isiantar.com – Hingga saat ini masyarakat terus menunggu hasil pengusutan pihak kepolisian terhadap kasus penganiayaan Hansip PTPN IV, yang dilakukan oleh segerombolan massa yang diduga terkait dengan sindikat pencuri sawit.
Sebagaimana diketahui, pada Senin (12/12/2016), sekitar Pukul 23.30 WIB, gerombolan massa dimaksud telah menganiaya Hansip PTPN IV Kebun Mayang, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.
Dua unit sepeda motor dibakar oleh gerombolan massa, satu unit dibuang ke parit. Dua orang Hansip menjadi korban penganiayaan, yang salah satunya bernama Misnan Sirait (48).
Misnan Sirait yang merupakan ayah dari tiga orang anak, mengalami luka serius hingga tak sadarkan diri. Kepalanya robek diduga akibat ditebas dengan menggunakan benda tajam yang menembus helm yang sedang dipakainya.
Salah seorang saksi dalam kejadian ini ialah Mandor I Kebun Mayang, Baringin Tambunan.
Saat dikonfirmasi isiantar.com pada Kamis 15 Desember 2016, Baringin Tambunan mengaku masih gemetar dan sulit tidur karena terus mengingat kejadian penganiayaan malam itu. Ia pun bersedia membeberkan kronologi kejadian itu yang menurutnya juga telah ia sampaikan kepada pihak kepolisian yang telah memintai keterangannya.
Berikut kronologi penyerangan dan penganiayaan tersebut, versi baringin Tambunan:
- Pada malam sekitar Pukul 22.30, istri salah seorang Hansip, datang menemuinya untuk melaporkan bahwa suaminya (Togu Panjaitan) telah dipukuli segreombolan massa. Ia pun langsung mengontak nomor telepon seluler Togu, namun tidak aktif.
- Setelah beberapa kali menghubungi namun nomornya tetap tidak aktif, Baringin bergerak melakukan pencarian langsung ke salah satu pos penjagaan Palang Pasar Buntut. Namun dua orang Hansip yang berjaga di tempat itu, salah satunya ialah Minan Sirait, menjawab tidak tahu di mana keberadaan Togu.
- Di pos penjagaan ini, sekitar 50 meter dari palang (portal), Baringin melihat gerombolan massa yang ia perkirakan berjumlah sekitar 50-an orang, yang terus-menerus meneriaki mereka dengan ucapan-ucapan tak pantas. Baringin mengacuhkannya, ia mengajak kedua hansip di pos tersebut untuk bersama-sama mencari keberadaan Togu. Mereka pun bergerak ke Pos Penjaggaan selanjutnya, yakni Simpang Norak.
- Tiba di Pos Simpang Norak, Baringin bertanya tentang keberadaan Togu, namun petugas hansip di tempat itu menjawab tidak tahu. Namun kali ini, nomor Togu sudah aktif ketika dihubungi.
- Saat akhirnya mengangkat panggilan teleponnya, Togu dengan nada ketakukan mengatakan ia sedang bersembunyi di tegah perkebunan. Togu mengatakan baru saja dipukuli segerombol massa. Baringin pun membujuk Togu untuk keluar dari persembunyiannya dan menemuinya di pos tersebut.
- Setelah keluar dan bertemu, Togu menceritakan bahwa ia dipukuli beberapa orang yang diantaranya dikenalnya bernama Wili dan Aris.
- Mengetahui bahwa nama yang disebut Togu berada dalam gerombolan massa yang meneriaki mereka saat berada di Pos Pasar Buntut tadi, Baringin pun mengajak Togu ke lokasi tersebut untuk melakukan mediasi dan konfirmasi penyebab pemukulan.
- Namun setiba di lokasi tersebut, sekitar Pukul 23.30 Wib, gerombolan massa tersebut langsung meneriaki mereka dengan kata-kata kotor dan mengekspresikan kemarahan. Mereka menolak berbicara tentang persoalannya secara baik-baik kepada Baringin. “Di mana tentara-tentara (TNI) itu, tentara itu panggil kemari,” kata Baringin menirukan teriakan segerombolan massa tersebut kepadanya.
- Dalam situasi itu, datanglah beberapa personil TNI yang di BKO-kan di perkebunan itu. Melihat gerobolan massa yang emosi, TNI melakukan tembakan ke atas untuk membubarkan massa. Namun ternyata bukannya bubar, massa malah dengan beringas melempari mereka.
- Karena kalah jumlah, pihak mereka dan pihak TNI akhirnya mundur melarikan diri ke dalam perkebunan.
- Naas bagi Misnan yang mencoba menyalakan sepeda motornya untuk melarikan diri namun tak kunjung menyala. Ia ditangkap gerombolan massa dan dianiaya hingga tak sadarkan diri.
Menurut Baringin, diantara oknum-oknum yang menyerang mereka dan menganiaya Misnan adalah warga sekitar yang sering melakukan pencurian sawit di areal perkebunan milik negara itu.
“Sejak ada bantuan pengamanan dari Batalyon 126 ruang gerak mereka untuk masuk tidak ada lagi. Pencuri di sini bukan orang-orang miskin, mereka keluarga menengah ke atas, mereka mencuri untuk foya-foya,” ujar Baringin.
Baringin pun berharap agar pihak kepolisian segera mengusut tuntas kasus ini termasuk menangkap aktor-aktor intelektual dibalik penyerangan dan penganiayaan tersebut.
(nda)




















