Siantar — Gedung Gereja HKI Missional yang beralamat di Jalan Manunggal Karya, pada Jumat sore 12 Juni 2026 dipenuhi masyarakat yang menghadiri nonton bareng (Nobar) film Pesta Babi. Nobar ini digelar secara bersama oleh Gereja HKI Missional, GAMKI Pematangsiantar, Departemen Diakonia Biro Pengmas HKBP, dan Himpunan Mahasiswa Prodi PGSD Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar.
Usai tuntas menonton film berdurasi 96 menit ini, Nobar langsung dilanjut diskusi yang dengan dua pembicara utama. Keduanya yakni Pdt Beresman Nahampun dan Jon Roi Tua Purba, dengan moderator Pdt Andi Lumbangaol.
Dalam makalahnya sebagai pemantik diskusi, Pdt Beresman yang mengajukan tinjauan Eklesiologis atau pendekatan gerejawi, menyampaikan kegelisahan atas adanya pergeseran fungsi gereja saat ini. Dimana pemaknaan atas misi gereja telah terjerembab dalam logika modern-kolonial.
“Gereja kita sekarang dapat terperangkap dalam logika modern kolonial. Kita sering mengatakan ‘keberhasilan gereja adalah ketika gedungnya megah, besar, asetnya banyak, organisasi kuat, jumlah anggota besar’,” ungkap Pdt Beresman — juga sebagai otokritik, dimana menurutnya pemaknaan seperti itu adalah definisi Barat, bukan defenisi Injil.
Maka itu lanjut Pdt Beresman, jika ada masalah sosial yang terjadi secara simultan di suatu wilayah, maka defenisi gereja sudah perlu untuk didefinisikan ulang. Untuk mempermudah memahami otokritik-keprihatinannya atas kondisi Papua tersebut, dia mengumpamakannya dalam skala kecil seperti dalam kota Siantar.
“Di kota Pematangsiantar misalnya (marak) narkoba, tanyalah berarti defenisi Eklesiologi, defenisi gereja di Siantar, sudah perlu didefinisikan ulang,” tukasnya.
Sementara Jon Roi Tua Purba dalam makalahnya yang berjudul Dari Nobar Menuju Gerakan Solidaritas, mengusik soal rasa kebersamaan atas masalah yang terjadi di Papua saat ini.
Ia juga mengingatkan bahwa skema persoalan yang sama dengan yang sedang terjadi di Papua — sebagaimana diangkat film Pesta Babi — kemungkinan akan terjadi bahkan sudah terjadi di sekitar kita. Contoh terdekat sepertinya yang di Sihaporas.
“Dalam Injil, pertanyaan utama bukan ‘siapa sesamaku’ tetapi ‘apakah aku bersedia menjadi sesama bagi mereka yang menderita’, dan saat ini (yang menderita) adalah Papua,” ungkapnya.
Diskusi kemudian bergulir selama hampir satu jam. Para peserta diskusi menyampaikan rasa yang berbeda-beda, namun senafas dengan kegelisahan yang diungkap kedua pembicara utama tersebut. (nda)




















