Informasi Terpercaya
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi
Minggu, April 19, 2026
  • Login
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
Informasi Terpercaya
No Result
View All Result

Ulama dan Pesantren: Pilar Kemerdekaan yang Tak Layak Direndahkan

by Redaksi
21/10/2025
in Opini
0
Share on FacebookShare on Twitter
Oleh: Imran Simanjuntak

Dalam narasi besar perjuangan kemerdekaan Indonesia, nama-nama tokoh militer dan politisi sering kali mendominasi ruang publik. Namun, ada satu lapisan sejarah yang kerap terabaikan: peran ulama dan pesantren. Padahal, kemerdekaan Indonesia bukan hanya hasil diplomasi dan senjata, tetapi juga buah dari sujud panjang, fatwa jihad, dan pendidikan karakter yang ditanamkan di pesantren-pesantren seluruh Nusantara.

Tulisan ini mengangkat kembali peran strategis ulama dan pesantren dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia, dengan fokus pada tokoh KH Hasyim Asy’ari dan peristiwa Resolusi Jihad, serta implikasinya terhadap posisi pesantren dalam pembangunan nasional hari ini.

Resolusi Jihad: Fatwa yang Menggerakkan Revolusi

Pada 22 Oktober 1945, KH Hasyim Asy’ari bersama para ulama Nahdlatul Ulama mengeluarkan Resolusi Jihad. Fatwa ini menyatakan bahwa membela tanah air dari penjajah adalah fardhu ‘ain bagi setiap Muslim yang berada dalam radius 94 km dari medan perang. Resolusi ini bukan sekadar dokumen keagamaan, tetapi manifesto politik dan militer yang menggerakkan ribuan santri dan rakyat untuk angkat senjata melawan pasukan Sekutu dan NICA.

Peristiwa ini menjadi pemicu pertempuran heroik 10 November 1945 di Surabaya, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan. Tanpa Resolusi Jihad, Surabaya mungkin jatuh. Tanpa ulama, kemerdekaan mungkin tinggal wacana.

Pesantren: Basis Perlawanan dan Pendidikan Karakter

Pesantren seperti Tebuireng, Lirboyo, Langitan, dan Gontor bukan hanya tempat belajar fiqh dan tauhid. Ia adalah benteng perlawanan, tempat para santri dilatih bukan hanya dalam ilmu agama, tetapi juga dalam strategi perjuangan dan semangat kebangsaan.

KH Zainal Musthafa dari Tasikmalaya, misalnya, memimpin perlawanan bersenjata melawan Jepang dan gugur sebagai syuhada. KH Wahid Hasyim, putra KH Hasyim Asy’ari, menjadi Menteri Agama pertama RI dan perumus dasar negara yang mengakomodasi nilai-nilai Islam dalam Pancasila.

Pesantren adalah laboratorium karakter bangsa. Di sana, nilai-nilai kejujuran, keberanian, dan gotong royong ditanamkan sejak dini. Maka meminggirkan pesantren hari ini, sama saja dengan merobohkan tiang rumah Indonesia.

Ulama: Kompas Moral Bangsa

Ulama seperti Syekhona Kholil Bangkalan, KH Wahid Hasyim, dan KH Wahab Chasbullah  dll bukan penghalang modernitas. Mereka adalah kompas moral di tengah badai zaman. Ketika bangsa ini bingung antara ideologi dan identitas, ulama hadir sebagai penjaga akhlak dan penjaga arah.

Merendahkan ulama berarti membiarkan bangsa berjalan tanpa kompas. Meminggirkan pesantren berarti membiarkan generasi tumbuh tanpa akar.

Pengakuan Negara: Simbolik, Tapi Belum Sistemik

Pengakuan terhadap peran ulama dan pesantren memang telah diberikan melalui penetapan Hari Santri Nasional (22 Oktober) dan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Dahlan, KH Zainal Musthafa, dan KH Wahid Hasyim. Namun pengakuan simbolik belum cukup.

