Simalungun — Gerakan Mahasiswa Indonesia (GMKI) Cabang Pematangsiantar-Simalungun menggelar Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) pada 16-18 Oktober 2020 di Nagori Laras II, Kecamatan Siantar, Kabupaten Simalungun. Kegiatan ini dihadiri kader GMKI dari berbagai komisariat. Diantaranya komisariat USI, komisariat STIE Sultan Agung, dan Komisariat NPS.
Di awal kegiatan, Sekretaris Panitia LDK, Cavin Fernando Tampubolon, menjelaskan LDK akan diisi dengan pembobotan kader lewat penyampaian sejumlah materi pengetahuan yang patut diketahui seorang pemimpin. Yakni materi tentang Christian Leadership (Kepemimpinan Kristen) oleh Sekjend HKI, Pdt. Dr. Batara Sihombing, M.Th., Manajemen Diri oleh Dosen UHKBPNP, Welmar Hutabarat., Critical Thinking (Berpikir Kritis) oleh Josep Napitu, Sejarah Gerakan Mahasiswa oleh Kristian Silitonga, dan materi mengenai Analisis SWOT oleh Rindu Marpaung.
Materi Sejarah Gerakan Mahasiswa yang kemudian dibawakan Kristian Silitonga menjelaskan bahwa, sejarah gerakan mahasiswa bukan sekadar soal pencapaiannya dalam pergerakan, namun hal terpenting juga tentang bagaimana mengaktualisasikan diri di dalam pergerakan tersebut yang kemudian dapat memberikan sebuah perubahan.
Pada materi Christian Leadership oleh Sekjen HKI Pdt. Batara Sihombing, dijelaskan bahwa Kepemimpinan Kristen adalah tentang bagaimana seseorang mampu menjadi pemimpin, baik bagi diri sendiri ataupun bagi khalayak ramai, serta menjadi tauladan. Dan kader-kader GMKI juga dituntut untuk mengetahui bentuk sebenarnya dari kepemimpinan yang teologis bagi organisasi kekristenan.
Tauladan maksudnya disini, mampu menjadi sosok yang dicontoh banyak orang karena memiliki kepribadiaan yang bagus yang mencerminkan seorang panutan. Sehingga seorang calon pemimpin harus mulai membenahi diri mulai dari hal kecil. Contohnya, mulai menumbuhkan sifat yang jujur dalam setiap keadaan.
Manajemen Diri, oleh Welmar Hutabarat, dimaknai dengan sederhana. Yakni, proses merubah ‘totalitas diri’ dari aspek intelektual, emosional, spiritual, dan fisik, agar tujuan kita bisa tercapai. Kita harus terlebih dulu me-manage diri sendiri agar nanti dengan sendirinya kita dapat me-manage hal-hal lain. Tujuan dari Manajemen Diri adalah untuk membuat diri lebih teratur dan terarah.
Pada materi analisis SWOT oleh Rindu Marpaung, dijelaskan bahwa analisis SWOT bertujuan membentuk kader-kader GMKI untuk lebih peka terhadap persoalan di sekitaranya, dan supaya kita dapat mengetahui apa kekuatan (Strength), Kelemahan (Weakness), Peluang (Oppurtunity) dan hal yang merugikan (Threat) dalam hal-hal yang ada dilingkungan kita.
Terakhir, materi Critical Thinking (Berpikir Kritis) oleh Josep Napitu, dijelaskan bahwa kader-kader GMKI dilatih untuk lebih kritis dalam segala sesuatu. Terkhusus untuk persoalan-persoalan yang terjadi di lingkungan masing-masing. Berpikir kritis adalah proses perkembangan kompleks yang berdasarkan pada pikiran rasional dan cermat. Menjadi pemikir kritis adalah sebuah denominator umum untuk pengetahuan yang menjadi contoh dalam pemikiran yang disiplin dan mandiri. Pengetahuan didapat, dikaji, dan diatur melalui berpikir. Berpikir kritis harus selaras dengan tingkat niat membaca yang tinggi.
Sejumlah peserta LDK ini seperti Harry David Levi Lingga dan Vernando Siburian mengaku sangat berterimakasih atas kegiatan Latihan Dasar Kepemimpinan ini. Mereka merasa kegiatan ini sangat berguna untuk pengembangan cara berpikir, dan menumbuhkan jiwa kepemimpinan dalam diri mereka.
Ditempat yang sama, May Luther Dewanto Sinaga, S.Th., selaku Ketua GMKI Cabang Pematangsiantar-Simalungun menjelaskan kegiatan ini merupakan program wajib dalam mempersiapkan kader-kader yang mampu bersaing ditengah perkembangan jaman saat ini.
“LDK ini merupakan salah satu program yang wajib dilaksanakan di organisasi GMKI, karena salah satu basis dari GMKI adalah proses kaderisasi. Dan dalam kegiatan ini, para kader GMKI, khususnya cabang Pematangsiantar-Simalungun dipersiapkan agar memiliki jiwa kepemimpinan sehingga memiliki kualitas dan sumber daya manusia yang mampu bersaing di tengah-tengah pesatnya perkembangan jaman saat ini”, jelas Luther.
“Kita berharap melalui kegiatan pelatihan ini akan melahirkan kader GMKI yang memiliki Spiritualitas tinggi, Integritas tinggi, serta Profesionalitas tinggi”, sambungnya.
Selain pemaparan materi, sejumlah rangkaian kegiatan lainnya juga digelar. Seperti sesi kreatifitas yang dilaksanakan di hari terakhir, yang pada sesi ini para kader GMKI dituntut bergotong-royong untuk menumbuhkan jiwa saling membantu yang akan dibutuhkan dalam tugas pengabdian diri dalam melayani masyarakat.
Terapkan Protokol Kesehatan yang Ketat
Kegiatan yang berlangsung tiga hari ini menerapkan protokol kesehatan (prokes) yang ketat dan melakukan pembatasan jumlah peserta.
Hema Oktoberia Damanik, S.Pd. selaku penanggungjawab program mengatakan, GMKI Cabang Pematangsiantar-Simalungun tetap berupaya menjalankan proses kaderisasi sebagai bentuk implementasi Pola Dasar Sistem Pendidikan Kader (PDSPK) 2006 dengan tetap menerapkan prokes demi kebaikan bersama.
“Kegiatan LDK ini dilaksanakan demi menjaga stabilitas organisasi dan tetap menjalankan proses kaderisasi di GMKI khususnya cabang Pematangsiantar-Simalungun,” katanya. “Meskipun demikian, protokol kesehatan tetap diterapkan dengan tegas, serta jumlah peserta pun dibatasi, demi kebaikan bersama”, tambah Hema lagi.
Amatan dilokasi kegiatan, panitia menyediakan tempat cuci tangan, hand sanitizer, masker, thermo gun serta penyusunan kursi yang berjarak. [PR/nda]




















