isiantar.com – Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama Kota Pematangsiantar Ke VII yang akan digelar Minggu 11 Maret 2018 di Siantar Hotel Pematangsiantar, diprediksi akan menghadirkan 3 calon yang berasal dari kader terbaik Nahdlatul Ulama.
Sebagai aset bangsa, Nahdlatul Ulama yang lahir 92 tahun silam tepatnya 31 Januari 1926, sudah dapat dipastikan memiliki kader dengan segudang pengalaman dan pengetahuan yang beraneka ragam dengan didasari ilmu keislaman yang tinggi. Tiga Calon yang akan di pastikan bertarung itu ialah Armansyah Pasaribu S.Pdi, H. Maranaik Hasibuan M.A, dan H. Hasan Basri Siregar, M.A.
Zulfahri Hasibuan selaku ketua panitia Konfercab mengatakan, Konferensi ini nantinya akan memilih ketua Rais selaku pimpinan tertinggi dan ketua Tanfidziyah atau ketua pengurus harian untuk menjalankan roda organisasi Nahdlatul ulama di Kota Pematangsiantar priode 2018 – 2023.
Beliau menambahkan, jika Ketua Tanfidz nantinya memiliki tugas yang cukup berat untuk menyatukan dan mengoptimalkan seluruh potensi kader-kader Nahdliyin di Kota Pematangsiantar, serta menghidupkan jejaring struktural organisasi NU sampai ketingkat ranting. Yang tak kalah penting, mendorong kemajuan badan-badan otonom NU seperti GP ANSOR, Fatayat, ISNU, IPNU, IPPNU dan badan otonom lainnya.
Mantan Ketua GP ANSOR Kota Pematangsiantar yang saat ini menjabat Ketua ISNU (Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama), Imran Simanjuntak M.A, ketika diminta tanggapannya seputar ketiga calon yang akan bersaing ini, mengatakan, bahwa ketiganya harus menjadi pemenang.
“Ketiganya harus jadi pemenang. Namun siapapun yang terpilih sebagai ketua tanfidziyah nantinya harus mampu membangun sebuah gerbong yang solid bekerjasama, dan sama-sama bekerja, demi kemajuan kota Pematangsiantar. Kota Pematangsiantar harus mendapat nilai lebih ke arah yang lebih baik dengan kehadiran gerbong NU yang baru ini,” ungkapnya.
Ia menambahkan, NU sebagai organisasi yang tidak mempertentangkan antara kebangsaan dan ke-islaman sudah sepantasnya tumbuh subur di Kota Pematangsiantar dengan sikapnya yang terbuka atas keragaman.
Prinsip tawasut (moderat), tasamuh (toleran) serta tawazun (proporsional) dalam menyikapi berbagai persoalan, baik sosial, politik maupun keagamaan, harus tetap dijunjung tinggi untuk menghindari NU dari sikap radikal atau ekstrem (tathorruf). Papar mantan aktifis ini. [im/nda]




















