Siantar — Kegiatan bazar di kompleks GOR yang sudah berlangsung dua pekan ini membuat pengunjung Pasar Horas dan Dwikora yang merupakan pasar resmi menurun drastis. Situasi ini menjadi pengulangan dari yang terjadi pada momen hari raya Juni lalu, dimana pengunjung kedua pasar ini juga sepi akibat kemunculan pedagang-pedagang dadakan yang diorganisir tersebut.
Pengulangan ini juga kembali membuat para pedagang kecewa terhadap Pemko di bawah kepemimpinan Hefriansyah yang lagi-lagi dinilai tak mampu menunjukkan wibawanya lewat menegakkan peraturan.
“Kita inikan pedagang resmi, selalu dikutip uang restribusi dan sebagainya, tapi kenapa pedagang-pedagang ilegal itu tidak ditertibkan, apa sudah diresmikan dia itu jadi Pasar GOR? Diumumkanlah kalau udah resmi, kan gitu aturannya,” kata salah seorang pedagang pakaian di Pasar Horas, Jumat (13/12) siang.
Disampaikan mengenai informasi yang menyebut bahwa Hefriansyah juga sebenarnya geram dan sempat mencak-mencak kepada bawahannya setelah mendengar berlangsungnya bazar tersebut, pedagang ini menilai sama sekali tidak ada poin yang bermanfaat dari sikap seperti itu.
“Kalau memang tidak suka ya bubarkan, apalagi peraturan kita kan tidak membenarkan kegiatan berjualan di tempat seperti itu, ya bubarkan, tindak. Kalau cuma mencak-mencaknya aku pun jagonya, tapi itu dulu, udah lama kali itu,” ketusnya.
Terpisah, Ketua Perlindungan Persaudaraan Pedagang Pasar Bersatu (P4B) Nobel Marpaung, juga kembali meminta walikota Hefriansyah untuk membubarkan bazar di GOR tersebut.
“Kami pedagang sangat terpukul, Pak Walikota. Bukankah para pedagang di Pasar Horas Jaya dan pedagang Dwikora yang berjualan baju dan sepatu adalah warga Pematangsiantar yang selalu membayar restribusi berjualan yang seharusnya ada disejahterakan?” Ujar Nobel.
Sementara mengenai info yang menyebut bahwa Hefriansyah juga tidak senang atas kegiatan bazar tersebut, Nobel menganggap itu menjadi sesuatu yang terdengar ironis.
“Dan ironis lagi kami dengar bapak walikota tidak senang dengan berjalannya bazar tersebut, tapi kami pedagang heran Pak, kenapa masih berlanjut. Apa anak buah bapak yang bermain atau memang di-setting seperti itu, Pak? Sehingga terkesan perduli,” kata Nobel mengakhiri. [nda]




















