Informasi Terpercaya
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi
Minggu, Februari 15, 2026
  • Login
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
Informasi Terpercaya
No Result
View All Result

Kejanggalan TPU Kampung Kristen: Sudah Hampir Seratus Tahun, Tetap Bisa Tampung Jenazah

by Redaksi
01/03/2020
in Fokus, Peristiwa
0
TPU Kampung Kristen Kota Pematangsiantar, Jumat (21/2/2020). (isiantar/nda).

TPU Kampung Kristen Kota Pematangsiantar, Jumat (21/2/2020). (isiantar/nda).

Share on FacebookShare on Twitter

Siantar — Sejak tahun 2000 lalu, persoalan pemakaman telah mengemuka di Siantar. Persoalan berpusar pada menyempitnya lahan dan melambungnya harga petak makam. Dan objek yang paling sering dibicarakan atas persoalan ini, ialah TPU Kampung Kristen yang berada Kecamatan Siantar Selatan.

Dari kunjungan isiantar.com ke TPU Kampung Kristen, Jumat 21 Februari 2020, pemakaman ini diperkirakan memiliki luas sekitar 60.000 m², dengan panjang 300 m² dan lebar 200 m². Sayang presisi luas ini belum bisa divalidasi kepada pemko sebab dinas yang mengelola TPU ini, Dinas Sosial, tak memiliki catatan ukuran pastinya.

Tak hanya itu, mereka juga tidak memiliki catatan sejarah, jumlah makam, dan jumlah jenazah yang telah dikebumikan di TPU ini.

Sementara seorang narasumber kepada isiantar.com menyebut, usia TPU Kampung Kristen diperkirakan sudah hampir seratus tahun.

“Dulu, yang pertama ada di sini hanya kompleks kuburan orang Belanda. Lalu setelah berdiri HKBP Jalan Gereja itu dibikinlah di sebelahnya kuburan (kompleks pemakaman) untuk keluarga jemaat HKBP itu. Nah, sudah berapa usia gereja itu, sekitar segitulah usia pemakaman ini,” kata sumber. Sementara informasi diperoleh HKBP Jalan Gereja kini telah berusia 112 tahun.

Dalam perjalanannya kemudian, di sekitar akhir tahun 80-an, HKBP Jalan Gereja lalu menyerahkan kompleks pemakaman Kampung Kristen kepada pemko. Disebutkan, ketika itu pada bagian tengah kompleks masih ada satu ruas jalan yang sekaligus menjadi pemisah antara blok makam Belanda dengan TPU Kampung Kristen.

Namun ketika kunjungan ruas jalan tersebut sudah tidak tampak lagi. Jangankan jalan blok, jalan setapak di sela makam juga sudah tidak ada lagi, sehingga kalau ingin menelusur makam di bagian dalam terpaksa menginjak sisi-sisi makam yang harus dilewati.

Hal itu terpaksa akibat banyaknya makam yang kini bahkan telah meluber hingga ke badan trotoar.

Tahun 2009 Diperkirakan Sudah Ada 3000 Makam

Pada tahun 2009 lalu, dari wawancara yang pernah dilakukan wartawan kepada pejabat pemko terkait pengelolaan TPU ini, didapatkan informasi jika jumlah makam di TPU Kampung Kristen diperkirakan sudah mencapai 3.000 makam.

Saat itu pejabat tersebut mengesankan jika persoalan over kuota makam di TPU Kampung Kristen telah dipikirkan solusinya. Yaitu, pengadaan lahan TPU baru, yang proses pengadaannya tengah dipersiapkan oleh pemko.

Namun faktanya hingga awal 2020 ini TPU baru dimaksud belum juga ada. Dan anehnya, TPU Kampung Kristen tetap saja masih bisa menampung jenazah.

Beberapa makam di TPU Kampung Kristen tampak sudah mengenai badan trotoar jalan. (isiantar/nda).

