isiantar.com – Konferensi Cabang (Konfercab) Nahdlatul Ulama ke-VII Kota Pematangsiantar yang sukses digelar Minggu, 11 Maret 2018, di Siantar Hotel Convention Hall, telah menetapkan H Maranaik Hasibuan MA, sebagai Ketua Tanfidziyah terpilih untuk masa khidmat 2018-2023.
Maranaik terpilih lewat sidang pleno yang dipimpin oleh dua pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumut, H. Zainul Irfan Harahap dan Fadly Yasir, yang telah mendemisionerkan pengurus PCNU Pematangsiantar masa khidmat sebelumnya .
Dalam sidang pleno tersebut, Maranaik yang berkompetisi dengan Armansyah S.Pdi, menang dengan selisih 2 suara. Maranaik memperoleh sebanyak 5 suara dan Armansyah sebanyak 3 suara. Konfercab juga menetapkan Drs. H. Muhammad Nuh Nasution Mpd, sebagai Ketua Rois Suria terpilih.
Untuk penyusunan kepengurusan, sidang pleno menetapkan 7 orang formateur yang terdiri dari 4 dari unsur Majelis Wilayah Cabang (MWC) yakni dari kecamatan Siantar Barat, Siantar Utara, Siantar Sitalasari, dan Marihat. Lalu 3 orang dari Rois Suria dan Ketua Tanfidziah terpilih ditambah mantan Ketua Tanfidziyah. Formateur ini diberi waktu dua minggu untuk menyusun kepengurusan NU Kota Pematangsiantar yang baru.
Dalam kata sambutan sebagai ketua terpilih, Maranaik Hasibuan menyampaikan program kerjanya ke depan yang dinamai sebagai program “6 Punya”.
- Punya pemahaman Alwussunah Wal Jamaah Wannahdia yang utuh, membangun rumah besar NU yang mampu menaungi semua banom-banom.
- Punya kemampuan menghidupkan NU dan Banom-banomnya.
- Punya kemampuan membangun kekompakan, keutuhan, dan kerjasama semua pengurus.
- Punya kemampuan membangun sistem perokonomian yang mandiri di tubuh NU Kota Pematangsiantar.
- Punya kemampuan menghidupi dan menjalankan program-program NU seperti Lailatul Ijtima’ Itiqhosah secara rutin dan membangun struktur NU sampai ke kelurahan.
- Punya kemampuan bersinergi dengan pemerintah dan menjaga keutuhan NKRI dalam bingkai kebhinekaan.
Selanjutnya sebagai Ketua Rois Suria terpilih, H Muhammad Nuh Nasution dalam kata sambutan dan sekaligus menutup acara menyampaikan bahwa NU harus bangkit dan memiliki kiprah sesuai dengan khittah NU tahun 1926, menjaga islam nusantara yang berbasis paham ahlussunah wal jamaah, dan mengaktifkan kembali sistem pengkaderan NU yang terstruktur.
Sejarah singkat NU di Pematangsiantar
Dalam sambutannya itu Muhammad Nuh Nasution yang juga Ketua Yayasan Perguruan Tinggi SAMORA juga menyempatkan mengurai sekilas sejarah perjalanan NU di Kota Pematangsiantar.
Beliau menuturkan bahwa perjalanan Nahdlatul Ulama adalah perjalanan bangsa Indonesia dan perjanan dunia internasional, sebab Nahdlatul Ulama Adala organisasi yang menginternasional. Cabang Cabang Nahdlatul Ulama ada di Amerika, Cina, dan negara negara lain. Sejarah berdirinya juga adalah berawal dari komite Hijaz yang berangkat dari Saudi Arabia
Waktu itu betapa para Kiyai dan ulama Jawa gundah gulana mendengar kabar bahwa makam Rasulullah Saw akan diratakan dengan tanah atau dibongkar oleh penguasa Arab Saudi yang baru dibawah kepemimpinan Ibnu Saud ditopang penasehat Wahabi. Para ulama saat itu berupaya keras mencari cara bagaimana mencegah pihak penguasa Hijaz (Arab Saudi) agar tidak membongkar makam Nabi Muhammad saw, dan menghilangkan segala artefak-artefak islam dengan mengatasnamakan bidah yang membabi-buta.

Coba bayangkan, ketika itu Indonesia belum merdeka dari penjajahan, dalam keadaan serba susah, para Ulama Aswaja di Jawa masih sempat mencermati apa yang tengah terjadi di Hijaz. Waktu itu Indonesia masih dijajah Belanda tapi ulama telah berpikir dan berjuang dengan jiwa internasional.
