isiantar.com – Meski moderator telah melarang hadirin bertepuk tangan jika waktu berbicara yang disedikan bagi kandidat belum habis, namun faktanya, ada satu momen dalam acara Penajaman Visi Misi Calon Walikota dan Wakil Walikota Pematangsiantar, dimana hampir seluruh pengunjung yang hadir secara spontan bertepuk tangan dengan meriah.
Momen itu terjadi saat Calon Walikota No Urut 1, Sujito, membeberkan bagaimana konsepnya untuk pengembangan kota dan pelayanan publik bagi masyarakat Siantar, di Sapadia Hotel, Sabtu (12/11/2016).
Sebelumnya, ketika topik menyentuh perihal ikon kota yang kemudian dihubungkan dengan pengembangan sektor wisata, ada kandidat calon yang lain, yang menekankan potensi keberadaan patung Dewi Kwan Im dengan statusnya sebagai patung Dewi Kwan Im terbesar di Asia Tenggara.
Namun, saat tiba gilirannya berbicara, ternyata Sujito memiliki pandangan yang berbeda mengenai ikon kota untuk Siantar.
Menurut Sujito, hal yang paling tepat untuk dijadikan ikon sekaligus untuk mendudukkan identitas budaya yang asli dari kota Siantar ialah, membangun Tugu Raja Sangnaualuh.
“Ketika Sujito-Djumadi nanti dikaruniai oleh yang maha kuasa, diberkati menjadi pasangan Walikota Pematangsiantar, bukan (patung) Dewi Kwan Im yang kita buat ikon, karena Dewi Kwan IM orang sudah kenal itu adalah tertinggi di Asia Tenggara. Kita akan membangun Patung Raja Sangnaualuh, sepanjang 25 meter tingginya untuk Ikon Kota Pematangsiantar, supaya orang bisa mengenal sejarah asli kota Siantar,” kata Sujito.
Pernyataan Sujito yang disampaikan dengan nada yang tegas dan konsisten itu spontan mendapat tepuk tangan dari hadirin yang ada di dalam ruangan tersebut.
Sujito kemudian melanjutkan ucapannya yang tentang tugu yang sekaligus menunjukkan keprihatinanya terhadap masyarakat kecil di kota ini dengan contoh para abang becak BSA. “Tugu becak didirikan, jangan tugunya aja yang berbecak tapi becaknya sudah hilang,” ujarnya. Dimana ia menggambarkan kelak, jika terpilih oleh rakyat Siantar, ia akan dengan serius memperhatikan nasib masyarakat kecil.
Sujito juga menyinggung pengelolaan di sektor pendidikan yang sejauh ini menurutnya masih berlaku tidak adil bagi masyarakat. Bagi Sujito, dunia pendidikan itu harus diutamakan secara adil dan merata dengan menghargai setipa prestasi yang diraih oleh siswa.
“Pendidikan itu paling utama. Kita selalu mendengar di sini, anak orang kurang mampu ingin masuk SMA Negeri tidak bisa masuk, padahal dia juara satu. Tetapi kalau ada uang 2 – 3 juta bisa masuk,” ungkapnya prihatin.
Sujito juga mengungkapkan keinginan besarnya agar kaum muda Siantar bisa melanjutkan Kuliah di Universitas Negeri di Kota ini.
Tepuk tangan yang meriah dari hadirin juga terulang lagi ketika Paslon No 1 ini berbicara tentang pelayanan publik. Sujito dengan meyakinkan mengatakan ia tidak akan segan-segan untuk langsung memecat Camat atau Lurah yang merepotkan kehidupan masyarakatnya.
“(Selama ini) Mau minta Surat Keterangan Kepala Desa payahnya minta ampun, Kepala Desanya jarang ada di tempat. Kalau Sujito-Djumadi nanti menang, Kepala Desa stempelnya nanti tiap hari simpan di kantong, Camatnya stempel simpan di kantong. Dimana saja, datangi suruh stempel langsung. Kalau tidak kita copot Camatnya. Jadi ada Pegawai Camat yang mengantar langsung kepada Camatnya dan (warga) yang butuh tinggal menunggu. Jadi gak usah begini begitu umbar janji. Terimakasih, sekian,” tegas Sujito yang langsung disambut tepuk tangan lebih meriah dari pengunjung.
Momen dimana Sujito berbicara itu adalah acara Penajaman Visi Misi yang digelar KPUD Siantar yang menjadi momen penyampaian visi-misi yang untuk terakhir kalinya bagi seluruh Paslon sebelum hari pemungutan suara 16 November nanti. Termasuk yang terakhir bagi Paslon No 1 Sujito – Djumadi, yang selama ini jarang masuk dalam publikasi media dalam hiruk-pikuk kontestasi Pilkada di Kota Sejuk ini.
(nda)




















