Siantar — Walikota Pematangsiantar, dr Susanti Dewayani SpA, dinilai patut untuk segera melakukan evaluasi terhadap seluruh Camat. Hal ini penting dilakukan, demi keberlangsungan program yang diusung Susanti, juga demi kemajuan kota Pematangsiantar.
Salah satu alasan pentingnya mengevaluasi camat ialah tidak konsistennya pelaksanaan program Lihat Sampah Ambil dan Pilah (Lisapil) di tingkat kecamatan. Padahal, program ini merupakan program unggulan kepemimpinan Susanti, yang diyakini bisa memberi manfaat pada banyak aspek kehidupan masyarakat.
Berdasarkan pantauan di lapangan, program Lisapil sama sekali tidak berjalan jika tanpa kehadiran Susanti. Komitmen para camat menjadikan program ini sebagai rutinitas, bahkan menjadikannya bagian karakter para pegawai di kecamatan, tampaknya hanya bualan di hadapan walikota belaka.
Hasil pemantauan ini dibenarkan sejumlah masyarakat yang diwawancarai. Menurut mereka, program Lisapil hanya pernah terlihat dilakukan secara masif sebanyak satu kali, sekitar pertengahan tahun 2023 yang lalu. Setelah itu, kegiatan bersih-bersih lingkungan oleh pihak kecamatan, sama sekali tak pernah terlihat lagi.
“Cuma sekali itu aja waktu yang rame-rame itu, yang katanya ada ikut walikota, habis itu gak pernah lagi. Entahlah kalau pas lagi tak terlihatku, ya,” kata seorang warga bermarga Siahaan yang ditemui di Jalan Bah Birong, Siantar Utara, pada Selasa (27/4/2024), yang bahkan mengakui bahwa ia tak lagi mengetahui siapa nama camatnya saat ini.
Tidak diketahuinya siapa pejabat camat oleh para warganya, kini banyak ditemukan di Pematangsiantar. Hal ini turut mengindikasikan para camat masih gagal menjalankan tupoksi dengan baik. Sehingga, sangat sedikit masyarakat yang mengetahui siapa pejabat camatnya.
Selain itu, evaluasi seluruh camat juga perlu secepatnya dilakukan merujuk pada masih rendahnya kemampuan para camat meningkatkan potensi ekonomi pada tiap-tiap kecamatan. Yang mana hal ini membuat harapan percepatan pembangunan kota ini, menjadi jauh panggang dari api. (nda)
Baca juga:
Habiskan Miliaran, Taman Kehati Malah Mirip Tempat ‘Uka-Uka’




