Nahdlatul Ulama sejak berdiri 92 tahun silam adalah bahagian dari perjuangan bangsa merebut dan memperjuangkan kemerdekaan republik ini. Ini terlihat saar Hadrotussyekh KH Hasym As’ari mengeluarkan resolusi jihad melawan belanda pada tahun 1945 — serta tahun-tahun berikutnya NU aktif melawan PKI. Maka Nahdlatul Ulama bukan lagi Ormas tapi sudah Aset Bangsa.
Perjalanan panjang Nahdlatul Ulama sejak dari memperjuangkan kemerdekaan Indonesia sampai melebur mengisi kemerdekaan melalui partai politik NU. Dan NU sejak pemilu 1955 dan 1971 telah banyak meraih perolehan suara dan menempatkan wakil-wakilnya di parlemen maupun konstituante.
Untuk NU Kota Pematangsiantar, menurut pria kelahiran Mandailing Natal pada Oktober 1948 ini, saat dirinya masuk ke kota Pematangsiantar pada tahun 1968 dan ikut dalam PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia), di Pematangsiantar saat itu NU sudah kuat. Hal itu dibuktikan dengan adanya 4 orang anggota DPRD dari Partai NU, antara lain Alm. Idris Basir Saragih, Alm. Keman Sinaga, Alm. Rusli Pulungan, (sementara satu orang lagi, beliau lupa namanya), dan ada yang berasal dari utusan ulama yang juga merupakan kader NU yakni Alm. H Zubeir Harahap.
Pengabdian mereka selama menjabat sebagai anggota DPRD cukup diperhitungkan dan NU memiliki posisi tawar yang tinggi di kota ini. Banyak aset-aset NU saat itu, yang kini hilang satu demi satu. Dalam kiprah sosial kemasyarakatan, mereka juga aktif terlibat dan selalu menghidupkan tradisi-tradisi Nahdlatul Ulama.
Perjalanan politik bangsa ini pada tahun 1973-an mengharuskan empat partai Islam yaitu NU, Permusi, PSII dan Perti sepakat melakukan fusi yang dituangkan dalam deklarasi tangal 5 Januari 1973. Deklarasi tersebut menyatakan bahwa keempat partai Islam telah seia sekata untuk memfusikan diri politiknya dalam suatu partai politik yang diberi nama Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Segala kegiatan non politik tetap dikerjakan dan dilaksanakan organisasi masing-masing sebagaimana sedia kala. Dan PPP di Kota Pematangsiantar saat itu dipimpin oleh Alm. Muhammad Kamal dari Partai NU sebab dari semua partai yang berfusi itu, NU memperoleh anggota DPRD terbanyak.
Sempat terjadi kevakuman di tubuh NU antara partai politik dan jamiyah. Maka tahun 1984 melalui Muktamar di Situbondo salah satu keputusannya adalah NU keluar dan tidak terikat dengan salah satu partai politik manapun dan kembali ke khittah 1926, dan membebaskan kadernya berada di partai politik manapun. Pasca ini NU sebagai organisasi Jamiyah dipimpin Alm. Rahman Saragih dan Drs Juned Parinduri sebagai Rois Suria yang saat itu menjabat Kakandepag Simalungun.
Selanjutnya secara berturut-turut perjalanan Nahdlatul Ulama di Kota Pematangsiantar sejak tahun 1990-an hasil dari Konferensi Cabang ke-III adalah Alm. Ali Umar Hutabarat sebagai ketua, M. Nuh Matondang sebagai sekretaris dan Drs Khairuddin Nasution sebagai dewan Rois Suria.
Konferensi Cabang ke-IV, Drs H Muhammad Nuh Nasution M.Pd sebagai ketua, Alm. Drs H Porang Harahap sebagai sekretaris (yang sempat menjabat sebagai ketua KPU Simalungun periode 2013-2018) dan H Abdul Halim Lubis MM sebagai dewan Rois Suria.
Konferensi Cabang ke V, Drs Dahmanur sebagai Ketua, Yusri Batubara MM sebagai Sekretaris, serta Drs Khairuddin Nasution sebagai dewan Rois Suria. Konferensi Cabang ke-VI, Drs H mustafa kamal Siregar terpilih sebagai ketua, Rustam Asari Ritonga sebagai sekretaris dan Drs H Syarwan sebagai dewan Rois Suria. [nda]




















