Siantar — Masuk ke dalam zona merah Pandemi Covid-19 ternyata tidak membuat kota Siantar, Sumatera Utara, bebas dari kerumunan warga. Justru, beberapa hari pasca ditetapkan sebagai zona merah, sebuah kerumunan yang sebelumnya tak pernah terjadi, malah terjadi di Lapangan Adam Malik, Kamis (14/5/2020).
Informasi diperoleh, seribuan warga yang berkerumun ini adalah penerima Bantuan Sosial Tunai (BST) dari pemerintah untuk warga terdampak pandemi. Penyaluran ini beberapa hari sebelumnya digelar di halaman kantor pos. Namun, karena kerumunan dianggap mengganggu arus lalu lintas, pihak kantor pos memindahkan lokasi penyaluran bantuan ini ke Balai Bolon Lapangan Adam Malik.
Abaikan Social Distancing dan Masker
Pantauan di lokasi, sebelum giliran masuk ke Balai Bolon untuk menerima uang bantuan, setiap warga yang berjibun terlebih dulu mengantri di lapangan Adam Malik.
Mereka sebagian ada yang posisi berbaris mengikuti arahan Satpol PP. Sebagian membuat kerumunan masing-masing di tempat teduh seperti di depan baliho ajakan menanggulangi Covid-19. Dan banyak diantara mereka terlihat tidak pada posisi yang sesuai SOP penanganan Covid-19, semisal social distancing dan pakaian masker.
Satpol PP Kelabakan dan Ikut Dalam Kerumunan
Puluhan petugas Satpol PP yang datang ke lokasi terus-menerus berteriak agar warga menjaga jarak satu meter. Di dalam Balai Bolon, beberapa helai tali plastik telah terpasang sebagai sekat untuk pembatas jarak.
Namun, meski petugas terus-menerus berteriak dan melintas hilir mudik di antara barisan warga tersebut, upaya tersebut tampak tidak optimal. Jarak antara warga tetap masih sangat dekat. Baik yang di dalam Balai Bolon maupun yang di lapangan Adam Malik.
Tak Ada Koordinasi dari Kantor Pos
Seorang petugas yang ditanyakan bagaimana kerumunan seperti itu bisa terjadi, mengungkap jika Satpol PP baru diberitahu dan diminta bantuan oleh pejabat Kantor Pos setelah terjadi kerumunan yang tak terkendali.
“Orang ini (pihak kantor pos) tak ada koordinasi sama Satpol. Sudah kelabakannya orang ini baru datang ngasih tahu dan minta bantuan. Padahal kalau setidaknya dari semalam (diberitahu), kan bisa dirancang kian skemanya biar kerumunan gini nggak terjadi,” kesal petugas yang juga mengaku khawatir berada di antara kerumunan tersebut.
Hefriansyah Sempat Datang
Informasi diperoleh di lokasi juga menyebut walikota Hefriansyah sempat datang dan menyampaikan sesuatu kepada kerumunan warga. Namun belum jelas diperoleh apa yang dikatakan Hefriansyah saat datang ke kerumunan ini.
Pemko Diminta Jelaskan Ulang soal Zona Merah dan Pandemi
Terjadinya kerumunan seribuan warga — yang sebagian ada yang membawa anak-anak balitanya — di lapangan yang berjarak sangat dekat dengan kantor-kantor dan rumah dinas pemerintahan ini, membuat sejumlah warga mengaku khawatir sekaligus bingung dengan bagaimana sebenarnya cara menghadapi pandemi Covid-19 ini.
Rasmi, seorang warga yang melintas dan sengaja berhenti melihat kerumunan tersebut, bercerita jika beberapa pekan terakhir ia dan keluarga memilih mengurung diri di rumah setelah menonton siaran-siaran langsung yang disampaikan walikota dan petugas posko Covid-19 Pemko Siantar lewat Facebook.
Oleh siaran-siaran langsung tersebut, keluarganya takut dan memutuskan menghentikan segala aktifitas mencari nafkah yang harus mereka lakukan di luar rumah.
“Tapi di sini koq boleh ramai, tapi katanya udah zona merah pandemi, walikota pun adanya tadi, kalau udah bisanya ngumpul gini maunya disampaikanlah, di siaran langsungkanlah, biar kami pun berani keluar lagi cari makan, ya kan,” pintanya. [nda]
Foto-foto penyaluran BST terdampak pandemi Covid-19 di Lapangan Adam Malik, Pematangsiantar:
Baca juga:
Pandemi pun Bulan Puasa, Bisnis Pijat Lulur Tetap Aktif
Kata “Pribumi” di Status WA Sekda Siantar Jadi Polemik




























