Siantar — Meski pimpinan DPRD sudah menyarankan agar dibatalkan, namun Pemko Siantar dibawah kepemimpinan Hefriansyah sepertinya tak acuh dengan tetap melanjutkan pengerjaan proyek dari pos Belanja Langsung yang hingga per tanggal 31 Oktober kemarin masih tersisa sebesar Rp 401,48 milar. Salah satu kegiatan di anggaran tersisa ini adalah proyek perbaikan drainase yang kini pengerjaannya baru dimulai di sejumlah lokasi.
Pantauan isiantar.com, kesan kejar tayang agar proyek-proyek ini bisa terselesaikan sebelum tahun anggaran berakhir 31 Desember nanti, sangat jelas terlihat. Ironisnya kejar-tayang ini ternyata hingga mengorbankan aktifitas perekonomian masyarakat yang salah satunya dengan penutupan akses jalan di Jalan dr Wahidin, Minggu (8/12).
Oleh penutupan jalan ini alhasil sejumlah toko dan tempat usaha di kawasan yang merupakan salah satu sentra perekonomian ini juga memilih tutup sementara. “Ya gimana, jalan ditutup, mau buka (toko) pun gak ada orang lewat, kita yang rugi” kata seorang pemilik toko yang menyesalkan penutupan jalan tersebut.
Sejumlah warga menilai penutupan jalan itu tidak semestinya dilakukan. Sekalipun alasan proyek, proyek itu yang seharusnya dikerjakan sedari awal tahun agar tidak terburu-buru dan merugikan banyak pihak.
Tak hanya sekadar menggangu aktifitas perekonomian lewat penutupan jalan tersebut, proyek-proyek ini juga sempat membuat aliran air ke rumah-rumah warga terputus akibat patahnya pipa-pipa PDAM saat proses penggalian. Gangguan seperti ini terjadi di hampir seluruh lokasi proyek drainase. Dari Jalan Patuan Anggi, Ade Irma, dr Wahidin, Jalan Maluku, dan Jalan Kartini.
Upaya maksimal agar gangguan tak berlarut memang tampak dilakukan PDAM dengan segera mengganti pipa-pipa yang patah tersebut. Namun adanya sambungan, dan dengan jenis pipa yang berbeda, dimungkinkan akan segera menimbulkan permasalahan yang lain kedepannya.

Diketahui sebelumnya pada Senin 11 November lalu, Wakil Ketua DPRD Mangatas Silalahi telah meminta pemko agar membatalkan seluruh proyek yang terhimpun dalam anggaran tersisa Rp 401,48 miliar itu.
Menurut Mangatas mengingat tahun anggaran hanya tinggal beberapa hari lagi, maka jika dipaksakan untuk dikerjakan kualitas pengerjaan proyek itu nantinya dikhawatirkan akan sangat rendah sehingga merugikan masyarakat. Padahal uang untuk proyek tersebut juga berasal dari masyarakat.
“Batalkan ajalah untuk yang tahun ini. Kalau ada yang mau dikerjakan lagi, dibatalkan aja. Nanti kualitasnya bagaimana menjamin itu,” kata Mangatas.

[nda]
Baca juga:




















