Informasi Terpercaya
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi
Jumat, Mei 8, 2026
  • Login
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
Informasi Terpercaya
No Result
View All Result

Saat Kita Berbohong pada Diri Sendiri

by Redaksi
27/02/2018
in Khas, Utama
0
Share on FacebookShare on Twitter

isiantar.com – Tentu tidak ada yang ingin menjadi pembohong; sebagaimana harapan saat kita masih kecil, kita ingin menjadi orang yang jujur, paling jujur, mungkin….

Dan menjadi sebebal apapun kita kemudian (lagi-lagi mungkin) dibentuk oleh keadaan, harapan di masa kecil tuk menjadi orang yang jujur itu kan tetap melekat di pikiran bawah sadar. Selalu ada saat-saat dimana ia ingin mencuat kepermukaan ingin, menguasai kita.

Namun, setelah menjadi orang yang sejujur apapun kita, ternyata ada fase-fase dimana kita harus mencurigai ‘kejujuran’ kita itu. Benarkah kita sudah jujur dalam ‘kejujuran’ kita itu? Atau jangan-jangan, malah kita sudah sedang ikut membohongi diri kita sendiri tanpa kita sadari.

Singkatnya, berikut adalah beberapa contoh kalimat yang sehari-hari sering kita ucapkan atas nama kejujuran, namun harus kita curigai.

#1. Saya tidak akan pernah melakukan hal seperti itu.

Dari hasil beberapa eksperimen psikologi, ternyata kita tak bisa diandalkan untuk dipercaya perihal bagaimana sikap kita nanti jika berhadapan dengan situasi-situasi yang belum kita alami. Sekalipun sudah ada semacam sistem keyakinan di diri kita yang memberi petunjuk bagaimana menyikapi situasi-situasi tersebut.

Sebab hasil dari rangkaian eksperimen yang berlanjut secara bertahap itu, banyak partisipan justru bertindak berbeda dengan apa yang ia klaim sebelumnya.

Misalnya ketika menjawab bagaimana ia akan menghadapi sejenis godaan — dan kemudian akhirnya benar-benar berhadapan dengan godaan tersebut — si partisipan justru merespon dengan cara yang paling ‘buruk’ untuk menyikapinya. Dalam arti berbanding terbalik dengan klaim dia di awal.

Sedikit catatan dari eksperimen ini, ketika kondisi pikiran kita sedang tenang, nyaman, kita akan mudah memberi jawaban-jawaban yang rasional yang meyakinkan tentang bagaimana kita akan bersikap untuk berbagai hal. Namun sikap nyata kita di saat benar-benar mengalami situasi itu, selalu berpotensi untuk berbeda.

Kondisi pikiran kita memang tentu tidak mungkin bisa sama persis seperti saat kita cuma sekedar memberi jawaban rasional sesuai prinsip kita. Sikap kemudian sangat-sangat mungkin untuk berbeda bahkan bisa dengan kontras dengan klaim kita.

#2. Saya mengingat semua kejadiannya dengan baik/sempurna.

Kapan pun di saat kita merasa mengingat sebuah kejadian, atau peristiwa, atau yang lain-lain dengan sempurna, cobalah untuk menarik nafas panjang terlebih dahulu, sebab mungkin otak kita sedang agak berbohong kepada kita sendiri.

Karena cara kerja otak/ingatan/memori kita tidak bekerja persis seperti cara kerja alat rekam yang meng-capture peristiwa dalam gambar per-detik atau per-sekian detik pada setiap konstruksi kejadian.

Sebuah penelitian yang terkait dengan hal ini tak hanya mengukur seberapa banyak ingatan kita yang benar, dibanding ingatan yang salah. Tapi juga mengungkap bahwa ingatan bisa berubah tak lagi sesuai fakta.

Ada semacam faktor kondisi internal pun eksternal yang mempengaruhi otak kita si saat sedang bekerja mengingat sebuah kejadian — dan itu memberikan pengaruh saat otak sedang bekerja ‘menulis ulang’ kejadian tersebut. Terutama untuk hal-hal yang lebih kecil atau detail. Setidaknya, perubahan itu disebabkan karena kita tidak akan pernah sama persis seperti kita di saat peristiwa itu terjadi.

#3. Saya yakin dengan apa yang saya lihat.

Penelitian bernama Invisible Gorilla Experiment di Universitas Harvard beberapa tahun lalu membuktikan hal ini.

