Siantar — Pembukaan bazar atau pasar dadakan yang semakin sering terjadi di Siantar dengan mengambil momen perayaan hari-hari besar khususnya hari besar keagamaan, dinilai sebagai bentuk komersialisasi yang memalukan dan harus dihentikan.
Penilaian itu merujuk dimana bazar-bazar yang tersebut digelar di tempat-tempat melanggar aturan, mewajibkan calon pedagang untuk membayar uang lapak hingga jutaan rupiah, dan di saat yang bersamaan pasar dadakan tersebut mengabaikan kenyamanan dan ketentraman publik.
“Mau bazar, expo, pameran, atau fair, itukan ada tempatnya tak harus mengambil fasilitas umum. Kenapa harus di fasilitas umum di atas jalan? Kenapa harus bayar-bayar uang lapak? Lalu nilai religi atau keagamaannya dimana? Makanya menurut saya ini komersialisasi terhadap hari-hari keagamaan,” ungkap salah seorang warga, Minggu (12/1/2020).
Pelaksanaan pasar dadakan seperti itu menurut warga yang berdomisili di Kecamatan Siantar Barat ini justru kemudian mengungkap sisi negatif lain dari pelaksana kegiatan tersebut, yaitu ketidakpekaannya terhadap kehidupan pedagang resmi serta khalayak masyarakat pengguna jalan.
Warga yang berprofesi sebagai wirausahawan ini juga mengaku kesal dengan argumen yang sering diucapkan oleh panitia pasar dadakan maupun orang-orang yang mendukung kegiatan tersebut yang dinilai berpotensi merusak tatanan yang telah ada. Argumen dimaksud yaitu, bahwa warga di sekitar lokasi kegiatan tidak keberatan.
“Jadi maksudnya sekarang boleh atau tidaknya melakukan sesuatu sudah diserahkan kepada warga sekitar? Mau melakukan ini boleh koq karena masyarakat sekitar setuju, mau mendirikan ini tak boleh karena masyarakat sekitar tak setuju, mau gitu maksudnya? Jangan dong.
Makanya saya minta semua pihak agar berhenti membuat pasar-pasar dadakan di atas fasilitas umum seperti itu yang seringnya menggandol (momen) perayaan hari-hari keagamaan, malu kita,” ujarnya mengakhiri. [nda]
Baca juga:
Niat Pemko Hentikan Polemik Lapangan Adam Malik Dipertanyakan
Ketua DPRD Siantar: Pemko Tak Serius Tuntaskan Krisis Lahan




















