Informasi Terpercaya
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi
Jumat, Oktober 30, 2026
  • Login
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
Informasi Terpercaya
No Result
View All Result

Pledoi untuk Seorang Kawan: Membela Budiman dari Pinggiran Kota

by Redaksi
16/06/2026
in Opini
0
Share on FacebookShare on Twitter
Oleh: Imran Simanjuntak, MA. Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam SAMORA. Aktivis 98.

Dari hari-hari panjang perjuangan yang pernah kami lalui, hingga jalan hidup yang membawa kami ke dua dunia berbeda. Saya di perguruan tinggi kecil di Pematangsiantar, Budiman di pusat kekuasaan, ini adalah kesaksian saya sebagai seorang kawan yang menolak diam ketika sejarah mulai disederhanakan.

Malam Ketika Kami Masih Percaya Dunia Bisa Diubah. Ada hari-hari yang tak pernah hilang dari ingatan saya. Malam ketika kami duduk di ruang sempit, dindingnya kusam, lampunya redup, tetapi semangat kami menyala terang. Kami bukan siapa-siapa. Kami hanya anak-anak muda yang percaya bahwa negeri ini bisa berubah jika ada yang berani berdiri. Di antara wajah-wajah itu, ada Budiman Sudjatmiko. Bukan sebagai tokoh besar.
Bukan sebagai simbol reformasi. Tetapi sebagai kawan seperjuangan. Kami berbagi kegelisahan yang sama; tentang rakyat kecil, tentang ketidakadilan, tentang masa depan bangsa.

Puluhan tahun berlalu, Dua Jalan, Satu Arah.
Perjuangan yang Membelah Takdir

Perjuangan kami mengambil arah berbeda. Budiman memilih jalan yang berat, masuk ke dalam sistem, menghadapi intrik, tekanan, dan stigma. Saya memilih jalan sunyi, mengabdi di dunia pendidikan, jauh dari pusat kekuasaan, jauh dari sorotan media. Menjadi Ketua di STAI Samora Pematangsiantar, sebuah perguruan tinggi kecil di kota yang sering dianggap pinggiran.

Tidak ada gedung megah. Tidak ada kamera media.
Tidak ada hiruk pikuk politik nasional.Tetapi di kampus kecil itu, saya membangun generasi.
Saya mengajarkan idealisme, etika, keberanian berpikir.

Saya menanamkan nilai bahwa perubahan tidak hanya lahir dari pusat kekuasaan—tetapi juga dari ruang-ruang kecil yang sering dilupakan.

Gerakan Mahasiswa Kini: Generasi yang Terpecah dan Mudah Ditunggangi

Dari pinggiran kota ini, saya melihat perubahan besar dalam gerakan mahasiswa. Mereka tidak lagi seperti generasi kami dulu.

Tidak ada lagi satu musuh besar yang menyatukan energi kolektif. Yang ada adalah: Fragmentasi isu Penunggangan elite, Pragmatisme jangka pendek dan Minim basis ideologi. Mahasiswa bergerak tetapi tanpa arah besar.

Berteriak, tetapi tanpa peta perjuangan.
Berjuang, tetapi mudah diperalat. Dan di tengah kekacauan itu, Budiman dijadikan sasaran.

Budiman yang Saya Kenal—Bukan yang Mereka Nilai

Saya membela Budiman bukan karena ia sempurna.
Saya membelanya karena saya tahu siapa dia sebenarnya. Saya tahu, ia pernah mempertaruhkan kebebasannya demi rakyat. Ia pernah berdiri ketika banyak orang memilih diam. Ia pernah menanggung risiko ketika banyak orang memilih aman. Dan saya tahu satu hal yang mahasiswa hari ini sering lupa, masuk ke dalam sistem bukan berarti menyerah.
Kadang, itu adalah cara lain untuk memperjuangkan hal yang sama dengan risiko yang berbeda.

Budiman memilih jalan yang berat. Jalan yang penuh stigma. Jalan yang sering disalah pahami. Tetapi ia tetap membawa idealisme itu ke ruang kebijakan.

Dari Pematangsiantar, Saya Menyaksikan Ketidakadilan Itu

Saya mengajar di kampus kecil, jauh dari Jakarta.
Saya melihat mahasiswa saya, anak-anak dari keluarga sederhana, berjuang untuk sekadar menyelesaikan kuliah.

