Siantar — Plt Walikota Susanti Dewayani diminta segera meluruskan secara transparan perihal polemik pembagian uang insentif Covid di RSUD Djasamen Saragih.
Informasi dihimpun, polemik ini bermula dari dikucurkannya dana miliaran rupiah untuk Insentif Tenaga Kesehatan yang Menangani Covid-19 untuk tahun 2021 lalu, oleh pemerintah pusat.
Yang terjadi kemudian, menurut sejumlah pegawai RSUD Djasamen Saragih yang non PNS, pembagian dana insentif tersebut tidak adil sebab ada yang tidak terlibat menangani Covid-19 justru mendapat uang insentif yang lebih besar ketimbang mereka yang berhubungan langsung dengan pasien-pasien Covid-19.
“Waktu pandemi kemarin rata-rata mereka (pegawai PNS, red) tidak mau ikut dalam tim penanggulangan Covid. Mungkin karena mereka PNS, jadi takut mati. Kami pun takutnya mati, tapi karena cuma pegawai biasa, ya kami tidak berani menolak masuk tim.
Waktu itu, maunya dalam sebulan kami cuma bisa tiga kali aja ketemu sama keluarga. Karena kami harus terus nangani pasien, sering bolak-balik ke Medan ngantar pasien, terus kami takut juga pulang ke rumah karena takut nanti keluarga jadi terpapar.
Tapi gitu udah ada turun dana insentif, koq jadi mereka pula yang dapat lebih besar padahal mereka tidak ikut kerja, mereka di rumahnya ajanya.” Demikian diterangkan salah seorang pegawai honor di RSUD Djasamen Saragih yang tidak ingin diungkap namanya, Jumat 1 Juli 2022 lalu.
Menurut sejumlah pegawai honor lainnya, insentif dari Kemenkes tersebut sebenarnya telah diatur untuk dioptimalkan kepada mereka yang lebih tinggi risiko paparannya dalam menangani pasien Covid. Seperti kepada para dokter dan kepada mereka para pegawai honor yang berhubungan langsung dengan pasien-pasien Covid selama pandemi.
Penelusuran isiantar.com atas polemik ini, menemukan informasi bahwasanya polemik ini telah diketahui dan ditangani oleh Susanti Dewayani. “Udah taunya Ibu Wali soal itu, Bang, marah kali Bu Wali,” ungkap seorang sumber di Pemko Siantar, di akhir Juli lalu. Namun, Susanti Dewayani yang dikonfirmasi lewat pesan teks tentang polemik ini, belum juga memberi tanggapan.
Sementara para pegawai honor sangat berharap persoalan ini segera diluruskan secara transparan. Sebab mereka mengakui pengalaman mereka selama berbulan-bulan berhubungan langsung dengan pasien Covid, telah membuat hal ini sangat menyakiti hati mereka. [nda]




