Yang dibutuhkan adalah pengarusutamaan peran ulama dan pesantren dalam kebijakan pendidikan, pembangunan, dan kebudayaan nasional. Pesantren harus dilihat sebagai mitra strategis negara, bukan sekadar pelengkap atau warisan masa lalu.

Penutup: Jangan Lupa pada Penjaga Kemerdekaan

Bangsa yang lupa pada penjaganya akan kehilangan arah. Ulama dan pesantren bukan pelengkap perjuangan, tetapi pilar utama yang menopang kemerdekaan dengan darah, ilmu, dan doa. Dalam konteks kontemporer, mereka tetap relevan sebagai benteng moral dan pusat pendidikan karakter bangsa.

Jika kemerdekaan adalah bangunan, maka ulama adalah pondasinya dan pasantren adalah tiangnya. Merendahkan mereka berarti meruntuhkan rumah Indonesia.

*Penulis adalah Ketua Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Samora.
Tags: ArtikelOpini
ShareTweetPin

Related Posts

Kementerian Agama Sebagai Penjaga Harmoni dan Moralitas Bangsa

by Redaksi
02/01/2026
0

...

Ternyata sejak Awal, Wesly khianati Rakyat Siantar

by Redaksi
30/12/2025
0

...

Refleksi Hari Guru Indonesia: Paradoks Pendidik

by Redaksi
25/11/2025
0

...

Pahlawan yang Hilang di “Negeri Korup”: Refleksi Hari Pahlawan dan Penistaan Nilai-Nilai Ketuhanan

by Redaksi
10/11/2025
0

...

MBG, UMKM, dan Dosen Kopertais: Belanja Sosial yang Melupakan Investasi Akal

by Redaksi
07/11/2025
0

...

Antara TPL, Masyarakat Toba yang terluka dalam perspektif Maqashid Syariah

by Redaksi
31/10/2025
0

...

Kereta Cepat Whoosh: Ketika Kecepatan Menabrak Nurani

by Redaksi
27/10/2025
0

...

Refleksi: Komite Madrasah, Pelita di Tengah Kabut

by Redaksi
15/10/2025
0

...

Royalti Lagu Bisa Jadi Untung Besar Bagi Pengusaha Hotel dan Resto

by Redaksi
17/08/2025
0

...

Sisa Anggaran Rp130 M: Antiklimaks Upaya Hiperbola WTP Simalungun?

by Redaksi
13/10/2024
0

...

Terkini...

Paskah Universitas Nommensen Siantar: Menjadi Ciptaan Baru Melalui Semangat Pro Deo et Patria yang Berdampak

19/04/2026
Gedung PDAM Tirtauli di Jalan Porsea No. 2, Pematangsiantar.

Kepada Pansus LKPJ, Tirta Uli Sampaikan Telah Laksanakan Semua Rekomendasi Komisi II

19/04/2026

Pemko Siantar Gelar Pagelaran Seni Budaya Multi Etnis

19/04/2026

Sengketa Lahan dengan Detis Sari Indah, SMAN 5 Siantar akan Direlokasi

16/04/2026

Walikota Siantar Hadiri Pencanangan Kolaborasi Multipihak untuk Peningkatan Literasi dan Numerasi Nasional

16/04/2026

Perumda Tirta Uli Kembali Raih Sederet Penghargaan di Ajang TOP BUMD Awards 2026

16/04/2026

Puncak HUT Siantar akan Dimeriahkan Karnaval

15/04/2026

Pemko Siantar Luncurkan 22 Ribu Paket Bantuan Pangan untuk Warga Miskin

08/04/2026

Walikota Siantar Hadiri Paskah GPIB Maranatha

05/04/2026

Bertemu Luhut, Bupati Anton: AI adalah kunci tingkatkan produksi, efisiensi, dan kualitas pertanian

04/04/2026
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi

© 2019 isiantar.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil

© 2019 isiantar.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In