isiantar.com – Kejahatan bully telah menjadi masalah besar. Belakangan kian sering tersiar peristiwa bully yang umumnya terjadi pada anak-anak sekolah di semua umur. Sejumlah forum juga kian sering digelar membahas dampak buruk bagi korban bully pun apa yang perlu dilakukan menghadapi itu.
Namun di tengah masih hiruk-pikuknya persoalan bully dibahas di sejumlah tempat, salah seorang guru kelas lima SD di Florida Amerika Serikat, secara naluri alamiahnya sebagai pendidik sepertinya sudah menemukan cara mengantisipasi kejahatan bully di sekolahnya. Dialah, Kathy Pitt.
Sejak 19 tahun lalu, setelah membaca berita kejahatan bully beberapa sekolah, Kathy Pitt membagikan selembar kartu kosong kepada setiap murid-muridnya. Ia membiarkan murid-muridnya menuliskan bagaimana perasaan mereka di sekolah di kartu tersebut, ingin sebangku duduk dengan siapa, ingin bermain dengan siapa, siapa di dalam kelas yang sering di intimidasi, siapa yang suka melakukan intimidasi, dan apa harapannya yang harus dilakukan.
Dan kesemuanya kartu yang telah bertuliskan isi hati murid-muridnya tersebut dikembalikan kepadanya dengan anonim, alias tanpa menerakan siapa penulisnya. Beberapa anak menuliskan nama yang berbeda setiap waktu, beberapa menuliskan nama yang sama, dan beberapa anak tidak menuliskan apapun sama sekali.
Setelah membaca kartu-kartu itu, ia selalu akan mendapatkan gagasan tentang apa yang harus diperbuatnya agar segala sesuatunya kemudian berjalan dengan baik di kelasnya. Dia kemudian bisa berbicara dengan baik terhadap anak-anak itu tentang perasaan mereka, memasangkan anak-anak itu dengan teman sebangku atau sekelas lain untuk membantu mereka berteman dan membuka diri, sembari terus memperhatikannya.
Lewat kartu yang secara berjadwal dia bagikan, Kathy Pitt juga menjadi mengetahui anak yang mana yang paling mungkin menjadi korban diintimidasi atau bully. Di sisi lain dia juga yakin sangat percaya jika kebanyakan anak sesungguhnya bermaksud menjadi pelaku bully, bahkan tidak menyadari jika mereka telah melakukan bully yang membuat korban sedih dan ketakutan.
Meskipun ada anak-anak tidak memasukkan namanya ke dalam kartu, sebagai guru, dia masih bisa menerka siapa penulis di kartu tersebut.
Metode itu telah ia terapkan selama belasan tahun dan membuahkan hasil yang memuaskan. Dia memiliki keyakinan penuh akan hal itu. Dia bahkan telah berbagi metode ini dengan guru dan orang tua lain yang tertarik untuk mencobanya pada anak mereka sendiri, atau kepada yang sekadar penasaran bagaimana cara kerjanya.
Menurut Kathy Pitt, di awal saat ia menemukan gagasan untuk membagikan kartu kosong itu, harapannya hanya sebatas untuk tahu siapa yang menjadi korban bully dan siapa yang tidak. Namun setelah diterapkan, ternyata metode itu memberikan kemungkinan untuk berbuat yang terbaik dalam aspek yang lebih luas.
Glennon Doyle Melton adalah salah seorang penulis terkenal yang anaknya merupakan salah seorang murid Kathy Pitt. Ia pernah masuk ke dalam kelas dalam rangka untuk mengetahui lebih banyak mengenai tugas matematika yang didapat anaknya di sekolah. Dan secara tidak langsung Glennon Doyle Melton melihat dan mengatakan bahwa metode yang dilakukan Kathy Pitt sangatlah membantu dan inovatif.
“Cerita ini bukan hanya tentang guru dan anak-anak murid. Cerita ini tentang keindahan yang terjadi saat kita melewati hari kita dan kita melihat orang-orang yang mungkin sudah lama tidak diperhatikan,” kata Glennon Doyle Melton. [feb]
Sumber: Dari berbagai sumber.




