Dalam penelitian itu, sejumlah partisipan diminta untuk menonton sebuah video singkat berisi rekaman 6 orang (3 berbaju putih dan 3 berbaju hitam) bermain melempar bola di dalam sebuah ruangan kecil. Partisipan diminta menghitung jumlah berapa kali bola tersebut berpindah tangan dalam permainan itu.

Selesai menonton, semua partisipan menjawab dengan akurat berapa jumlah lemparan bola.

Namun, saat ditanya apakah ada diantara partisipan yang melihat adanya seorang pria memakai kostum gorilla di dalam video tersebut, semua partisipan menjawab tidak. Bahkan ketika waktu untuk menjawab pertanyaan ini diperpanjang untuk memberi kesempatan debat, hampir dipastikan, bila saja diminta, mereka akan berani bersumpah bahwa tidak ada pria berbaju gorilla di dalam video singkat tersebut.

Hingga saat kemudian video yang telah mereka tonton itu pun diputar ulang. Semua partisipan shock, mulut menganga, sebab ditengah permainan lempar bola itu kemudian tampak ada seseorang berpakaian gorilla yang masuk ke tengah-tengah diantara pemain. Pria berpakaian gorilla itu ada di sekitar 9 detik di dalam video, bahkan ia sempat mengangkat dagunya dan bertingkah ke arah kamera.

Begitulah, bahwa ketika kita sedang fokus pada sesuatu, baik atas permintaan atau keinginan diri sendiri, fokus tersebut memberi dampak terhadap visual kita. Tabik….

(obeiyel)

Tags: ArtikelBerbohongkhasPikiran Bawah SadarPsikologi
Share4TweetPin

Related Posts

Kementerian Agama Sebagai Penjaga Harmoni dan Moralitas Bangsa

by Redaksi
02/01/2026
0

...

Kereta Cepat Whoosh: Ketika Kecepatan Menabrak Nurani

by Redaksi
27/10/2025
0

...

Ulama dan Pesantren: Pilar Kemerdekaan yang Tak Layak Direndahkan

by Redaksi
21/10/2025
0

...

Optimalkan Pembelajaran Psikologi, Pemko Siantar Teken Kerjasama dengan APPI Sumut

by Redaksi
18/12/2023
0

...

Perumda Tirtauli Gelar Lomba Foto dan Video, Ikut Yuk..!

by Redaksi
01/04/2021
0

...

Pemerintah Selandia Baru Sediakan Pembalut Gratis bagi Seluruh Siswi

by Redaksi
21/03/2021
0

...

LIPI: Tren Pelihara Cupang Muncul Lagi

by Redaksi
25/07/2020
0

...

Buku tafsir mimpi yang di Siantar awam disebut dengan erek-erek.

Agar Tak Jadi Legend, Poldasu Diminta Tindak Bandar Togel Berinisial RP

by Redaksi
04/07/2020
0

...

Ilmuwan telah Ciptakan “Robot Bernyawa” dari Organisme Hidup

by Redaksi
20/01/2020
0

...

Lampu Pohon Natal di Jalan Gereja Telah Kembali Menyala

by Redaksi
12/12/2019
0

...

Terkini...

Pemko Siantar Gelar MTQN ke-58 untuk Wujudkan Generasi Cinta Al-Qur’an

07/05/2026

Putra Sulung Perem Damanik Lanjutkan Kepemimpinan Perguruan Pencak Silat Teratai Kembang

07/05/2026

Panitia Paskah Pemko Siantar Bagikan Bantuan ke Panti Asuhan

07/05/2026

Tingkatkan Kualitas Hidup Anak Panti Asuhan, Pemko Siantar Teken Kerjasama dengan Sejumlah Pengelola

07/05/2026

Bawa Rp 50 Juta, Arif Harahap Resmi Mendaftar Calon Ketua KNPI

06/05/2026

Arif Harahap Siap Pimpin KNPI Siantar

03/05/2026

May Day, Dari Refleksi Jadi Sekedar Seremoni

02/05/2026

Kader Posyandu Kelurahan Sumber Jaya Ikuti Bimtek Selama Tiga Hari

30/04/2026

Apel Kesiapsiagaan Bencana 2026 Kota Siantar Digelar di Lapangan Brimob

30/04/2026

Rumah Sakit Umum Siantar Kini Bisa Obati Batu Ginjal Tanpa Bedah

30/04/2026
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi

© 2019 isiantar.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil

© 2019 isiantar.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In