Harga Satu Petak Makam Bisa Sampai Rp 5 Juta

Disebalik kerancuan antara over kuota makam dengan tetap adanya aktifitas pengebumian di TPU Kampung Kristen, ada informasi mengejutkan jika biaya pemakaman di TPU ini terbilang paling mahal se-kota Siantar. Satu petak makam biayanya bisa sampai lima juta rupiah. Bahkan sumber menyebut, beberapa tahun lalu ada satu petak makam yang dikenakan harga hingga dua puluh juta rupiah.

Soal beban biaya pemakaman hingga jutaan rupiah, Kabid Sosial di Dinas Sosial, Risbon Sinaga, saat diwawancara isiantar.com Senin 24 Februari 2020 lalu, tidak menampiknya. Namun kata Risbon uang yang sampai kepada pihaknya (Dinsos) tidaklah sampai jutaan rupiah, namun hanya sesuai dengan nilai yang ditetapkan Peraturan Daerah (Perda).

Risbon mengatakan biaya pengebumian yang bisa mencapai jutaan rupiah itu merupakan hasil kesepakatan antara pihak keluarga jenazah dengan pihak penggali makam, dan juga dengan petugas penjaga TPU Kampung Kristen (Honorer Dinsos). Angka jutaan itu disebutnya merupakan akumulasi dari harga satu petak makam, ditambah honor penggali kubur, dan ditambah lagi dengan biaya restribusi tahunan yang oleh petugas penjaga TPU ditagih secara kumulatif langsung untuk beberapa tahun, sebelum jenazah dikebumikan.

Sementara soal besaran honor penggali kubur kata Risbon itu bukanlah domain pihaknya melainkan kesepakatan antara keluarga jenazah dengan penggali kubur itu sendiri.

“Gini, soal jumlahnya (honor penggali kubur) kita kurang tahu, karena kan kita percayakan mereka (penggali kubur di TPU Kampung Kristen), karena mereka kan punya kawan-kawan, yang menggali itu ada beberapa orang kan,” kata Risbon.

Tak Punya Data Jumlah Makam

Untuk mengetahui jumlah makam di TPU Kampung Kristen yang terlihat sudah terlalu padat bahkan ada yang letaknya telah meluber ke trotoar, Risbon menyarankan untuk meminta data tersebut kepada pegawai bawahannya di Seksi Daya Sosial. Sebab kata Risbon bawahannya itu yang memiliki data itu. Termasuk yang memiliki dokumen yang bisa menunjukkan berapa sesungguhnya harga satu petak makam dan biaya restribusi tahunan sesuai Perda, yang saat itu Risbon mengaku lupa berapa pastinya.

Namun beberapa kali ditemui, bawahan yang disebut Risbon itu lagi-lagi memberikan jawaban sama bahwa dia juga belum memperoleh data jumlah makam tersebut. Dan juga belum memperoleh dokumen Perda yang bisa menunjukkan berapa harga satu petak makam dan biaya restribusi tahunan sesungguhnya.

Mangongkal Holi Jadi Alasan

Kejanggalan bagaimana bisa TPU Kampung Kristen yang sejak tahun 2000 lalu sudah dikatakan terlalu padat namun hingga kini masih terus bisa menampung jenazah, Risbon menjawab bahwa itu dimungkinkan sebab adanya tradisi Mangokkal Holi.

Mangongkal Holi merupakan tradisi membongkar makam untuk mengambil tulang-belulang jenazah yang dimakamkan di tempat tersebut untuk dipindahkan ke suatu tempat yang biasanya sebuah tugu. Tugu di sini adalah areal pekuburan khusus untuk keluarga, dengan lahan yang lebih luas, dimana tulang-belulang dari satu kerabat keluarga muat untuk disemayamkan di tempat tersebut.

“Kalau kuburan itu kan sudah padat kali itu. Tapi kan ada juga warga ini yang mengambil tulang belulang keluarganya,” kata Risbon soal Mangongkal Holi tersebut.

