isiantar.com – Dalam wawancara di ruangan Fraksi Demokrat, Jumat sore (5/4/2017), Eliakim mengaku terkejut dengan kekisruhan yang terjadi yang mengakibatkan dirinya terpojok di salah satu sudut hingga nyaris adu jotos. Memang diakuinya di dalam pertarungan politik apa saja bisa terjadi, dan ia harus bersiap untuk itu. Tapi yang terjadi hari itu menurutnya benar-benar di luar dugaannya sebab sehari sebelumnya sudah terjadi kesepakatan.
Ia kembali menyebut jika semua itu bermula dari adanya pertemuan mendadak 19 anggota dewan dengan salah seorang figur mantan calon walikota yang kalah dalam pilkada 2016 lalu. Dari pertemuan itu, menurut Eliakim, semuanya berubah. Dari pertemuan di Parapat itu ada muncul skenario untuk mendapatkan jabatan wakil walikota yang akan masih kosong jika Hefriansyah sudah dilantik kelak. Dan untuk memuluskan skenario itu, langkah pertama yang ditempuh adalah melengserkannya dari jabatan ketua DPRD.
Ditanya, bagaimana nanti jika ternyata skenario yang disebutkannya itu berjalan mulus dan Raker Demokrat benar-benar memberikan dukungan kepada si mantan calon walikota yang kalah dalam pemilihan 2016 lalu. Eliakim menyebut itu bukan hal mudah untuk dilakukan oleh pihak-pihak tersebut.
“Politik siantar ini kan sudah tinggi. Jangankan si TRS yang jadi wakil, si Zainal yang jadi wakil, si TRS jadi walikota dirancang. Nanti dengan dilantiknya si Hefriansyah akan ada episod yang lebih besar lagi dibongkar. Adoh, udah sama tau kita semua itu, tapi apa segampang itu?” Kata Eliakim.
Seolah ingin memastikan keraguaannya akan keberhasilan skenario pihak lawan politiknya itu, ia kembali berujar bahwa dalam sejarah politik adalah mustahil menyatukan pemenang dan yang kalah untuk memimpin sebuah kota. “Mana pernah di dunia ini disatukan antara yang menang dengan yang kalah. Pernahnya disatukan satu ‘kandang’ yang menang sama yang kalah?” Ujarnya dengan nada bertanya. (bersambung…)
[nda]




















