Home Peristiwa Tiga Kisah tentang Hefriansyah

Tiga Kisah tentang Hefriansyah

SHARE
Hefriansyah di lokasi pemakaman Alm. Hulman Sitorus, (10/12/2016). (Foto/FP).

isiantar.com — Pada Sabtu 23 Februari 2019 lalu, salah satu media online di Pematangsiantar, Dekrit.com, menggelar dialog publik bertema Evaluasi 2 Tahun Kepemimpinan Hefriansyah Wali Kota Pematangsiantar, di Hotel Sapadia.

Dialog publik dihadiri seratusan orang dari berbagai latarbelakang dan ada lima orang yang menjadi keynote speaker atau pembicara utama, yakni, Prof Sanggam Siahaan (Rektor UHN Siantar), Anggiat Sinurat (akademisi), Kristian Silitonga (Direktur SoPo), dr Sarmedi Purba, dan Pdt Saut Sirait (akademisi).

Di acara yang menjadi ruang evaluasi kinerja Hefriansyah setelah dua tahun jadi walikota ini, sembilan puluh persen yang disampaikan para yang hadir adalah berupa kritikan keras terhadap Hefriansyah. Bahkan, ada yang sampai melontarkan makian.

Selain evaluasi-evaluasi terhadap berbagai aspek seperti ekonomi, pemerintahan, layanan publik, pemuda, dan budaya, di acara ini beberapa orang juga menuturkan kisah dan kesan dari pengalaman mereka pernah bertemu dan berinteraksi langsung dengan Hefriansyah.

Diantara mereka yang menceritakan pengalaman itu ialah Hermanto Sipayung, Mahadi Sitanggang dan Pdt Saut Sirait.

Hermanto Sipayung: Hefriansyah Walikota Tak Berbudaya

Hermanto Sipayung, seorang jurnalis, di acara dialog publik ini melontarkan banyak kritikan terhadap Hefriansyah. Dan pada satu momen, ia turut menceritakan kenangan saat ia mendatangkan tokoh NU, Gus Sholah, ke Siantar pada Desember 2017 lalu.

Diceritakannya, sehubungan rencana kedatangan Gus Sholah, dia menemui Hefriansyah guna memberitahu konsep acara dan latarbelakang kedatangan Gus Sholah. Diantaranya yaitu untuk mempromosikan Siantar sebagai kota toleransi.

Ternyata pemberitahuan soal rencana kedatangan Gus Sholah itu tidak mendapat reaksi positif dari Hefriansyah. “Bang, gak perlu di Siantar ini toleransi toleransi, Bang, Siantar ini toleransi.” Demikian ucapan Hefriansyah kepada Hermanto saat itu sebagaimana disampaikan Hermanto saat dialog publik tersebut.

Selanjutnya, saat Gus Sholah telah di kota Siantar, Hermanto juga menyaksikan perbincangan antara Hefriansyah dengan Gus Sholah yangmana Hefriansyah terkesan ingin mengajari Gus Sholah tentang Pancasila.

“Saya menghadirkan guru bangsa, tokoh NU, diajarinya pula soal Pancasila, walikota apa itu, memang tak berbudaya,” kata Hermanto.

Pdt Saut Sirait: “Kerjamu hanya untuk foto-foto”

Mantan anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu yang juga dosen STT HKBP Nomensen, Pdt Saut Sirait, yang menjadi keynote speaker di dialog publik tersebut, turut menceritakan pengalamannya beberapa kali bertemu dan berinteraksi dengan Hefriansyah. Salah satunya berkaitan dengan momen kedatangan Wakil Ketua MPR ke Siantar untuk menjadi pembicara sebuah acara seminar di bulan Januari lalu.

Pdt Saut ketika itu memberitahu Hefriansyah bahwa Wakil Ketua MPR telah sampai. Maksud pemberitahuannya supaya pemko melakukan penjemputan. Dan ternyata untuk penjemputan Wakil Ketua MPR tersebut, Hefriansyah menyuruh seseorang dengan menggunakan mobil yang dibawah standar protokoler.

Pdt Saut merasa kesal begitu mengetahui jenis mobil penjemputan yang tak sesuai standar itu. Apalagi sebelumnya, Hefriansyah sudah pernah menyuruh seorang sopir untuk menjemput seorang pejabat yang lain, yangmana supir tersebut cuma mengenakan kaos oblong dan sendal.

Setelah selesai seminar, Pdt Saut pun bertemu lagi dengan Hefriansyah, dan dikesempatan itu dia menegur Hefriansyah.

“Maaf, Pak, jangan marah-marah, foto dulu foto dulu,” begitu respon Hefriansyah kepadanya. “Saya bukan soal marah-marah, kerjamu hanya untuk foto-foto,” balas Pdt Saut.

Mahadi Sitanggang: Begitu Kepala Daerah?

Seorang undangan lain di acara itu ialah wartawan senior, Mahadi Sitanggang. Mahadi juga turut menceritakan bagaimana pandangannya terhadap sosok Hefriansyah namun dari sudut yang berbeda.

Mahadi menceritakan bahwa ia mengenal baik mantan bupati Kabupaten Batubara OK Arya — yang disebutnya merupakan “guru” Hefriansyah. Perkenalan mereka dimulai saat dia ditugaskan meliput di kabupaten tersebut.

Lalu, beberapa hari setelah Hulman Sitorus meninggal dunia, Mahadi sempat bertemu dan berbincang dengan OK Arya dan dia menanyakan pandangan OK Arya tentang Hefriansyah yang otomatis akan dilantik menjadi walikota menggantikan Hulman.

Kata Mahadi, adapun pandangan OK Arya saat itu adalah, Hefriansyah tidak mampu menjadi walikota. Dan OK Arya sudah berpesan kepada Hefriansyah, supaya setelah dilantik jadi walikota, mantan pemborong itu tak perlu coba-coba mendatangkan investor ke Siantar, supaya tidak ada resiko terkena hukuman masuk penjara. Lima tahun saja kamu jadi walikota duduk dengan tenang, itu akan tenang. Demikian pesan OK Arya kepada Hefriansyah.

“Jadi dia (Hefriansyah) hanya menyelamatkan diri sendiri, jangan berharap ada pembangunan di Siantar,” ujar Mahadi.

Dari pengenalannya terhadap latarbelakang dan lingkungan pergaulan Hefriansyah itu pula Mahadi berpesan kepada semua yang hadir di dialog publik itu agar tidak beranggapan bahwa Hefriansyah menganggap dirinya sebagai walikota.

“Hefriansyah itu, bapak-bapak, jangan anggap dia itu walikota. Bukan. Kita menganggap dia itu walikota, tapi dia menganggap dirinya raja. Tengok komentarnya saat ditanya wartawan, ‘Pak habis pelantikan apa rencana bapak?’ ‘saya mau pulang makan,’ katanya kan? Begitu kepala daerah? Kemarin di koran lokal ‘Pak, kenapa mobil bapak?’ ‘Suka-sukaku’ katanya, karena dia menganggap dirinya raja, raja absolut,” kata Mahadi.

Oleh karena menganggap dirinya sebagai raja itu pula, kata Mahadi, Hefriansyah layak dimasukkan dalam daftar walikota fenomenal. [nda]


Baca juga: 

Esron Tertinggi, Budi Terendah

Pemko Siantar Dinilai Berkontribusi atas Pengrusakan DAS Bah Kaitan

Komitmen Politik Hefriansyah Dihadapan Jenazah Hulman Sitorus