Informasi Terpercaya
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi
Sabtu, Agustus 22, 2026
  • Login
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
Informasi Terpercaya
No Result
View All Result

Emang Apanya yang Manis?

by Redaksi
26/02/2018
in Opini
0
ilustrasi ironi kampanye

ilustrasi ironi kampanye

Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Obeiyel Gabjriel

Menurut sejumlah referensi yang belum pernah saya baca, menyebut diri sendiri ‘manis’ adalah lumrah bagi kaum hawa. Apalagi di saat-saat puber. Bagi mereka, menyebut diri sebagai sosok yang ‘manis’, bukan melulu sebagai klaim (meski ini wajar), tetapi lebih sering diucap sebagai alat bercanda agar orang lain tersenyum, pun tertawa.

Namun tolong dicatat, yang disebut sebagai “orang lain” di paragraf di atas, haruslah dipagari. Agar jangan sampai melebar. Tak boleh bilang ‘saya ini manis saya ini manis’ kepada semua orang. Harus dipagari cukup pada lingkaran saudara, teman-teman dekat, atau pacar si-empunya-klaim. Tidak lucu kan kalau sampai ada yang nelpon Satpol PP.

Dua paragraf di atas muncul begitu saja sewaktu saya ingin menulis status. Bagi teman-teman fb saya pasti maklum kalau saya nulis panjang-panjang padahal tak penting. Itu bagi mereka. Bagi pikiran saya, mungkin penting, karena saya kan pengen eksis juga.

Begini, karena tiba-tiba saya berfikir, gimana ya kalau ada orang lain yang pacar-bukan-saudara-bukan tiba-tiba datang dan bilang, “hei, aku ini manis lho…”. Lah! Apa urusanku, dek? Atau mungkin juga akan saya balas: Hei, apa kau sih yang manis?

Eitss, sabar dulu… Mencoba keluar dari tulisan yang saya tujukan sebagai status ini, saya juga paham kalau situasi sekarang membuat apapun bisa dibaca berbeda. Ya, benar, sebab sebagai penyetatus iseng saya juga masih sadar waktu. Ampunlah tuan, saya tidak berniat untuk itu. Jelas tidak. Anda bisa baca teks-per-teks, huruf-per-huruf.

Saya tidak berniat tulisan ini untuk masuk ke ranah politik. Mohon pahami. Sebab jika saya berniat, tentu tulisan saya tidak akan seperti ini. Saya akan membuat tulisan yang bisa dikesan intelek. Biar rame yang baca. Dapat rating. Trafik naik. Tapi saya tidak berniat.

Halah… bilang aja gak mampu. Sok gak niat!!! Puihh…!!!

Loh, apa susahnya emang masuk ke konteks politik dalam situasi yang segala sesuatunya akan diangggap politis? Gampang. Saya tinggal tulis kenyataan aja, koq.

Begini ya sodara-sodara, kalau misalnya saya berniat bikin tulisan yang bertujuan politis, pasti yang akan saya tulis adalah tema-tema yang lain. Contoh misalnya yang baru kejadian tadi sore; tentang pegawai Perusda yang unjukrasa. Mereka bilang tidak pernah digaji selama 15 bulan. “Kami bekerja sepanjang hari kadang sampai malam. Malam hari pun sering ditelpon untuk datang bekerja. Orang melihat kami sudah seperti perempuan yang tak beres,” ungkap mereka. Dan sewaktu mereka tak tahan lagi dan menuntut gaji, eh mereka malah dipecat. Padahal sodara, dulu ada politisi tersohor kita yang nafsu banget memberi cap pada dirinya sendiri sebagai pahlawan sesaat perusahaan ini didirikan. Tema yang dahsyat bukan?

Itu masih realita terbaru loh. Tadi sore sodara. Manarasikan realita seperti itu dalam situasi sekarang ini, pasti akan ada terbaca tendensi politisnya. Dan jadilah saya pemain isu (mungkin juga cuma alat) dalam pertarungan politik. Gampang bukan? Tentu bukan! Karena menarasikan yang mereka alami itu akan cukup berat pada soal apakah saya akan merasa sedih atau lucu saat menuliskannya.

