Siantar — Selayaknya manusia, tiap kota memiliki ciri khas masing-masing. Ada yang dikenal karena tambangnya, ada yang keindahan alamnya, dan ada yang dikenal karena unik budayanya. Dan selayaknya manusia, keinginan punya citra yang dikenali luas juga ada pada setiap kota. Demikian juga dengan kota Pematang Siantar.
Secara alami, sesungguhnya, Siantar sudah lama tumbuh jadi kota harmonis dalam keberagaman. Itu sebuah citra yang mahal, mewah. Sebab, perlu dicatat, sesungguhnya itu adalah cita-cita bernegara. Bahkan, cita-cita hampir semua negara.
Maka tak heran, jika beberapa tahun lalu banyak yang sedih dan kecewa saat Siantar secara cepat hilang dari radar toleran. Sebelumnya di tiap indeks yang diterbitkan Setara Institute, Siantar adalah peringkat pertama. Tapi kemudian, pernah, secara tiba-tiba, dalam sepuluh besar pun sudah tak ada.
Bagi yang paham social engineering kejadian itu menyerupai malapetaka: citra yang mahal dan mewah hilang seketika, marwah sudah tak ada, sementara jika ingin memperbaikinya, duh ini soal menavigasi pikiran ratusan ribu manusia. Apalagi, konon katanya, kota ini pun sudah berubah menjadi kota para ketua, idiom terendah dalam peradaban manusia.
Maka kini tidaklah perlu heran bila pada pencapaian terbaru yaitu Siantar telah kembali deret puncak Kota Toleran, dirasa perlu untuk dirayakan. Sebab di Indeks Kota Toleran (IKT) 2025, Siantar dinyatakan sudah sampai di peringkat keempat. Sebuah pencapaian yang di kondisi tahun 2020 lalu dianggap sudah tak mungkin lagi bisa didapat.
“Tidaklah mudah meraih peringkat 4 Indeks Kota Toleran. Namun prestasi tersebut telah diraih Kota Pematangsiantar, tentunya berkat kerja sama berbagai elemen”. Demikian kata Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPD Perwakilan Umat Buddha Indonesia (Walubi) Kota Pematangsiantar, Chandra Yau, merespons pencapaian luar biasa ini, Kamis (23/4/2026).
Pencapaian ini kata Chandra Yau menunjukkan Pemko bersama masyarakat kini serius menjaga keharmonisan dalam kemajemukan. Dan pencapaian ini bukanlah hal yang mudah, sebab semua daerah berlomba untuk mencapai kebanggaan yang sama.
Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Drs HM Ali Lubis, mengucap syukur atas prestasi Kota Pematangsiantar dalam indeks dari Setara Institute ini.
“Alhamdulillah, saya sudah dapat informasi Kota Pematangsiantar mendapat peringkat empat Kota Toleransi se-Indonesia. Kita naik peringkat dari sebelumnya di peringkat lima. Mudah-mudahan kita di Pematangsiantar ini semakin rukun,” kata ketua FKUB yang sekaligus Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pematangsiantar ini, pada Rabu malam (22/4/2026).
Ali juga berharap ke depan seluruh pihak tetap bersama-sama menjaga kerukunan. Agar peringkat Kota Toleran bisa terus naik.
“Mudah-mudahan ke depan bisa mendapat juara 3, juara 2, dan akhirnya (kembali) juara 1,” harap Ali.
Secara khusus, Walubi kata Chandra Yau, memberikan apresiasi kepada Walikota Wesly Silalahi, dan juga kepada seluruh lapisan masyarakat, atas pencapaian ini.
Apresiasi senada juga disampaikan Drs HM Ali Lubis. Dimana menurutnya, pencapaian ini merupakan prestasi dari hasil kerja keras Wesly Silalahi, bersama jajaran bersama Unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), dan tentunya bersama-sama dengan masyarakat, dalam menjaga dan merawat toleransi. (nda)




















