isiantar.com – Untuk kesekian kalinya pengerjaan proyek yang tanpa terlebih dahulu berkoordinasi dengan pihak PDAM Tirtauli telah mengakibatkan kerusakan parah pada pipa distribusi air. Tak tanggung-tanggung, kerusakannya kali ini membuat aliran air sudah mati total selama dua hari.
Situasi yang buruk itu terjadi di Parluasan, persisnya di Jalan Gotong Royong simpang Jalan Persatuan, Kelurahan Kahean, Kota Pematangsiantar.
Pantauan wartawan, Rabu sore (10/10/2018), petugas teknis PDAM Tirtauli telah turun ke lokasi untuk mencari titik kerusakannya. Namun mereka tampak kesulitan karena genangan air bercampur lumpur dan sampah di lokasi proyek tersebut sudah menggenang cukup tinggi.
Managemen PDAM Tirtauli yang dikonfirmasi mengakui kesulitan untuk bisa melakukan perbaikan secepatnya. “Mungkin besok siang baru bisa kami mulai perbaikan, Bang. Karena tampaknya kami butuh excavator untuk memperbaikinya,” jawab Kabag Humas PDAM Tirtauli, Ikhwan Lubis, saat dikonfirmasi lewat saluran telepon pada Rabu Malam.
Ikhwan mengatakan pihak pemborong proyek sama sekali tidak pernah berkoordinasi dengan pihaknya. Ia menyayangkan hal itu namun akan lebih fokus untuk memastikan warga tetap mendapatkan layanan air bersih. “Besok kami akan mengoperasikan mobil tangki distribusi langsung ke rumah-rumah warga sembari petugas teknis melakukan perbaikan,” ujar Ikhwan.
Warga Minta Walikota Tegur Kadis Pemilik Proyek
Kerusakan pipa air akibat proyek yang dikerjakan tanpa koordinasi, sudah cukup sering terjadi di Siantar.
“Kalau gini terus, konyol namanya. Setiap yang ini dibangun, yang ini rusak. Yang ini dibangun, yang ini rusak. Ini kayak komedi jadinya, Bang,” ungkap Berto, salah seorang warga Parluasan yang ikut merasakan dampak matinya aliran air PDAM yang sudah dua hari itu. Berto mangatakan, ia merasa menderita.
Menurut pria yang berstatus sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta ini, walikota seharusnya sudah memberi teguran keras kepada kepada dinas yang mengelola proyek tersebut.
“Ya kadisnya dievaluasilah, ditegur. Masa di Siantar ini kejadiannya gini terus. Pemborongnya pun dikasilah sanksinya, masa mau untungnya aja dia tapi kami yang jadinya mau mandi pun susah,” kata Berto mengahiri. [nda]




















