat (23/9) kemarin.
Sebagaimana diketahui, di sidang itu, Fraksi PDIP mempertanyakan program LiSA (Lihat Sampah Ambil) yang hingga kini dinilai belum menghasilkan perubahan apa-apa.
“Penanganan sampah di Kota Pematang Siantar masih sangat semrawut, sementara Saudari Walikota mempunyai program LiSA yaitu Lihat Sampah Ambil, namun sampai saat ini kami lihat program itu belum ada, mohon penjelasan.” Demikian salah satu poin pemandangan umum Fraksi PDIP yang dibacakan Baren Alijoyo Purba di sidang tersebut.
Menjawab realita yang disodorkan itu, Susanti dalam Nota Jawaban yang dibacakannya dalam sidang paripurna yang digelar sehari kemudian, Sabtu (24/9), memberikan jawaban yang konteksnya justru pada soal pengangkutan sampah oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH). Yang di dalam konteks itu, Susanti menyebut bahwa masyarakat tidak taat terhadap jadwal.
“Perlu kami jelaskan bahwa pengangkutan sampah berjalan dengan baik, namun masyarakat masyarakat tidak mengikuti jadwal pengangkatan sampah yang telah ditetapkan DLH, bahkan membuang sampah tidak pada TPSS terdekat yang disediakan namun meletakkan di lokasi yang bukan TPSS sehingga terkesan semrawut,” kata Susanti.
Gagal Paham atau Kena Prank?
Jawaban Susanti terhadap pertanyaan tentang program LiSa itu, menurut salah seorang warga telah mengindikasikan terjadinya dua kemungkinan.
Kemungkinan pertama, Susanti gagal memahami poin pertanyaan yang disampaikan kepadanya, sehingga perihal program LiSA justru dijawab dengan perihal agenda rutin pengangkutan sampah dengan menggunakan armada pengangkut sampah. Atau, kemungkinan yang kedua, arah program LiSA ternyata memang hanya supaya masyarakat membuang sampah ke TPSS sesuai jadwal.
“Kalau melihat publikasi yang masif dan spanduknya banyak dimana-mana, anggaran kampanyenya mungkin juga besar ya, kita kira selama ini program LiSA itu semacam program untuk merobah budaya atau habit masyarakat, menjadi sadar penuh akan kebersihan lingkungan. Semacam program istimewa yang publikasinya harus kolosal yang ditujukan untuk menembus critical area di wilayah neuron setiap masyarakat. Untuk memperbaharui cara berpikir dan kesadaran masyarakat, termasuk pegawai pemerintah tentunya, siapa saja, supaya kapan dan di mana pun masyarakat menjadi sadar akan kebersihan lingkungan dan rajin mengutipin sampah, kan gitu?
Tapi kalau ternyata LiSA itu cuma sekadar ‘hei masyarakat, taat jadwal ya buang sampah ke TPSS’, kalau gitunya kayaknya kita udah kena prank, ngapain pula tulisannya jadi LiSA dan publikasinya masif kayak itu,” ujar Henry, salah seorang warga. [nda]
Baca juga:




















