Siantar — Adanya pergeseran narasi Pemko terkait persoalan sampah, dari yang dulunya berbentuk agenda pemanfaatan sampah dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Biomasa Sampah (PLTSa) namun kini bergeser menjadi hanya mengajak masyarakat memungut sampah lewat program yang diberi nama Lihat Sampah Ambil (LiSA), mungkin sebagian besar pejabat di Pemko Siantar tidak menyadarinya. Tetapi di sisi lain, sebagian besar masyarakat ternyata menyadari ini dan menggaris bawahinya.
Benny, misalnya, seorang mahasiswa di salah satu perguruan swasta, mengatakan, bahwa di tahun 2019 lalu ketika Pemko pertama sekali melontarkan narasi akan membangun PLTSa di dalam hatinya ia sebenarnya tertawa geli, sebab menurutnya hal itu masih jauh dari kemungkinan terjadi.
Sebab menurut observasinya atas daerah-daerah atau negara yang sudah berhasil memanfaatkan sampah menjadi tenaga pembangkit listrik, daerah-daerah tersebut adalah daerah yang telah tuntas dengan persoalan-persoalan fundamentalis atas sebuah kota, semisal persoalan ekonomi, persoalan sosial, tata-ruang, dan juga sudah bersih dari korupsi. Terkecuali, kata Benny, jika pembangunan PLTSa tersebut dibiayai oleh donor dari luar.
Namun melihat optimisme pejabat-pejabat Pemko bernarasi ketika itu kata Benny, dia akhirnya memutuskan memilih untuk menunggu siapa tahu di tangan pejabat-pejabat Pemko yang narasinya sangat bersemangat itu akan terjadi anomali terhadap teori yang dia pahami.
Hal yang senada juga disampaikan Erika yang juga seorang mahasiswi di sebuah perguruan tinggi swasta.
“Ya kalau sudah optimis kayak kemarin itu kan berarti kita cuma bisa menunggu waktu saja. Untuk meihat siapa sebenarnya yang gagap berpikir. Untuk melihat apakah kita salah observasi, salah teori, atau memang justru kemampuan oral merekalah yang memang terlalu maju. Nah, kan sekarang sudah terlihat,” kata Rika.
“Kalau bisa minta tolong sih, kita meminta mereka-mereka ASN di Pemko itu supaya jangan menganggap intelektualitas masyarakat ini rendah-rendah kali lah. Setidaknya jangan menyama-ratakan lah. Jangan menganggap masyarakat ini cuma pure penonton yang gak tahu apa-apa. Karena bagaiman pun kita ini lho yang mendanai kota ini. Kan bisa dibilang gitu,” tambahnya.
Sementara di sisi Pemko, berbeda dengan anggapan masyarakat yang melihat wacana pembangunan PLTS itu cuma ulah iseng dari “para pejabat spesialis narator angin surga”, konfirmasi terhadap pejabat Pemko yang terkait dengan rencana pembangunan PLTSa ini, justru mengisyaratkan Pemko masih sangat optimis agenda pembangunan PLTSa tersebut akan segera terealisasi.
Dedy Tunasto Setiawan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Siantar, yang dikonfirmasi pada Sabtu (14/9/2022), mengatakan, bahwa yang menjadi penghalang terwujudnya PLTSa tersebut adalah situasi pandemi Covid.
“(Mengenai pembangunan) PLTSa Masih terus komunikasi karena tahun-tahun sebelumnya terkendala pandemi Covid, Bang,” demikian jawaban Dedy Tunasto lewat pesan teks.
Sementara saat disinggung sejauh mana hasil yang dicapai program LiSA, Dedy menjawab, bahwa guna mendorong program tersebut supaya lebih meningkat, pihaknya telah memiliki sebuah agenda pendukung yang baru yaitu akan segera membentuk segera Kader Lingkungan di setiap kelurahan.
“Untuk lebih mengedukasi dan meningkatkan peran serta masyarakat bahwa sampah mempunyai nilai ekonomi yg tinggi. Di samping itu juga pemilahan dan pengomposan lebih kita tingkatkan,” jawabnya.
Sementara penelusuran isiantar.com di lapangan terkait program LiSA ini, banyak masyarakat menilai bahwa program yang baru diluncurkan Pemko ini hanyalah sejenis program gagap yang disebabkan pemko belum menemukan format yang tepat untuk memahami dan menangani permasalahan sampah di kota ini. Dan secara secara tidak langsung, program LiSA juga dinilai telah mendudukkan masyarakat pembayar pajak sebagai biang kerok atas persoalan sampah di kota ini.
Program ini juga dinilai sebagai wujud program yang keburu dicetuskan atau memang hanya dibuat untuk mencari sensasi. Sebab program ini, dinilai bahkan tidak sensitif untuk sekadar sadar bahwa LiSA identik dengan nama banyak manusia di kota ini. [nda]
Baca juga:
DLH Siantar Klaim akan Tinjau DAS Rusak yang Diduga akibat Pebisnis Perumahan
Stadion Sangnaualuh Mangkrak, Reinward ke Bawahan: Kalian insinyur harusnya malu!




