Namun lagi-lagi saat diminta data tahunan jumlah jenazah yang dikebumikan, dan data tahunan jumlah makam yang dibongkar lewat Mangongkal Holi, setidak-tidaknya untuk dua tahun terakhir guna memvalidasi kebenaran alasan Risbon tersebut, Risbon kembali menjawab pegawai bawahannya yang punya data itu. Dan, beberapa kali ditemui, pegawai bawahan tersebut kembali memberi jawaban sama bahwa dia juga belum memperoleh data itu.

Indikasi Kesan Elit TPU Dijadikan Ajang Bisnis

Sejak jaman kekuasaan Belanda, Kelurahan Kampung Kristen memang telah menjadi kompleks elit di Siantar. Tertata dan luasnya lahan perkaplingan dan blok pemukiman, lurus dan lebarnya ruas jalan, dan dekatnya jarak tempuh ke inti kota, menjelaskan jika kelurahan ini memang telah didesain sebagai kompleks elit sejak dulunya.

Dan kesan elit ini juga ternyata disebut memapar ke TPU yang ada di kelurahan ini yaitu TPU Kampung Kristen. Sehingga banyak orang yang ingin anggota keluarganya yang telah meninggal dikebumikan di TPU ini. Kesan elit ini juga yang kemudian menurut sumber isiantar.com membuat TPU Kampung Kristen tidak juga ditutup hingga saat ini meski sudah sangat padat sebab oleh beberapa pihak dianggap masih memiliki ‘potensi bisnis’.

Berbeda dengan penjelasan Dinsos, sumber menolak jika tradisi Mangongkal Holi yang membuat tapak makam masih saja tersedia di TPU ini. Apalagi mengingat frekuensi Mangongkal Holi grafiknya jauh di bawah jumlah orang meninggal. Sumber mensyaki, yang telah terjadi di TPU ini adalah praktek pemakaman berlapis yang diduga bahkan sudah lebih dari tiga lapis.

“Cuma kan orang-orang yang tahu ini sungkan mengungkapnya karena takut dianggap tidak enak menyoal kuburan. Takut tak enak nanti sama keluarga dari yang dimakamkan di situ,” ujar sumber.

Sumber menyebutkan bahwa yang terjadi belakangan ini di TPU ini adalah ‘makam baru menimpa makam lama’. Artinya, jenazah baru dikebumikan di atas jenazah yang telah dikebumikan sebelumnya. Dan makam yang ditimpa itu adalah makam-makam yang terpantau sebagai makam yang jarang diziarahi.

“Kan adanya orang-orang tertentu yang tau itu, ‘oh, kuburan yang ini jarang diziarahi ini, di sini ajalah kita buat. Oh, kuburan yang ini sudah lama nggak diziarahi, di sinil ajalah kita gali’. Kemudian dibilang orang itulah sama keluarga yang baru meninggal itu, ‘masih adanya tempat, tapi harganya segini’,” ungkap sumber, “karena banyak kita ini yang kepingin keluarganya dikuburkan di situ. Kan mereka nggak tahu itu,” imbuhnya.

Tampak posisi makam-makam di TPU Kampung Kristen sudah sangat rapat dan padat. (isiantar/nda).

Risbon: Kalau ada yang seperti itu, ya dilaporkan

Dikonfrontir dengan informasi dari sumber itu, Risbon Sinaga membantah dan meminta bila ada kejadian seperti itu agar dilaporkan kepada pihaknya.

Pihaknya kata Risbon hingga kini bahkan belum pernah menerima laporan tentang hilangnya makam.

“Kalau ada hilang, dikroscek, jangan sepihak. Akan dilakukan teguran (ke penjaga TPU) kalau itu terjadi,” katanya.

Seluruh Stakeholder diminta Beri Perhatian

Permasalahan padatnya makam di TPU Kampung Kristen dinilai sudah saatnya diberikan perhatian sungguh-sungguh khususnya dari para pemangku kepentingan di kota Siantar.