Dari pinggiran kota ini, saya melihat bagaimana oligarki menguasai ruang publik, bagaimana politik menjadi permainan elite, bagaimana mahasiswa kehilangan arah besar perjuangan. Dan ketika saya melihat Budiman diserang oleh dalam kampus tempat ia dibesarkan secara gerakan,  mahasiswa yang bahkan tidak memahami sejarah perjuangannya, saya merasa perlu bersuara.

Budiman dan Mahasiswa: Jembatan yang Harus Dijaga

Budiman masih memiliki sesuatu yang penting untuk generasi mahasiswa hari ini, ada
pengalaman, luka, dan idealisme yang teruji. Ia adalah jembatan antara: generasi yang pernah melawan tirani, dan generasi yang kini berhadapan dengan oligarki, disinformasi, dan fragmentasi. Dan jika jembatan ini putus, kita kehilangan sesuatu yang sangat berharga: ingatan kolektif tentang bagaimana perubahan pernah diperjuangkan.

Suara Seorang Kawan dari Pinggiran

Saya menulis ini bukan untuk membela seorang tokoh. Saya menulis ini untuk membela seorang kawan. Kawan yang pernah berjalan bersama saya dalam perjuangan. Kawan yang saya tahu hatinya.
Kawan yang saya tahu idealismenya tidak pernah padam. “Perjuangan rakyat bukan soal siapa yang tetap di jalanan atau siapa yang masuk ke kekuasaan, melainkan soal siapa yang tetap menjaga idealisme di manapun ia berdiri.” Dan saya tahu, Budiman masih menjaganya.

Pematangsiantar, Selasa 16 Juni 2026

Tags: NasionalismeOpinipolitik
ShareTweetPin

Related Posts

Walikota Siantar Raih Penghargaan sebagai Tokoh Toleransi

by Redaksi
13/10/2026
0

...

Wesly Silalahi Terima Penghargaan sebagai Tokoh Toleransi

by Redaksi
30/09/2026
0

...

Wesly Silalahi Jamu Kunjungan Utusan MUI Pusat di Rumah Dinas Walikota

by Redaksi
29/09/2026
0

...

Wesly Buka Munas XV UNIO Indonesia di Catholic Center Pusat Pembinaan Umat Keuskupan Agung Medan

by Redaksi
28/09/2026
0

...

FKUB Siantar Temu Ramah dengan Walikota

by Redaksi
24/09/2026
0

...

Setelah Tolak Bahas Anggaran dan Geruduk Rumah Walikota, Wesly akan Digembosi dengan Isu Sara?

by Redaksi
22/09/2026
0

...

PRABOWONOMICS: Jalan Pulang Negara kepada Rakyat

by Redaksi
26/07/2026
0

...

Pemko Siantar Gelar Rapat Persiapan Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia

by Redaksi
26/07/2026
0

...

PKB menargetkan penguatan basis kader di Simalungun. Hal itu diharapkan lewat peningkatan peran PKB dalam isu-isu lokal, dan kolaborasi dengan tokoh adat dan komunitas budaya.

Imran Simanjuntak Pimpin PKB Kota Pematangsiantar: Sinyal Kebangkitan PKB di Tanah Simalungun

by Redaksi
23/07/2026
0

...

Wesly Silalahi Terima Penghargaan Tokoh Toleransi di Sumut

by Redaksi
29/06/2026
0

...

Terkini...

Walikota Siantar Ikuti Apel Gelar Pasukan Operasi Kewilayahan Patuh Toba 2026

29/10/2026

Wesly Silalahi Terima Penghargaan BKPRMI sebagai Tokoh yang Peduli Anak Yatim dan Pemuda Masjid

29/10/2026

Siantar Terima Penghargaan Nominasi TPAKD Award Tahun 2026

29/10/2026

Pemko Siantar Terima Kunjungan Silaturahmi DP MUI

28/10/2026

Pemko dan Polres Siantar Gelar Rakor Akselerasi Program Kapolri

28/10/2026

Jadi Pembina Upacara di SMP CR 1, Wesly: Keberhasilan tak hanya ditentukan nilai akademik, tapi juga karakter

28/10/2026

Walikota Siantar Tandatangani Prasasti Peresmian Aula SMP Bintang Timur

28/10/2026

Pemko Siantar Gelar Festival Seni dan Qasidah Tahun 2026

23/10/2026

Pemko Siantar Kembali Raih Penghargaan di Bidang Keterbukaan Informasi

20/10/2026

Pemko Siantar Respons Cepat Masalah Kabut Asap Karhutla

18/10/2026
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi

© 2019 isiantar.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil

© 2019 isiantar.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In