Siantar — Setelah sempat terperosok jauh dari predikat yang lama dibangga-banggakan masyarakatnya, kini kota Pematangsiantar akhirnya berhasil meraih kembali predikatnya sebagai Kota Toleran.
Berdasarkan Indeks Kota Toleran (IKT) 2024 yang diterbitkan SETARA Institute, dinyatakan bahwa, di tahun 2024 Kota Pematangsiantar naik peringkat dari peringkat 11 menjadi peringkat 5 sebagai Kota Toleran di Indonesia.
Ketua Badan Pengurus SETARA Institute, Ismail Hasani, mengatakan, sejak awal diluncurkan beberapa tahun yang lalu, IKT telah mendapat sambutan luar biasa dari kepala-kepala daerah di Indonesia. Para kepala daerah yang indeksnya rendah, termasuk Siantar, terlihat berbenah untuk memperbaikinya.
“Dari yang awalnya dicaci maki kota intoleran, kemudian bergerak, mulai dari keluar zona merah dan seterusnya,” ungkap Ismail dalam Peluncuran Indeks Kota Toleran (IKT) 2024, di Hotel Bidakara, Jakarta Selatan, Selasa siang (27/5/2025) siang.
SETARA Institute kata Ismail akan terus melaksanakan IKT sebab telah menjadi kebutuhan bangsa Indonesia.
“Saya kira komitmen kami apapun yang terjadi indeks kota toleran akan terus kita susun, kita kerjakan. Karena dia bukan lagi kebutuhan SETARA, tapi kebutuhan republik. Saya membayangkan apabila kinerja bapak-ibu tidak ada yang mengapresiasi, tidak ada yang mengingatkan, tentu ini adalah persoalan serius bagi tata kelola pemerintahan,” terangnya.
Wesly Silalahi selaku Walikota Pematangsiantar menghadiri dan menerima langsung penyerahan penghargaan sebagai Kota Toleran ini.
Adapun 10 peringkat terbaik kota toleran berdasarkan IKT SETARA Institute yakni yang pertama kota Salatiga (skor 6,544), Singkawang (6,420), Semarang (6,356), Magelang (6,248), dan Pematangsiantar (6,115), Sukabumi (5,968), Bekasi (5,939), Kediri (5,925) Manado (5,912), dan Kupang (5,853).
Usai menerima penghargaan Wesly Silalahi mengucapkan terima kasih kepada SETARA Institute. Penghargaan tersebut merupakan kehormatan besar bagi Kota Pematangsiantar, dan menjadi bukti usaha dan kerja keras serta komitmen dalam membangun toleransi dan kerukunan di kota ini.
“Penghargaan ini bukan hanya milik pemerintah, tetapi milik seluruh masyarakat Pematangsiantar,” katanya.
Ucapan terima kasih juga disampaikan Wesly kepada seluruh jajaran Pemko dan masyarakat Kota Pematangsiantar yang selama ini telah turut menjaga dan merawan toleransi. Apalagi Pematangsiantar termasuk kota majemuk, baik agama, suku, dan adat istiadat.
“Naik peringkat dari 11 ke peringkat 5 ini sudah sangat bagus. Apalagi sebelumnya Pematangsiantar pernah berada di peringkat 51 dan 31, hingga kemudian naik ke peringkat 11, dan kini di peringkat 5,” imbuhnya.
Turut mendampingi Wesly dalam menghadiri acar SETARA Institute ini perwakilan dari Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Pematangsiantar, Pdt Dr Ardenias Tarigan, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Pematangsiantar, Ali Akbar, Sekretaris Kesbangpol, Ari Kalpika, dan Kabag Umum Setdako Lahiri Amri Ghoniyu Hasibuan. (PR/nda)




















