isiantar.com – Tentu tidak ada yang ingin menjadi pembohong; sebagaimana harapan saat kita masih kecil, kita ingin menjadi orang yang jujur, paling jujur, mungkin….
Dan menjadi sebebal apapun kita kemudian (lagi-lagi mungkin) dibentuk oleh keadaan, harapan di masa kecil tuk menjadi orang yang jujur itu kan tetap melekat di pikiran bawah sadar. Selalu ada saat-saat dimana ia ingin mencuat kepermukaan ingin, menguasai kita.
Namun, setelah menjadi orang yang sejujur apapun kita, ternyata ada fase-fase dimana kita harus mencurigai ‘kejujuran’ kita itu. Benarkah kita sudah jujur dalam ‘kejujuran’ kita itu? Atau jangan-jangan, malah kita sudah sedang ikut membohongi diri kita sendiri tanpa kita sadari.
Singkatnya, berikut adalah beberapa contoh kalimat yang sehari-hari sering kita ucapkan atas nama kejujuran, namun harus kita curigai.
#1. Saya tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.
Dari hasil beberapa eksperimen psikologi, ternyata kita tak bisa diandalkan untuk dipercaya perihal bagaimana sikap kita nanti jika berhadapan dengan situasi-situasi yang belum kita alami. Sekalipun sudah ada semacam sistem keyakinan di diri kita yang memberi petunjuk bagaimana menyikapi situasi-situasi tersebut.
Sebab hasil dari rangkaian eksperimen yang berlanjut secara bertahap itu, banyak partisipan justru bertindak berbeda dengan apa yang ia klaim sebelumnya.
Misalnya ketika menjawab bagaimana ia akan menghadapi sejenis godaan — dan kemudian akhirnya benar-benar berhadapan dengan godaan tersebut — si partisipan justru merespon dengan cara yang paling ‘buruk’ untuk menyikapinya. Dalam arti berbanding terbalik dengan klaim dia di awal.
Sedikit catatan dari eksperimen ini, ketika kondisi pikiran kita sedang tenang, nyaman, kita akan mudah memberi jawaban-jawaban yang rasional yang meyakinkan tentang bagaimana kita akan bersikap untuk berbagai hal. Namun sikap nyata kita di saat benar-benar mengalami situasi itu, selalu berpotensi untuk berbeda.
Kondisi pikiran kita memang tentu tidak mungkin bisa sama persis seperti saat kita cuma sekedar memberi jawaban rasional sesuai prinsip kita. Sikap kemudian sangat-sangat mungkin untuk berbeda bahkan bisa dengan kontras dengan klaim kita.
#2. Saya mengingat semua kejadiannya dengan baik/sempurna.
Kapan pun di saat kita merasa mengingat sebuah kejadian, atau peristiwa, atau yang lain-lain dengan sempurna, cobalah untuk menarik nafas panjang terlebih dahulu, sebab mungkin otak kita sedang agak berbohong kepada kita sendiri.
Karena cara kerja otak/ingatan/memori kita tidak bekerja persis seperti cara kerja alat rekam yang meng-capture peristiwa dalam gambar per-detik atau per-sekian detik pada setiap konstruksi kejadian.
Sebuah penelitian yang terkait dengan hal ini tak hanya mengukur seberapa banyak ingatan kita yang benar, dibanding ingatan yang salah. Tapi juga mengungkap bahwa ingatan bisa berubah tak lagi sesuai fakta.
Ada semacam faktor kondisi internal pun eksternal yang mempengaruhi otak kita si saat sedang bekerja mengingat sebuah kejadian — dan itu memberikan pengaruh saat otak sedang bekerja ‘menulis ulang’ kejadian tersebut. Terutama untuk hal-hal yang lebih kecil atau detail. Setidaknya, perubahan itu disebabkan karena kita tidak akan pernah sama persis seperti kita di saat peristiwa itu terjadi.
#3. Saya yakin dengan apa yang saya lihat.
Penelitian bernama Invisible Gorilla Experiment di Universitas Harvard beberapa tahun lalu membuktikan hal ini.
Dalam penelitian itu, sejumlah partisipan diminta untuk menonton sebuah video singkat berisi rekaman 6 orang (3 berbaju putih dan 3 berbaju hitam) bermain melempar bola di dalam sebuah ruangan kecil. Partisipan diminta menghitung jumlah berapa kali bola tersebut berpindah tangan dalam permainan itu.
Selesai menonton, semua partisipan menjawab dengan akurat berapa jumlah lemparan bola.
Namun, saat ditanya apakah ada diantara partisipan yang melihat adanya seorang pria memakai kostum gorilla di dalam video tersebut, semua partisipan menjawab tidak. Bahkan ketika waktu untuk menjawab pertanyaan ini diperpanjang untuk memberi kesempatan debat, hampir dipastikan, bila saja diminta, mereka akan berani bersumpah bahwa tidak ada pria berbaju gorilla di dalam video singkat tersebut.
Hingga saat kemudian video yang telah mereka tonton itu pun diputar ulang. Semua partisipan shock, mulut menganga, sebab ditengah permainan lempar bola itu kemudian tampak ada seseorang berpakaian gorilla yang masuk ke tengah-tengah diantara pemain. Pria berpakaian gorilla itu ada di sekitar 9 detik di dalam video, bahkan ia sempat mengangkat dagunya dan bertingkah ke arah kamera.
Begitulah, bahwa ketika kita sedang fokus pada sesuatu, baik atas permintaan atau keinginan diri sendiri, fokus tersebut memberi dampak terhadap visual kita. Tabik….
(obeiyel)




















