Siantar — Kemunculan sosok Asner Silalahi di kancah politik Siantar kini paling menuai sorotan. Ada beberapa figur lain yang memang juga menyatakan akan ikut dalam pilkada. Tetapi, dibanding figur-figur itu, Asner yang secara gestur (setidaknya lewat publikasi melalui baliho-balihonya) yang paling menunjukkan keseriusan untuk hal itu.
Namun bersamaan dengan banyaknya sorotan itu banyak pula pihak yang mengkritisi Asner.
Keseluruhan kritikan-kritikan tersebut terkonsentrasi menyoal visi yang diusung Asner yang tercantum di semua baliho-balihonya, yakni, keinginan “Mewujudkan Infrastruktur Handal yang Terintegrasi untuk Pertumbuhan Ekonomi di Kota Siantar“.
Oleh pihak-pihak yang mengkritisi, frasa ‘Mewujudkan [pembangunan] Infrastruktur’ pada visi tersebut dinilai sebagai kegagalan Asner memahami wilayah Siantar. Sebab bagi mereka, kota Siantar yang kecil telah penuh dengan bangunan-bangunan, pula sudah lengkap dengan segala infrastruktur yang dibutuhkan, sehingga tak ada lagi ruang bagi pembangunan infrastruktur baru (sebagaimana makna yang mereka tangkap dari visi Asner itu). Tentang infrastruktur, menurut pengkritisi, yang mungkin dilakukan hanya tinggal sekadar perbaikan atau pembaharuan atas yang sudah ada.
Namun, ketika didaulat untuk berbicara di kantor DPD Nasdem sebelum pengembalian formulir pendaftarannya sebagai calon walikota Kamis (17/10) kemarin, secara tidak langsung Asner meluruskan kesalahpahaman pihak-pihak dalam memaknai visinya tersebut.
Asner meluruskan, bahwa Mewujudkan Infrastruktur Handal yang Terintegrasi padavisinya tersebut adalah lebih ke soal penataan ruang yang harus dilakukan secara tepat, supaya kemudian seluruh geliatnya bisa berdampak pada peningkatan perekonomian serta kualitas kehidupan warga kota ini secara optimal.
Dijelaskan oleh pejabat di kementerian PUPR ini, sesungguhnya kemajuan atau gambaran masa depan sebuah kota dapat dilihat dari tata letak atau desainnya. Maka itu, langkah berupa penataan kluster (gugus) untuk setiap sektor, baik perekonomian, perkantoran atau pendidikan, harus dilakukan secara tepat dengan mencermati semua aspek dan potensi yang ada. Termasuk potensi dari luar kota tersebut. Supaya nantinya semua sumberdaya di kota itu dapat terkelola optimal untuk kebutuhan sekarang dan juga untuk masa depan.
Tentang “pembangunan terintegrasi” yang ia paparkan, Asner turut memberi contoh mikro yang dia ambil dari situasi kontras yang faktual yang sekarang terjadi di kota ini.
“Yang terjadi kita lihat di kota Siantar, pada saat ini kalau datang hujan dua jam, sudah banjir, belum pernah terjadi selama saya sampai S2 di Siantar, ini adalah salah satu contoh dari pembangunan drainase yang tidak terintegrasi mau ke mana air ini dibuang,” jelas Asner.
Selanjutnya ke depan, dengan adanya pondasi berupa Infrastruktur Handal yang Terintegrasi untuk Pertumbuhan EkonomiAsner berniat mengembangkan kota ini menjadi sejenis kota satelit atau kota penunjang bagi kota-kota yang ada di sekitarnya. Niat itu beranjak dari amatan terhadap perkembangan teranyar kota-kota di Sumatera Utara, termasuk Kabupaten Batubara dan kawasan Danau Toba.
“Saya melihat bahwa Siantar ini punya potensi menjadi kota penunjang atau kota satelit dengan melihat pembangunan atau apa yang akan dilaksanakan di sekitar Siantar. Pertama, adalah pelabuhan [Kuala Tanjung] yang ada di Batubara, bagaimana mereka bisa nanti yang dari pelabuhan sana belanja di kota Siantar.
(Kedua) Kawasan danau Toba, bagaimana mereka berakhir pekan harus di Siantar. Siantar dikenal dengan kuliner, inilah (salah satu) yang akan kita lihat peluang itu,” papar Asner.
Usai pengembalian formulir tersebut, dan kemudian wawancara dengan sejumlah wartawan, Asner kembali tampak bersemangat mengungkap konsep-konsep lainnya yang telah dia rancang untuk Siantar. Salah satunya, menjadikan kawasan Pematang (kelurahan Simalungun, bendungan sungai Bah Bolon) menjadi Kota Warna-warni.
“‘Kota warna-warni’ itu menjadi daerah wisata pejalan kaki, kita tata nanti itu, ada contohnya di Yogja itu, kita cat rumahnya berwarna-warni, kita berikan pemahaman kepada masyarakat bagaimana menerima sebuah perubahan untuk wisata,” ujarnya. [nda]