Informasi Terpercaya
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi
Selasa, September 15, 2026
  • Login
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
Informasi Terpercaya
No Result
View All Result

Ulama dan Pesantren: Pilar Kemerdekaan yang Tak Layak Direndahkan

by Redaksi
21/10/2025
in Opini
0
Share on FacebookShare on Twitter
Oleh: Imran Simanjuntak

Dalam narasi besar perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama-nama tokoh militer dan politisi sering kali mendominasi ruang publik. Namun, ada satu lapisan sejarah yang kerap terabaikan: peran ulama dan pesantren. Padahal, kemerdekaan Indonesia bukan hanya hasil diplomasi dan senjata, tetapi juga buah dari sujud panjang, fatwa jihad, dan pendidikan karakter yang ditanamkan di pesantren-pesantren seluruh Nusantara.

Tulisan ini mengangkat kembali peran strategis ulama dan pesantren dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, dengan fokus pada tokoh KH Hasyim Asy’ari dan peristiwa Resolusi Jihad, serta implikasinya terhadap posisi pesantren dalam pembangunan nasional hari ini.

Resolusi Jihad: Fatwa yang Menggerakkan Revolusi

Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari bersama para ulama Nahdlatul Ulama mengeluarkan Resolusi Jihad. Fatwa ini menyatakan bahwa membela tanah air dari penjajah adalah fardhu ‘ain bagi setiap Muslim yang berada dalam radius 94 km dari medan perang. Resolusi ini bukan sekadar dokumen keagamaan, tetapi manifesto politik dan militer yang menggerakkan ribuan santri dan rakyat untuk angkat senjata melawan pasukan Sekutu dan NICA.

Peristiwa ini menjadi pemicu pertempuran heroik 10 November 1945 di Surabaya, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Tanpa Resolusi Jihad, Surabaya mungkin jatuh. Tanpa ulama, kemerdekaan mungkin tinggal wacana.

Pesantren: Basis Perlawanan dan Pendidikan Karakter

Pesantren seperti Tebuireng, Lirboyo, Langitan, dan Gontor bukan hanya tempat belajar fiqh dan tauhid. Ia adalah benteng perlawanan, tempat para santri dilatih bukan hanya dalam ilmu agama, tetapi juga dalam strategi perjuangan dan semangat kebangsaan.

KH Zainal Musthafa dari Tasikmalaya, misalnya, memimpin perlawanan bersenjata melawan Jepang dan gugur sebagai syuhada. KH Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari, menjadi Menteri Agama pertama RI dan perumus dasar negara yang mengakomodasi nilai-nilai Islam dalam Pancasila.

Pesantren adalah laboratorium karakter bangsa. Di sana, nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan gotong royong ditanamkan sejak dini. Maka meminggirkan pesantren hari ini, sama saja dengan merobohkan tiang rumah Indonesia.

Ulama: Kompas Moral Bangsa

Ulama seperti Syekhona Kholil Bangkalan, KH Wahid Hasyim, dan KH Wahab Chasbullah  dll bukan penghalang modernitas. Mereka adalah kompas moral di tengah badai zaman. Ketika bangsa ini bingung antara ideologi dan identitas, ulama hadir sebagai penjaga akhlak dan penjaga arah.

Merendahkan ulama berarti membiarkan bangsa berjalan tanpa kompas. Meminggirkan pesantren berarti membiarkan generasi tumbuh tanpa akar.

Pengakuan Negara: Simbolik, Tapi Belum Sistemik

Pengakuan terhadap peran ulama dan pesantren memang telah diberikan melalui penetapan Hari Santri Nasional (22 Oktober) dan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Zainal Musthafa, dan KH Wahid Hasyim. Namun pengakuan simbolik belum cukup.

Yang dibutuhkan adalah pengarusutamaan peran ulama dan pesantren dalam kebijakan pendidikan, pembangunan, dan kebudayaan nasional. Pesantren harus dilihat sebagai mitra strategis negara, bukan sekadar pelengkap atau warisan masa lalu.

Penutup: Jangan Lupa pada Penjaga Kemerdekaan

Bangsa yang lupa pada penjaganya akan kehilangan arah. Ulama dan pesantren bukan pelengkap perjuangan, tetapi pilar utama yang menopang kemerdekaan dengan darah, ilmu, dan doa. Dalam konteks kontemporer, mereka tetap relevan sebagai benteng moral dan pusat pendidikan karakter bangsa.

Jika kemerdekaan adalah bangunan, maka ulama adalah pondasinya dan pasantren adalah tiangnya. Merendahkan mereka berarti meruntuhkan rumah Indonesia.

*Penulis adalah Ketua Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Samora.
Tags: ArtikelOpini
ShareTweetPin

Related Posts

PRABOWONOMICS: Jalan Pulang Negara kepada Rakyat

by Redaksi
26/07/2026
0

...

Gejolak Republik yang Menggelitik: SDA Dikuasai Oligarki, Gerakan Terbelah, dan Konflik Diproduksi Algoritma

by Redaksi
20/06/2026
0

...

GKB NU: Pemimpin Baru dengan Tantangan Baru

by Redaksi
17/06/2026
0

...

Pledoi untuk Seorang Kawan: Membela Budiman dari Pinggiran Kota

by Redaksi
16/06/2026
0

...

Fenomena Cawe-cawe Politik di Siantar: Krisis Demokrasi Lokal dan Peran Rakyat

by Redaksi
10/06/2026
0

...

FASI XIII Sumut: Qur’ani, Kebangsaan, dan Jejak Kontribusi Lintas Agama dalam Peradaban Islam

by Redaksi
06/06/2026
0

...

Ketika Pintu Kompetisi Menyempit: Akar Rumput dan Kontestasi Ketua NU Simalungun

by Redaksi
20/05/2026
0

...

Musda KNPI Siantar Sudah Final, Legitimasi Kepemimpinan Adalah Arif Harahap

by Redaksi
16/05/2026
0

...

Musda KNPI, Krisis Demokrasi Lokal, dan Tanggung Jawab Sejarah

by Redaksi
12/05/2026
0

...

May Day, Dari Refleksi Jadi Sekedar Seremoni

by Redaksi
02/05/2026
0

...

Terkini...

KNPI Pematangsiantar Apresiasi dan Dukung Penuh Gelaran Road Race Wali Kota Cup

10/09/2026

Tim Sidak Harga Pangan dan Pengendalian Inflasi Kunjungi Pasar dan Peternak

31/08/2026
Walikota Pematangsiantar Wesly Silalahi, dan Pimpinan PT Unitwin Indonesia Dr H Rahmat Shah.

Kerja Sama Pengelolaan Taman Hewan Siantar Diperpanjang 30 Tahun

31/08/2026

Pemko Siantar Terima Penghargaan dari OJK

30/08/2026

Pemko Siantar Teken Perjanjian Kerja Sama Percepatan Pendaftaran Tanah Wakaf

29/08/2026

PPATK Temukan 1.885 Rekening Penerima Bansos di Siantar Terindikasi Judol

29/08/2026

Walikota Terima Kunjungan Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Medan Area

26/08/2026

PKK Siantar Gelar Pembinaan dan Pencegahan Narkoba bagi Anak Remaja

26/08/2026

Wesly Tekankan Aspek Ketersediaan Kebutuhan Pokok Demi Kendalikan Inflasi

26/08/2026

Damkar Siantar Padamkan Kebakaran Hebat di Jalan Bandung

25/08/2026
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi

© 2019 isiantar.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil

© 2019 isiantar.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In