Siantar — Terjadinya pergeseran tren lapangan kerja ke era ekonomi digital saat ini, disikapi Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Pematangsiantar dengan mengadakan pelatihan yang kompatibel dengan realita tersebut. Salah satu jenis pelatihan dimaksud, yakni pelatihan Sosial Media Influencer.
Pelatihan ini dimulai sejak tanggal 17 September 2026 lalu, dan akan berlangsung selama 20 hari, di Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Rafa Pematangsiantar.
Di era ekonomi digital saat ini, keterampilan menjadi sosial media influencer memang sangat mendukung untuk diterapkan dalam berbagai sektor. Dimana dengan keahlian menjadi influencer atau content creator, memungkinkan seseorang menghasilkan uang secara mandiri, tanpa harus bergantung pada lowongan kerja di perusahaan formal yang memiliki aturan yang ketat.
Selain itu, keterampilan ini juga dapat digunakan untuk mendorong usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk naik kelas. Dengan kemampuan membuat konten yang baik terhadap produknya sendiri, pelaku usaha akan dapat mempromosikan barang atau jasanya secara mandiri dengan jangkauan yang jauh lebih luas. Bahkan, berpeluang untuk disewa atau diajak untuk berkerja sama oleh perusahaan yang lebih besar.
Elin Sayuti, Kepala Bidang Pelatihan Kerja di Disnaker Pematangsiantar, mengatakan, gagasan mengadakan pelatihan Media Sosial Influencer ini juga berasal dari para pencari kerja (Pencaker) yang datang ke kantor Disnaker. Dimana selain menanyakan loker, mereka juga kerap bertanya perihal program pelatihan. Dan pelatihan untuk menguasai pemanfaatan media sosial, menjadi salah satu yang paling banyak dimintakan.
“Seusai kebutuhan masyarakat kita. Para pencari kerja datang ke sini, di sisi lain mereka juga bertanya pelatihan. Pada saat mereka menanyakan pelatihan, kita kan bertanya ‘memang butuhnya pelatihan apa?’ Jadi berdasarkan itulah, berdasarkan kebutuhan masyarakat kita, kami membuat pelatihan ini,” terang Elin, pada Jumat (18/9/2026).
Selain Sosial Media Influencer, di waktu bersamaan Disnaker juga menggelar dua jenis pelatihan lainnya di tempat yang berbeda-beda. Yakni pelatihan Public Speaking di LPK Seikou, dan pelatihan
Bahasa Jepang di LPK Kaizen.
Kesemuanya pelatihan ini kata Elin berbasis kompetensi sesuai Peraturan Menteri Tenaga Kerja.
Sama dengan Media Sosial Influencer, pelatihan bahasa Jepang juga digelar berdasarkan permintaan yang tinggi dari para Pencaker. “Sekarang itu orang banyak suka itu ke Jepang. Kalau ke Malaysia malah berkurang,” papar Elin.
Adaptasi terhadap karakter masyarakat Jepang yang memiliki disiplin yang ketat dan adab yang kuat, turut menjadi aspek yang diperkenalkan dalam materi pelatihan.
Keseluruhan pelatihan ini dipimpin oleh instruktur-instruktur yang telah memiliki sertifikat pendukung. Hanya saja, kata Elin, anggaran yang sedikit membuat jumlah kegiatan pelatihan di Disnaker tidak begitu banyak. (nda)




