Harapan akan perhatian, bukan karena bahwa karakter dan perjalanan pengelolaan sebuah kota juga bisa dilihat dari cara pengelolaan atas tempat pemakamannya. Namun harapan itu setidaknya agar fungsi tempat pemakaman, yaitu sebagai tempat pelayanan publik untuk penguburan jenazah yang layak dan tertata, bisa terpenuhi. Dan setidaknya agar para peziarah dapat melakukan aktivitas ziarahnya dengan perasaan nyaman. [nda]


Baca juga:

Dugaan KKN Toilet Taman Bunga, Ini Kata Reinward Simanjuntak

Tiga Kisah Tentang Hefriansyah

Aneh, Karcis Parkir Terus Dicetak Tapi Tak Beredar di Lapangan

Tags: Dinsosnaker SiantarKependudukan SiantarPembangunan SiantarTPU Kampung KristenTulisan Pelajar
Share542TweetPin

Related Posts

Pemko Siantar Gelar Pemilihan Duta Baca Tingkat SMA dan Perguruan Tinggi

by Redaksi
19/11/2025
0

...

Warga Siantar Diminta Beri Data Akurat ke Petugas Pendataan

by Redaksi
26/07/2025
0

...

Lembaga Demografi FEB UI Bantu Pemko Siantar Susun Rencana Pembangunan

by Redaksi
23/03/2025
0

...

Walikota Siantar Hadiri Rakornas Pembangunan Daerah dengan Pemprovsu

by Redaksi
18/12/2024
0

...

Pemko Siantar Sampaikan Ranperda RPJMD 2025-2045

by Redaksi
07/12/2024
0

...

Sampah dan Pemakaman: Masalah Lama Kota Siantar, Baru Disentuh pada Masa Susanti

by Redaksi
08/11/2024
0

...

Baru Dua Tahun Memimpin, Susanti Wujudkan Perkembangan Signifikan Kota Siantar

by Redaksi
28/10/2024
0

...

Siantar akan Jadi Satu-satunya Kota Pemilik RDTR Lengkap di Sumut

by Redaksi
22/09/2024
0

...

Susanti ke Pelajar SMA: Memanfaatkan masa-masa indah untuk mengukir masa depan

by Redaksi
18/09/2024
0

...

Kunjungi SMA HKBP, Walikota Susanti Ajak Pelajar Jaga Kelestarian Lingkungan

by Redaksi
05/09/2024
0

...

Terkini...

Pemko Siantar Beri Bantuan ke Puluhan Keluarga Korban Puting Beliung

15/02/2026
Prosesi penyerahan Hasil Pembahasan Panitia Khusus DPRD Siantar, oleh ketua Pansus, Tongam Pangaribuan, kepada Pimpinan DPRD, Daud Simanjuntak, hanya menggunakan pencahayaan dari telepon genggam, Jumat (13/2/2026).

Main Gelap, Pansus DPRD Siantar Disinyalir Bekerja Secara Menyimpang

13/02/2026

Ketua PKK Kota Siantar Hadiri Pendalaman Alkitab dan Pengajian

13/02/2026

Jaga Kestabilan Harga Jelang Ramadhan, Pemko Siantar Gelar Pasar Murah

13/02/2026
Deretan sofa yang masih bagus yang pernah ada di ruang Pimpinan DPRD Siantar, yang kini sudah tidak kelihatan lagi. (isiantar/nda)

Tiga Pimpinan DPRD Siantar Dikabarkan Diperiksa terkait Dugaan Penyelewengan Aset Rumah Dinas

13/02/2026

Permudah Kinerja Damkar, Perumda Tirta Uli Pasang Hydrant di Sejumlah Titik Strategis

05/02/2026

Walikota Siantar Hadiri Pemberian Bansos kepada Warga Tionghoa

05/02/2026

Perbaikan Pipa Pecah di Tiga Titik, Layanan Air Terganggu Sementara

05/02/2026

Beri Dukungan, Liswati Kunjungi Sejumlah UMKM

05/02/2026

Walikota Hadiri Serah Terima Program Kemaslahatan Badan Pengelola Keuangan Haji Tahun 2025

31/01/2026
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi

© 2019 isiantar.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil

© 2019 isiantar.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In