Informasi Terpercaya
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi
Senin, Desember 8, 2025
  • Login
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
Informasi Terpercaya
No Result
View All Result

Pahlawan yang Hilang di “Negeri Korup”: Refleksi Hari Pahlawan dan Penistaan Nilai-Nilai Ketuhanan

by Redaksi
10/11/2025
in Opini
0
Share on FacebookShare on Twitter
Oleh: Imran Simanjuntak
Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI SAMORA)

Setiap 10 November, bangsa ini mengenang para pahlawan. Mereka yang gugur demi kemerdekaan, keadilan, dan harga diri. Namun di tengah seremoni dan pidato, kita harus berani menatap wajah Indonesia hari ini—wajah yang dirundung korupsi, penistaan nilai, dan pembungkaman nurani. Di negeri yang mengaku religius, korupsi bukan lagi insiden, tapi sistem. Tauhid bukan lagi pembebasan, tapi alat domestikasi. Dan masyarakat bukan lagi pelaku perubahan, tapi korban pola yang dijinakkan.

Korupsi yang Tersentralisasi

Selama satu dekade terakhir, kita menyaksikan bagaimana korupsi bergeser dari pelanggaran individu menjadi pola sistemik. Sejumlah menteri, wakil menteri, gubernur, dan pejabat strategis terjerat kasus korupsi dengan dugaan kerugian negara mencapai ratusan triliun rupiah. Lebih mengkhawatirkan, dalam pembelaan mereka, nama  mantan presiden Jokowi kerap disebut sebagai bingkai kekuasaan. Proyek-proyek korup disebut sebagai “program prioritas nasional”, “arahan strategis”, atau “komitmen politik pusat”.

Ketika nama mantan presiden  Jokowi dijadikan bingkai sentralistik,  maka korupsi bukan lagi hanya pelanggaran hukum—ia adalah pengkhianatan terhadap rakyat dan penistaan terhadap nilai kepemimpinan. Sistem ini tidak hanya kejahatan pelaku, tapi bisa jadi strategi membentuk ekosistem loyalitas, pembiaran, dan pembungkaman. Bahkan penyanderaan.

Tauhid yang Menjadi Pergeseran Nilai

Tauhid adalah deklarasi bahwa hanya Tuhan yang layak ditaati dan ditakuti. Ia adalah fondasi pembebasan dari penghambaan kepada sesama manusia. Dalam sejarah Islam, tauhid adalah revolusi spiritual dan sosial—mengangkat martabat manusia, menolak tirani, dan menuntut kejujuran.

Namun kini, tauhid direduksi menjadi slogan. Ia dijadikan alat penjinakan, bukan pembebasan. Pejabat korup membungkus kejahatannya dengan retorika religius. Pembangunan rumah rumah ibada di suplay dibangun dari uang hasil korupsi sebagai sebagai perwujudan individu sosial religius. Ayat suci dikutip untuk membenarkan kekuasaan. Masyarakat miskin diajarkan untuk “bersabar” terhadap ketidakadilan, bukan untuk melawannya.

Tauhid yang seharusnya membebaskan—bahwa hanya Tuhan yang layak ditaati—berubah menjadi alat domestikasi. Rakyat diajarkan untuk sabar, bukan untuk kritis. Untuk pasrah, bukan untuk bertindak. Tuhan dijadikan tameng, bukan cahaya.

Masyarakat yang Terpola

Salah satu warisan sosial dari kepemimpinan nasional adalah terbentuknya masyarakat yang terpola dalam dua kutub:
1. Mereka yang miskin dan terpinggirkan, yang diajarkan untuk bersabar dan tidak melawan.
2. Mereka yang membela koruptor karena dianggap “berjasa” membangun fasilitas atau memberi bantuan.

Survei SMRC (2023) menunjukkan bahwa 42% masyarakat menganggap korupsi “tidak terlalu berdampak” pada kehidupan mereka. Ini menunjukkan normalisasi korupsi sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari. Di sisi lain, studi PPIM UIN Jakarta menemukan bahwa masyarakat miskin cenderung menerima ketidakadilan sebagai “takdir Tuhan”, bukan sebagai masalah struktural.

Dalam sistem seperti ini, koruptor bisa menjadi pahlawan lokal, sementara pahlawan sejati—yang jujur dan adil—justru dianggap tidak efektif. Ini adalah distorsi moral yang berbahaya.

*

Siapa Pahlawan Sejati?

Di tengah sistem yang korup, pahlawan sejati bukanlah mereka yang dielu-elukan di podium. Mereka tidak punya pangkat, tidak punya panggung, dan tidak punya perlindungan politik. Tapi mereka punya nurani. Mereka punya keberanian. Mereka punya tauhid yang hidup.

