Oleh: Imran Simanjuntak, Relawan/Pejuang Gerakan Kebangkitan Baru Nahdlatul Ulama.
Nahdlatul Ulama sedang berada pada titik kritis sejarahnya. Menjelang Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar di Ploso, Kediri, gelombang wacana pembaruan kembali menguat.
Di tengah dinamika itu, Gerakan Kebangkitan Baru Nahdlatul Ulama (GKB NU) muncul sebagai arus gagasan yang tak hanya menawarkan kritik, tetapi juga arah baru. Dan di pusat gerakan ini, berdiri satu figur yang mulai mencuri perhatian: Gus Hery Hariyanto Azumi.
Kehadirannya sebagai Ketua GKB NU bukan sekadar simbol, tetapi kekuatan strategis yang mengubah gerakan ini dari sekadar wacana menjadi arus pembaruan yang terorganisir.
NU Menghadapi Tantangan Baru yang Tidak Bisa Dijawab dengan Pola Lama
NU hari ini menghadapi tiga tantangan besar:
1) Fragmentasi Elite Struktural Kohesi internal PBNU melemah.
Tarik-menarik kepentingan membuat struktur berjalan tanpa arah strategis. NU membutuhkan pemimpin yang mampu melakukan rekonsolidasi struktural, bukan sekadar menjaga keseimbangan semu.
2) Jarak dengan Ulama Kultural.
Kiai kampung dan pengasuh pesantren kecil-menengah merasa semakin jauh dari pusat. Padahal, legitimasi NU lahir dari sanad kultural yang mengakar di desa-desa.
3) Kebutuhan Modernisasi Organisasi.
NU membutuhkan reformasi tata kelola yang profesional, transparan, dan adaptif terhadap era digital. Tantangan ini tidak bisa dijawab dengan gaya kepemimpinan lama.
GKB NU harus mampu sebagai Gerakan yang Menggugat Kenyamanan Lama, GKB NU hadir sebagai gerakan pemikiran yang menolak stagnasi. Ia membawa tiga kritik tajam: NU terlalu elitis, kurang kultural. NU terlalu administratif, kurang visioner. NU terlalu reaktif, kurang proaktif. Namun kritik saja tidak cukup. Dibutuhkan figur yang mampu mengubah kritik menjadi gerakan. Dan di sinilah peran strategis Gus Hery Hariyanto Azumi menjadi penting.
Kehadiran Gus Hery Hariyanto Azumi merupakan Kekuatan Strategis GKB NU. Kehadiran Gus Hery sebagai Ketua GKB NU memberikan kekuatan strategis yang tidak dimiliki gerakan pembaruan lain:
Pertama, Legitimasi Kultural yang Mengakar. Gus Hery bukan sekadar aktivis atau organisator. Ia memiliki sanad kultural yang kuat, dihormati di kalangan pesantren, dan diterima oleh ulama akar rumput. Ini membuat GKB NU tidak tampil sebagai gerakan elitis, tetapi sebagai arus pembaruan yang berakar pada kultur NU. Kekuatan ini sangat penting untuk menggerakkan halaqah kiai kampung dan konsolidasi pesantren kecil-menengah.
Kedua, Kapasitas Organisasi dan Manajerial Gus Hery dikenal memiliki kemampuan mengelola organisasi besar dengan pendekatan sistemik. Di tangan figur seperti ini, gagasan reformasi tidak berhenti sebagai wacana, tetapi berubah menjadi agenda kerja, digitalisasi administrasi, profesionalisasi lembaga, penguatan ekonomi umat, dan sistem kaderisasi modern. Inilah yang membuat GKB NU berbeda. GKB NU memiliki pemimpin yang mampu mengubah ide menjadi struktur.
Ketiga, Jembatan antara Kultur, Struktur, dan Kader Muda NU sering terjebak dalam dikotomi: kultural vs struktural, tua vs muda. Gus Hery memiliki posisi unik, diterima ulama kultural, dihormati struktur, dekat dengan kader muda, Ia menjadi jembatan strategis yang mampu menyatukan tiga kekuatan besar NU. Tanpa figur seperti ini, GKB NU hanya akan menjadi wacana intelektual tanpa daya dorong.
Pemimpin Baru untuk Tantangan Baru
Dengan tantangan yang semakin kompleks, NU membutuhkan pemimpin yang mampu merangkul ulama kultural, mampu mengelola struktur besar, mampu membawa NU ke era digital, dan mampu mengartikulasikan visi global Islam Nusantara. Pemimpin baru bukan soal usia, tetapi cara berpikir, cara bersikap dan cara bekerja. Dan GKB NU, melalui kepemimpinan Gus Hery, menawarkan paradigma itu.
Narasi GKB NU yang Mengguncang Status Quo
GKB NU membawa tiga narasi yang membuatnya relevan sekaligus mengganggu kenyamanan lama; “NU Harus Kembali Menjadi Rumah Besar Umat”. “Modernisasi NU Tanpa Meninggalkan Tradisi”. ”Kepemimpinan Baru untuk Tantangan Baru”. Narasi ini tajam, tetapi elegan. Ia tidak menyerang personal, tetapi menyerang pola pikir.
Momentum Kebangkitan Baru GKB NU bukan gerakan sempurna. Tetapi ia membawa satu hal yang hilang dari NU selama bertahun-tahun: keberanian untuk menggugat kenyamanan lama. Dan kehadiran Gus Hery Hariyanto Azumi sebagai Ketua GKB NU menjadikan gerakan ini bukan sekadar wacana, tetapi arus pembaruan yang terorganisir, berakar, dan berorientasi masa depan.
NU berada pada titik kritis. Tantangan baru membutuhkan pemimpin baru. Dan GKB NU hadir untuk menawarkan jalan itu.
Pematangsiantar, Rabu 17 Juni 2026.

