Nah, itu satu realita. Realita yang lain ada. Misalnya, dulu ada politisi yang mengaku diri sebagai pejudi. Sebelum itu, serat kehidupan masyarakat memang sudah dianggapnya sekadar persis kupon togel. Tarif air pun tak tanggung-tanggung [diturunkannya]. Ini sungguh sebuah anomali. Mau protes? Eh malah akan disamakan dengan…. Lagian udah diturunin koq masih aja protes. Ada apa sih dengan kalian-kalian masyarakat?

Pedagang-pedangang tradisonal kian mengeluh karena nasibnya, estetika kota semrawut, tower dimana-mana, jalanan macet, dan realita-realita lain, yang pada saat ini, entah bagaimana tiba-tiba muncul lagi di kepala tuan-tuan…

Tentang voucher? Saya tak akan menuliskannya. Tak usahlah. Enak kali Anda. Lagian itu sudah terlalu lama dan saya hampir tidak ingat. Kalau ada yang masih penasaran mungkin bisa tanya Panwaslih saja.

Nah, jadi begitulah. Tulisan ini memang niatnya cuma untuk sekadar status saja. Tak usahlah dimasukkan ke koran. Lagian intinya pun cuma itu aja. Mau di kondisi apapun tulisan ini diletakkan, intinya cuma ingin sekedar bertanya: emang apanya yang manis? (*)

Pematangsiantar, 25 Oktober 2016

(Penulis adalah warga kota Siantar pemilik akun facebook Obeiyel Gabjriel)

Tags: Opini
Share17TweetPin

Related Posts

PRABOWONOMICS: Jalan Pulang Negara kepada Rakyat

by Redaksi
26/07/2026
0

...

Gejolak Republik yang Menggelitik: SDA Dikuasai Oligarki, Gerakan Terbelah, dan Konflik Diproduksi Algoritma

by Redaksi
20/06/2026
0

...

GKB NU: Pemimpin Baru dengan Tantangan Baru

by Redaksi
17/06/2026
0

...

Pledoi untuk Seorang Kawan: Membela Budiman dari Pinggiran Kota

by Redaksi
16/06/2026
0

...

Fenomena Cawe-cawe Politik di Siantar: Krisis Demokrasi Lokal dan Peran Rakyat

by Redaksi
10/06/2026
0

...

FASI XIII Sumut: Qur’ani, Kebangsaan, dan Jejak Kontribusi Lintas Agama dalam Peradaban Islam

by Redaksi
06/06/2026
0

...

Ketika Pintu Kompetisi Menyempit: Akar Rumput dan Kontestasi Ketua NU Simalungun

by Redaksi
20/05/2026
0

...

Musda KNPI Siantar Sudah Final, Legitimasi Kepemimpinan Adalah Arif Harahap

by Redaksi
16/05/2026
0

...

Musda KNPI, Krisis Demokrasi Lokal, dan Tanggung Jawab Sejarah

by Redaksi
12/05/2026
0

...

May Day, Dari Refleksi Jadi Sekedar Seremoni

by Redaksi
02/05/2026
0

...

Terkini...

Nommensen Siantar dan Pemko Pematangsiantar Perkuat Kolaborasi Akademik untuk Pembangunan Daerah

22/08/2026

Pemko Siantar Gelar Lomba Mancing Bareng Walikota di Kolam Balai Benih

20/08/2026

Kanwil Kemenkum dan Pemko Siantar Teken Kerjasama Perlindungan Kekayaan Intelektual Inovasi Daerah

19/08/2026

Anak Hanyut di Tanjung Pinggir Sudah Ditemukan

19/08/2026

BPBD Siantar Terus Cari Bocah Hanyut di Tanjung Pinggir

18/08/2026

Wesly Silalahi Lepas Peserta Karnaval Merah Putih HUT RI

18/08/2026

Syalomita Jessica Hasayangan Pardede Bawa Baki Bendera Merah Putih di Upacara HUT RI di Siantar

18/08/2026

Forkopimda Plus Kota Siantar Gelar Malam Renungan Suci  di TMP Nagur

18/08/2026
(Tengah) Kepala Dinas Diskopukmdag Kota Pematangsiantar, Herbet Aruan S.Pd., MH.

Draf Perda RPIK Sudah Rampung, Pemko Siantar Bidik Dana Pusat dan Investasi

18/08/2026
Rektor Universitas HKBP Nommensen Pematangsiantar, Dr. Muktar B. Panjaitan, M.Pd.

Saatnya Kemerdekaan Diisi dengan Karya

17/08/2026
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi

© 2019 isiantar.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil

© 2019 isiantar.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In