isiantar.com – Acara lelang penjaga kamar mandi yang digelar PD Pasar Horas Jaya (PHJ) di kantor Pasar Dwikora Parluasan, Jumat 22 Desember 2017, berakhir ricuh.
Informasi dihimpun, persiapan yang dilakukan PD PHJ untuk menggelar lelang tersebut memang berlangsung singkat. Setelah selebaran pemberitahuan acara lelang disebar pada 15 Desember — yang isinya mengundang pihak-pihak yang berminat agar mendaftar — lelang pun langsung digelar di 22 Desember di Kantor Pasar Dwikora.
Pada hari yang dijadwalkan itu, belasan orang yang telah mendaftar dengan membayar biaya administrasi Rp 50 ribu berikut menyerahkan fotokopi KTP dan KK, hadir mengikuti lelang tersebut. Lelang dibuka dengan harga berbeda untuk masing-masing kamar mandi untuk total sebanyak 17 kamar mandi yang ada di Pasar Horas dan di Parluasan.
Kamar mandi yang penawarannya dibuka dengan harga tertinggi adalah kamar mandi di Gedung II Pasar Horas, yakni Rp 224 ribu per hari. Sementara kamar mandi harga terendah, dibuka dengan harga RP 20 ribu per hari, kamar mandi Balerong.
Para peserta yang hadir lalu memberikan penawaran masing-masing.
Uniknya, harga penawaran oleh peserta lelang terus menaik hingga sampai pada angka Rp 5 juta per hari.
Karena penawaran itu dianggap tidak rasional, dimana situasi juga sudah ricuh sejak awal oleh banyaknya interupsi dari peserta kepada panitia lelang, lelang itu pun berakhir dengan deadlock, alias tanpa ada penunjukkan pemenang.
Panitia Tidak Siap, Acara Lelang Bagai Lelucon
Informasi dari beberapa peserta lelang menyebutkan, sejak awal mereka sudah mencium kesan ketidaksiapan panitia menggelar lelang hari itu. Selain tidak mampu menjelaskan apa saja yang kelak menjadi kewajiban pihak PD PHJ bagi pemenang lelang, seperti misalnya darimana nantinya sumber air ke kamar mandi serta siapa penanggungjawab biaya perawatannya, panitia juga dinilai telah gagal menyampaikan informasi perihal lelang tersebut.
“Itu kan ternyata ada beberapa kamar mandi yang airnya bukan dari PD Pasar tapi sudah dari sumur bor yang dipasang sendiri sama penjaga kamar mandi selama ini, karena air PD Pasar rupanya sudah lama diputus karena nunggak.
Soal air itu panitia lelang gak bisa menjawab, makanya dari awal peserta lelang udah bingung melihat panitianya gak mampu menjelaskan,” ungkap narasumber, yang ditemui beberapa saat seusai lelang tersebut.

Selain itu, beberapa peserta lelang yang hadir ada yang salah kaprah karena mengira lelang tersebut adalah untuk keseluruhan kamar mandi milik PD PHJ yang sekaligus dilelang dalam satu paket. Ternyata tidak, karena kamar mandi dilelang satu per satu.
Ketidakjelasan informasi yang diterima itu membuat sebagian peserta lelang yang hadir, yang diantaranya juga ada yang dikenal sebagai penggiat ormas dan aktivis, merasa kecewa sedari awal.
Alhasil, meski acara penawaran sudah berjalan, interupsi mengenai berbagai hal yang belum tuntas itu terus disampaikan yang membuat proses lelang tersebut menjadi ricuh.
“Makanya kesannya dari awal panitianya udah gak jelas. Lawak-lawak lah. Ada yang nawar satu juta, dua juta, sampek pulak lima juta, ya awak jadi ketawa-ketawalah, sebagian orang itu ngamuk-ngamuk, bubarlah jadinya” ujar narasumber. [win]




















