Simalungun — Meski Pemkab Simalungun dan Pemko Siantar mengesankan keseriusan dalam menanggulangi pandemi Covid-19, baik lewat narasi publikasi, pembatasan ruang gerak warga, pembubaran pengunjung warkop, serta pengalokasian dana dengan jumlah yang fantastis, namun keseriusan tersebut tampaknya tidak berlaku bagi salah jenis usaha yang marak dalam beberapa tahun terakhir. Adapun jenis usaha dimaksud yakni spa and massage, atau bisnis pijat lulur.
Pantauan di lapangan, hampir semua lokasi pijat lulur di kedua daerah ini tetap beroperasi normal sebagaimana sebelum wabah Corona. Hal ini jadi sorotan masyarakat. Sebab, jenis usaha yang disinyalir menjalankan praktik prostitusi terselubung ini, kini bagi sebagian warga juga mulai disyaki mengetahui cara untuk terhindar dari Corona.
“Soalnya sehat-sehat ajanya orang itu, Lae. Kan gak mungkin orang itu kusuk lulurnya pake masker dan social distancing ya kan. Itulah, amannya (sehatnya, red) orang itu sampai sekarang,” ujar seorang warga yang ditemui di kompleks ruko di Jalan Asahan, Kabupaten Simalungun, kompleks dimana terdapat sejumlah tempat usaha pijat lulur, Sabtu (9/5).
Di Siantar, hampir seluruh tempat pijat lulur yang juga selama ini diduga menjalankan bisnis prostitusi terselubung seperti yang ada di kompleks KDS Jalan Kartini, kompleks Megaland, Tanjung Piggir dan di beberapa tempat lainnya, juga terpantau beroperasi normal sebagaimana saat sebelum pemerintah mengumumkan pandemi Covid-19.
Soal dugaan praktik prostitusi terselubung pada jenis bisnis ini, bisnis yang memasang plang usaha pijat kesehatan berupa jasa kusuk dan lulur namun plang tersebut diduga hanya modus untuk menutupi praktik yang sebenarnya yakni bisnis prostitusi, dibenarkan oleh sejumlah narasumber.
“Udah rahasia umumnya ini, Lae, masa Lae gak tahu. Kalau orang badannya yang sakit pasti udah tahulah mau kusuk kemana, ke tukang kusuk betulan lah, yang ke sini kan bukan yang badannya yang sakit itu, Lae,” ucap salah satu sumber di warung kopi dekat salah satu tempat pijat lulur di Siantar.
“Tapi memang harus dipastikan walikota dululah mereka pakai masker dan social distancing juga apa nggak, bah. Jangan kita aja yang diusir-usir Satpol disuruh bubar. Walikota pastikan dululah sama kita mereka pakai masker dan social distancing juga.
Atau kalau memang adanya ditahu mereka triknya biar gak kena Covid ya kan, biar tahu juga kita,” pinta sumber mengakhiri. [**]




















