Siantar — Pimpinan tertinggi Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), Ephorus Victor Tinambunan, menyinggung secara komprehensif persoalan lingkungan pada Danau Toba.
“Danau Toba ini diperlakukan seperti tong sampah raksasa, itu memprihatikan,” katanya dalam Podcast di Kanal Youtube Rhenald Kasali, Minggu (15/6/2025).
Victor menyinggung seluruh persoalan di sekitar Danau Toba yang selama ini seolah enggan dibicarakan, sebab dikesan seolah bukan bagian kerja kerohanian gereja. Mulai dari pembabatan hutan yang telah menyebabkan kebanjiran berulang, berbagai peternakan yang membuang limbah ke danau, hingga persoalan enceng gondok.
“Kalau kondisinya (dikategorikan antara) sehat – sakit, dia sedang sakitlah,” ungkapnya.
Tidak cuma melihat dari sudut pandang ekologi, Victor juga melihat dari sudut kearifan Batak.
“Waktu itu (dulu) orang untuk bicara sembarangan, cakap kotor, maaf, di danau itu, tabu. Apalagi meludah ke danau, itu tabu. Apalagi kalau sampai buang air kecil, itu sangat ditabukan dengan pemahaman menghargai, rasa hormat, terhadap danau. Jadi danau itu sebagai subjek itu dipahami, hidup, gitu.
Kalau sekarang, jangankan buang air kecil, buang air besar, prof, buang air besar-besaran pun ke danau dilakukan,” bebernya.
Dalam Podcast yang diberi judul HKBP: Gereja Umat yang Utamakan Pendidikan & Kini Hadapi Tantangan Transformasi ini, Victor Tinambunan juga menjawab sinisme yang ditebar oleh segelintir orang, yang mencoba menangkal kepeduliannya terhadap pelestarian lingkungan dan kearifan lokal, dengan tudingan gereja telah berpolitik. (*)




















