isiantar.com – Pemandangan di Taman Bunga (Lapangan Merdeka) Kota Pematangsiantar, Minggu (21/10/2018), tampak sudah kembali seperti setahun lalu saat pemko belum menghabiskan uang Rp 600 juta untuk membangun tembok ditambah Rp 1,98 miliar untuk perubahan perwajahan taman yang oleh pemko disebut sebagai revitalisasi.
Kini di taman bersejarah itu kembali tampak gelaran tikar dan bangku milik pedagang yang diletak di atas rumput untuk ditawarkan kepada pengunjung.
Yang sedikit beda dengan ketika taman itu belum direvitalisasi yang disebut bertujuan agar taman lebih tertata dan nyaman sebagaimana konsep taman publik di peradaban maju adalah, selain gelaran tikar yang disisipi kehadiran pengamen kini pengunjung juga sudah bisa menemukan sejumlah pedagang ikan cupang (ikan laga) di taman pusat kota ini.

“Tadinya ke sini mau bersantai saja, tapi si anak mau naik ini naik itu, ya ginilah Bang, padahal kemarin sudah main ginian di Suzuya,” ujar Irwan (39) pengunjung taman bunga yang datang bersama istri dan dua orang anaknya yang berusia 12 dan 5 tahun. Irwan mengaku bekerja di salah satu bank swasta dan mengontrak rumah di Jalan Medan.
(Baca juga: Dugaan Korupsi Toilet Taman Bunga)
Di taman yang berjarak sekitar 30 meter dari ruang kerja walikota ini sekarang memang banyak oknum yang berbisnis menyewakan mainan anak berupa mobil-mobilan dan sejenisnya, seperti yang sedang dinaiki anak Irwan.

Tempat ini juga telah dikelilingi pedagang baju, aksesoris, mainan dan berjenis jajanan. “Ini sudah kayak pekan (pasar) jaman dulu ya, awal kemerdekaan, cocoklah,” celetuk Irwan lalu tersenyum lucu.
Pemko Dinilai Gagal Menata Kota
Sebagai orang yang baru dua tahun ini kembali ke kota Siantar, Irwan memiiliki penilaian tersendiri atas kota ini. Ia mengecap SD sampai SMA di Siantar, namun setelah kuliah dan kemudian bekerja yang mewajibkannya berpindah-pindah kota, ia melihat tidak ada perubahan yang signifikan dari kota ini dari sisi konsep pembangunan untuk pemerataan ekonomi.
“Dari dulu Siantar ini ya cuma (jalan) Sutomo-Merdeka, apa-apa semuanya di sini, jadinya uang yang beredar juga ya cuma di nikmati orang yang tinggal atau berbisnis di kedua jalan ini, masalahnya sekarang, emangnya kami yang tinggal di Beringin sana bukan orang Siantar?” Katanya.
(Baca juga: Tembok Rp 600 Juta Simbol Lunturnya Wibawa Pemko)
Ia melanjutkan, kalaupun ada pembangunan yang terjadi di luar kedua jalan tersebut, dalam amatannya pembangunan itu bukanlah beranjak dari konsep yang matang yang dibuat oleh pemko, tetapi inisiatif dari pihak-pihak swasta.
Sayangnya pembangunan oleh swasta itu juga menurutnya tidak diawasi dan dikoordinir dengan baik oleh pemko supaya secara simultan menjadi kawasan produktif yang perekonomiannya tumbuh merata. Tak hanya itu, bahkan sekedar pada soal memastikan agar pembangunan itu taat pada regulasi, Irwan ragu jika pemko sudah menjalankan fungsinya dengan baik.
(Baca juga: Robert Siregar Bantah Dirinya Pembuat Naskah Akademik PD PAUS)
Pasalnya ia melihat banyak bangunan milik pengusaha seperti hotel, ruko dan perumahan yang dibangun di tepi sungai atau di tempat-tempat terlarang yang sepengetahuannya adalah kawasan hijau atau lahan pertanian. “Janganlah dulu ke soal perluasan kota atau pemerataan ekonomi dari pembangunan yang terkonsep, Bang, hujan kemarin aja bisa-bisanya sampai 12 kelurahan yang banjir, berarti kan ada persoalan yang serius. Tapi katanya di berira itu gara-gara penduduk buang sampah sembarangan ya, Bang? hehe…,” gurau Irwan. [nda]
Baca juga:





















