Samosir — Pemerintah RI Khususnya Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan diminta bersikap tegas dengan segera mengambil langkah eksekusi terhadap perusahaan-perusahaan yang telah mencemari lingkungan Danau Toba sekitarnya.
Permintaan ini disampaikan penggiat wisata Henry Manik yang pada akhir Agustus lalu kembali sukses menggelar event kelas dunia yang kelima kalinya lewat konser lagu Batak bertajuk Samosir Music International 2019 di Tuktuk, Samosir.
“Saya rasa mereka (pemerintah) jangan lagi terlalu diplomatis lagilah untuk membicarakan masalah Danau Toba, jadi apa yang bisa dilakukanlah, saya pikir lebih baik dieksekusi saja,” ungkap Henry Sabtu (24/8) lalu.
Menurut Henry, frekuensi kedatangan presiden Jokowi yang sudah beberapa kali dinilai sudah sangat cukup jika hanya untuk fase penyampaian rasa cinta terhadap masyarakat dan niat memperbaiki Danau Toba. Maka sekarang yang dinanti masyarakat adalah aksi nyata atau penindakan.
Henry pun kembali mengulas ingatannya perihal bagaimana fase terakhir pernyataan-pernyataan dari pemerintah tentang rencana menindak seluruh perusahaan yang telah merusak lingkungan Danau Toba di tiga tahun terakhir.
Tahun 2017 lalu kata Henry, pemerintah melalui Menko Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyampaikan soal adanya laporan awal dari World Bank perihal kondisi Danau Toba yang sudah tercemar dan berbahaya, yang dengan kondisi pada saat itu, akan dibutuhkan waktu 80 tahun untuk memperbaikinya. Namun begitupun, lanjut Henry, pemerintah ketika itu masih mengajak untuk menunggu keluarnya hasil audit atau kajian menyeluruh dari Bank Dunia.
Kemudian, di November 2018, Luhut menyampaikan bahwa hasil audit Bank Dunia sudah keluar. Dan hasilnya menyebut kerusakan Danau Toba sudah sangat parah.
“Sebelumnya mau menunggu, sekarang sudah jelas, apalagi yang ditunggu? Kan gitu logikanya,” kata Henry.
Terakhir secara khusus kepada Luhut Binsar Panjaitan sebagai putra daerah kawasan Danau Toba, Henry berharap agar mengambil sikap tegas atas kondisi ini. [nda]