– Guru honorer yang tetap mengajar meski digaji rendah dan tidak diakui statusnya. Mereka tidak menjilat, meski sistem menindas. Mereka adalah pahlawan pendidikan yang menjaga martabat bangsa dari dalam kelas yang bocor dan papan tulis yang usang.

– Aktivis yang dibungkam, yang bersuara ketika yang lain memilih aman. Mereka mengkritik proyek negara yang merusak lingkungan, menolak revisi UU yang melemahkan KPK, dan membela hak-hak rakyat kecil. Mereka adalah pahlawan nurani yang menjaga suara rakyat tetap hidup.

– Ulama  Tokoh Agama yang menolak menjual ayat, yang tidak tunduk pada proyek pembangunan rumaj ibadah dari dana hasil korupsi. Mereka mengajarkan tauhid sebagai pembebasan, bukan penjinakan. Mereka adalah pahlawan spiritual yang menjaga kemurnian agama dari pencemaran politik.

– Rakyat kecil yang tetap sabar, bukan sabar yang pasrah, tapi sabar yang bermartabat. Mereka tetap jujur dalam berdagang, tetap bersih dalam bekerja, dan tetap berdoa dalam kesulitan. Mereka adalah pahlawan kehidupan yang menjaga nilai di tengah badai.

Penutup: Hari Pahlawan Bukan Milik Negara

Hari Pahlawan bukan milik mereka yang berpidato di podium. Ia milik mereka yang tetap jujur meski tak terlihat. Tetap adil meski tak dipuji. Tetap sabar meski tak dibela. Karena pahlawan sejati tidak butuh pangkat. Mereka hanya butuh keberanian untuk hidup dalam nilai.

Bangsa yang kehilangan pahlawan moral akan mudah dipimpin oleh penipu yang berseragam. Dan bangsa yang menistakan Tuhan akan kehilangan arah meski jalannya diaspal mulus.

Tags: Imran SimanjuntakNasionalismeOpini
ShareTweetPin

Related Posts

Tauhid Ekologis: Membaca Bencana Nusantara dan Pelajaran dari Dunia

by Redaksi
05/12/2025
0

...

Sambut Natal, Tirta Uli Beri Tali Asih kepada Jemaat Kurang Mampu

by Redaksi
03/12/2025
0

...

Refleksi Hari Guru Indonesia: Paradoks Pendidik

by Redaksi
25/11/2025
0

...

Disambut Tjhai Chui Mie, Wesly Silalahi Hadiri Konferensi Kota Toleran di Singkawang

by Redaksi
16/11/2025
0

...

MBG, UMKM, dan Dosen Kopertais: Belanja Sosial yang Melupakan Investasi Akal

by Redaksi
07/11/2025
0

...

Antara TPL, Masyarakat Toba yang terluka dalam perspektif Maqashid Syariah

by Redaksi
31/10/2025
0

...

Kereta Cepat Whoosh: Ketika Kecepatan Menabrak Nurani

by Redaksi
27/10/2025
0

...

Ulama dan Pesantren: Pilar Kemerdekaan yang Tak Layak Direndahkan

by Redaksi
21/10/2025
0

...

Walikota Siantar Melayat Uskup Emeritus Keuskupan Agung Medan Mgr Alfred Gonti Pius Datubara

by Redaksi
20/10/2025
0

...

Refleksi: Komite Madrasah, Pelita di Tengah Kabut

by Redaksi
15/10/2025
0

...

Terkini...

Tauhid Ekologis: Membaca Bencana Nusantara dan Pelajaran dari Dunia

05/12/2025

Rapat Revisi NJOP Siantar: Apapun makannya, minumnya tetap teh botol Sosro

05/12/2025

IWO Siantar Gelar Diskusi Publik dan Pelatihan Menulis di Kampus Nomensen

05/12/2025
Ilustrasi kerusakan pipa.

Perbaikan Pipa di Depan USI, Aliran Air Terganggu Sementara

03/12/2025

Sambut Natal, Tirta Uli Beri Tali Asih kepada Jemaat Kurang Mampu

03/12/2025

Walikota Siantar Supervisi Lomba Perilaku Hidup Bersih dan Sehat

30/11/2025

APBD Kota Siantar 2026 Disahkan

30/11/2025

Wesly Perintahkan Tiap Kantor Camat Aktifkan Posko Siaga Bencana

30/11/2025

Pemko Siantar Salurkan Bantuan Pangan ke Masyarakat

30/11/2025
Ilustrasi.

Perbaikan Pipa Bocor, Air Bersih ke Rambung Merah hingga Perumnas Terganggu Sementara

28/11/2025
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi

© 2019 isiantar.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil

© 2019 isiantar.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In