Kediri — Acara bedah buku “Gus Hery Harianto Azumi: Nakhoda Abad Kedua NU” yang digelar di sela-sela saat berlangsungnya Konbes dan Munas Alim Ulama NU di Pondok Pesantren Al-Falah, Ploso Kediri, Senin (22/6), menghadirkan pembacaan mendalam terhadap pemikiran Gus Hery Harianto Azumi yang dinilai membawa arah baru bagi NU.
Forum ini menghadirkan empat pembedah dengan sorotan kuat.
Sebagai Pengendali Forum, Imran Simanjuntak, Ketua STAI Samora Pematangsiantar, dalam kesimpulannya menegaskan bahwa Gus Hery menawarkan pemikiran NU yang reflektif dan universal. Sebuah pendekatan yang menurutnya sangat dibutuhkan NU dalam memasuki abad kedua.
“Gus Hery tidak hanya bicara tentang NU sebagai organisasi, tetapi tentang NU sebagai peradaban. Pemikirannya reflektif, menukik ke akar tradisi, namun sekaligus universal karena mampu menjawab tantangan global,” ujar Imran.
Ia menilai reflektivitas Gus Hery tampak dari cara tokoh tersebut membaca ulang khazanah pesantren, sejarah NU, dan dinamika sosial umat. Sementara sifat universalnya terlihat dari keberanian membuka dialog ilmiah dan terbuka dengan dunia internasional, pengalaman lintas negara, serta gagasan tentang Islam yang inklusif.
“Beliau mengajak NU untuk kembali pada jati diri, tetapi juga membuka diri. Ini pemikiran yang tidak banyak dimiliki tokoh muda NU,” papar Imran.
Para pembedah memperkuat gambaran tentang pemikiran Gus Hery yang dianggap mampu menjembatani tradisi dan modernitas.
KH. Ahmad Husen Jali, Pengasuh Pesantren Al-Husaini Bandung, menyebut bahwa Gus Hery memiliki kemampuan membaca tradisi pesantren secara mendalam namun tetap progresif.
“Gus Hery itu reflektif. Ia tidak tergesa-gesa dalam melihat persoalan. Tradisi ia pahami, modernitas ia pelajari,” ujarnya.
Sementara KH. Moch. Hilmi Ashiddiqie Al-Aroky, menilai bahwa universalitas pemikiran Gus Hery lahir dari pengalaman internasionalnya.
“Pengalaman beliau di berbagai negara dan jejaring globalnya membuat cara pandangnya lebih luas. Ia membawa perspektif dunia Islam yang lebih universal,” kata Hilmi.
Prof. Subakir, mantan Ketua PCNU Kota Kediri, menambahkan bahwa pemikiran Gus Hery sangat relevan untuk memperkuat tata kelola NU. “Beliau memahami bahwa NU membutuhkan manajemen yang lebih profesional. Buku ini menunjukkan arah itu,” ujarnya yakin.
Acara bedah buku ini menjadi sisi lain dari ruang Konbes dan Munas. Dan Pesantren Al-Falah Ploso kembali menjadi ruang lahirnya gagasan besar NU, mempertemukan kiai, akademisi, dan aktivis dari berbagai daerah.
Forum ditutup dengan harapan bahwa pemikiran reflektif dan universal ala Gus Hery dapat menjadi fondasi bagi NU dalam membangun peradaban Islam yang moderat, inklusif, dan berdaya saing global. (im)


















