Simalungun — Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Siantar – Simalungun, Ida Halanita Damanik, akan melaporkan dugaan pencabulan yang dilakukan salah seorang Kepala SD Negeri di Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, terhadap salah seorang muridnya, ke Polres Simalungun.
Niat melaporkan ini muncul setelah Ida melakukan penelurusan langsung ke lokasi kejadian, Minggu (28/2/2021) sore.
Di lokasi penelusuran — sebuah Nagori (desa) yang dikelilingi perkebunan sawit — Ida mendatangi kompleks SD yang diduga tempat pencabulan terjadi. Dan Ida melakukan komunikasi dengan warga kompleks untuk menggali informasi tentang pencabulan tersebut.
Selanjutnya, tak cuma dengan warga di sejumlah lokasi di desa ini, Ida juga menemui dan berkomunikasi langsung dengan Kepala Desa.
Kasus Pencabulan yang “Disenyapkan”
Kasus pencabulan oleh oknum Kepsek terhadap muridnya yang ditelusuri Ida ini, merupakan kasus yang diduga terjadi tiga bulan yang lalu. Pencabulan ini sudah tersiar ke warga desa dan membuat warga berang. Tapi, tak lama usai tersiar — belum sempat muncul amuk warga — si Kepsek langsung pindah dari desa itu. Demikian juga korbannya.
Korban yang masih duduk di kelas 6 dikabarkan pindah ke desa sebelah. Tapi si Kepsek, tak ada yang tahu keberadaannya.
Rata-rata warga yang ditemui mengaku sudah mendengar tentang pencabulan itu. Mereka mengaku masih berang terhadap si Kepsek, tapi sekaligus terkejut dengan kedatangan Ida. Pasalnya informasi yang mereka dengar kemudian, kasus itu sudah selesai lewat berdamai.
Seorang warga berkata bahwa korban sebelumnya tinggal di desa sebelah bersama ibunya. Tapi setelah ibunya menikah lagi, korban pun tinggal bersama kakek-neneknya di desa itu. Dan setelah pencabulan itu terungkap, korban beserta kakek-neneknya pergi meninggalkan desa itu.
Sebagian warga yang sangat kesal dengan si Kepsek mengaku emosinya sudah agak mereda karena salah satu keinginan mereka yakni supaya si Kepsek pergi dari desa itu, sudah terwujud. Sebab kata mereka, saat si Kepsek masih hanya sebagai guru agama di SD itu (belum jadi Kepsek), juga sudah pernah ketahuan mencabuli salah seorang murid.
Sementara rumor di kalangan warga tentang kasus pencabulan yang terakhir adalah telah terjadi perdamaian antara si Kepsek dengan ibu si korban dengan uang damai sebesar Rp 300juta. Dan itu yang dikabarkan membuat keluarga korban tidak melaporkan pencabulan itu ke polisi.
Terungkap Lewat Rekaman Kamera Pengintai
Salah satu informasi yang signifikan dari penelusuran ini, adalah bahwa pencabulan yang dilakukan Kepsek tersebut terungkap oleh rekaman kamera pengintai.
Di sebutkan, seseorang yang mencurigai gelagat si Kepsek, memasang kamera pengintai di salah satu ruangan. Hasilnya, adegan pencabulan oleh Kepsek terhadap muridnya itupun terekam kamera.
Dengan hasil penelusuran yang dilakukan sore itu Ida memastikan dirinya akan segera melaporkan si Kepsek ke polisi.
“Iya besok saya akan ke Polres Simalungun untuk melaporkan kasus ini. Langsung saya laporkan,” kata Ida memastikan.
Antisipasi Intimidasi, Ida Dapat Pendampingan PBB
Sebelum melakukan penelurusan ke desa itu Ida menerima sinyal akan munculnya intimidasi terhadap dirinya. Oleh karena itu, sejumlah pengurus PAC Pemuda Batak Bersatu (PBB) Kecamatan Siantar Barat, Kota Pematangsiantar, tempat Ida berdomisili, atas inisiatif sendiri ikut mendampingi Ida untuk penelurusan ini.
Ketua PAC PBB Siantar Barat, Jhon Sitio, mengatakan sikap responsif mereka ikut mendampingi Ida di penelusuran ini didasari apresiasi mereka terhadap upaya pengungkapan kasus pencabulan oleh seorang guru terhadap murid yang tengah dilakukan Ida. Sebab mereka tak ingin kasus serupa terjadi menimpa anak-anak yang lain, di manapun berada.
“Kami sangat mengapresiasi perjuangan Ito kami Ida Damanik Ketua LPA Siantar Simalungun untuk memperjuangkan keadilan bagi anak yang kami dengar mendapat pencabulan dari oknum pimpinan sekolah. Semoga ada kejelasan dalam kasus ini.

Dan kami rekan juang PAC PBB Siantar Barat siap membekap perjuangan Ito Ida Halani Damanik. Dan berharap jangan ada yang menghalangi apalagi mengancam Ito kami ini dalam perjuangannya,” tegas Jhon Sitio. [nda]




















