isiantar.com – Walikota Pematangsiantar, Hefriansyah Noor, menyebut unjukrasa dan kedatangan sejumlah elemen masyarakat dari etnis Simalungun ke gedung DPRD beberapa hari belakangan ini sebagai hal yang wajar.
“Iyalah, ya wajarlah, mereka namanya DPRD, ya diterima orang itulah, ya kan,” jawab Hefriansyah yang diwawancarai seusai berakhirnya sidang paripurna penyampaian pandangan umum fraksi-fraksi DPRD atas LKPj Walikota tahun 2017, Jumat sore (27/4/2018) di ruang Harungguan.
Setelah mengatakan hal tersebut, Hefriansyah sambil berjalan keluar dari dalam gedung sempat saling menyapa dan menjawab pertanyaan lain yang disodorkan sejumlah wartawan yang mengiringinya.
Saat kemudian diperjelas bahwa tujuan kedatangan elemen dari etnis Simalungun itu adalah untuk mendesak DPRD bersidang memberhentikan dirinya dari jabatan walikota sebab dianggap telah melakukan penistaan terhadap etnis Simalungun, Hefriansyah hanya memberi jawaban singkat.
“Itukan praduga dan perkiraan,” jawabnya, dan lalu beralih menjawab pertanyaan wartawan lain hingga ia masuk ke dalam mobil dan meninggalkan gedung DPRD.
Fraksi Indonesia Raya Minta Kadis Pariwisata Diganti
Sebelumnya, dalam pandangan umum Fraksi Indonesia Raya atas LKPj Walikota tahun 2017 yang disampaikan di dalam rapat paripurna sore itu, salah satu poin yang disampaikan adalah agar walikota meninjau ulang SK Pengangkatan Kadis Pariwisata, Fatimah Siregar.
(Baca juga: Ini Pantun Hefriansyah di Penetapan Calon Terpilih)
Oberlin Malau, selaku jurubicara fraksi yang ditemui seusai paripurna, menjelaskan, usulan itu berkaitan dengan terjadinya unjukrasa dan kedatangan sejumlah elemen masyarakat etnis Simalungun ke DPRD pasca dipublikasikannya brosur dan poster acara perayaan HUT Kota Pematangsiantar yang dikelola oleh dinas tersebut, dimana teks dan desainnya dinilai sebagai bentuk pelecehan dan penistaan terhadap etnis Simalungun.
Bagi Fraksi Indonesia Raya, unjukrasa dan kedatangan sejumlah elemen secara bergantian merupakan bukti Kadis Pariwisata tidak bersifat responsif menangani persoalan tersebut
“Jelaskan itu, kalau memang salah, mengaku salah, belajar, kan itunya. Ini sampai enam kali (elemen masyarakat etnis Simalungun datang) ke sini. Itukan kalau datang masyarakat ke sini berarti pelayanan terhadap masyarakat tidak prima, itu prinsipnya. Sudah enam kali, coba? Jangan nanti setelah jadi api, baru (kadisnya) diganti,” jelas Oberlin. [nda]




















