isiantar.com – Sektor perparkiran di kota Siantar terus menjadi sorotan. Sorotan antara lain akibat ketidakterbukaan pemko mengenai daftar titik parkir, adanya kutipan di lokasi yang ada rambu larangan parkir, serta karcis parkir yang tak diberikan kepada pemilik kendaraan yang dikutip uang parkirnya.
“Memang na so adong do dilehon tu hami karcis parkir, molo ndang porsea hamu sungkun hamu si Esron i, i son do jabuna, ndang margabus ahu (memang tidak ada diberikan kepada kami karcis parkir, kalau kalian tidak percaya tanyakan saja sama Esron, di dekat sininya rumahnya, saya tidak berbohong),” kata salah seorang petugas parkir di depan salah satu rumah makan di Jalan Melanthon Siregar, Jumat (2/11/2018) siang, ketika seorang warga meminta karcis atas uang parkir yang sudah dia bayarkan.
Menurut petugas yang mengenakan rompi bertulis DISHUB itu, sebagai yang ditugasi mengutip parkir dia sama sekali tidak pernah diberikan karcis oleh Dishub. Meski dia mengaku sadar bahwa seharusnya dia punya karcis yang untuk diberi kepada setiap pemilik kendaraan yang dia kutip uang parkirnya.
Petugas tersebut bahkan menunjuk ke arah rumah Kadishub Esron Sinaga (yang memang tidak jauh dari tempat itu) menyarankan agar si warga menanyakan langsung kebenaran ucapannya itu kepada Esron.
Tentang penyebab tidak beredarnya karcis parkir di kota ini memang masih terus menjadi pertanyaan publik, dan pemko dibawah kepemimpinan Hefriansyah saat ini belum pernah menjelaskannya.
Sementara menurut keterangan pejabat di Badan Pengelola Keuangan Daerah (BPKD) selaku intansi yang berwenang untuk mencetak karcis parkir, mereka selalu mencetak karcis parkir dan selalu menyerahkannya kepada Dishub.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) di BPKD, Olo Situmorang, yang diwawancarai di ruang kerjanya di Lantai II gedung BPKD Jumat (2/11) sore mengatakan, untuk tahun 2018 ini pihaknya telah mencetak dan menyerahkan sebanyak 36.960 blok karcis parkir kendaraan roda dua kepada Dishub. Juga sebanyak 26.400 blok karcis untuk kendaraan roda empat, dan sebanyak 100 blok untuk kendaraan roda enam.
Setiap blok karcis tersebut berisi 100 lembar karcis. Selain itu pihaknya kata Olo juga telah mencetak dan menyerahkan 1.200 lembar karcis untuk parkir berlangganan.
Adiaksa Usir Wartawan
Dalam wawancara dengan Olo Situmorang sore itu ada satu pertanyaan yang Olo tidak berkenan untuk menjawabnya. Poin itu yakni tentang besaran alokasi dana dan total yang telah digunakan untuk mencetak karcis-karcis tersebut.
Olo yang terlihat sungkan menyarankan supaya pertanyaan itu ditanyakan langsung kepada atasannya yakni Kepala BPKD Adiaksa Purba.
Dan ternyata persis saat wawancara dengan Olo usai, Kepala BPKD Adiaksa Purba terlihat melintas di depan pintu ruangan Olo. Wartawan pun langsung menyapa dan menyampaikan niat untuk mewawancarainya.
Namun sapaan wartawan itu justru dibalas Adiaksa dengan berbicara lantang ke seorang lelaki berkulit gelap yang sedang berdiri di koridor lantai II gedung tersebut. “Urusan apa dia untuk melangkah naik ke atas, tanggungjawabmu itu,” ucap Adiaksa kepada pria tersebut, sementara telunjuknya menunjuk persis ke wajah si wartawan.
Ucapan lantang Adiaksa itu direspon pria itu dengan mendekati wartawan dan langsung melingkarkan satu lengannya ke leher si wartawan serta berupaya menggiringnya.
Wartawan yang mengira itu hanya sebuah candaan masih sempat melanjutkan perihal topik yang hendak ditanyakan kepada Adiaksa. Namun Adiaksa ternyata tak lagi menggubris dan melangkah menjauh. Adiaksa meninggalkan wartawan dalam posisi leher dipiting oleh pria yang dia perintahkan itu.
Sepeninggal Adiaksa, wartawan pun mendebat pria suruhan Adiaksa itu. Wartawan meminta pria itu melepaskan pitingannya, permintaan dituruti namun dia terus berdiri menempel di belakang wartawan seolah ingin mengintimidasi. Dan dia terus mengekori dengan jarak yang sangat dekat saat wartawan sudah akan beranjak keluar dari gedung itu.
Setibanya di Lantai I dimana wartawan akan keluar gedung tersebut, di meja dekat pintu masuk gedung tersebut terlihat beberapa pegawai BPKD sedang berkumpul. Seorang diantaranya mereka justru sedang serius bermain game di komputer yang ada di meja. Sementara yang lain terdengar merencanakan untuk patungan membeli gorengan.
Mendengar rencana itu pria suruhan Adiaksa yang sempat memiting dan masih mengekori wartawan, seketika melangkah lebih cepat mendahului wartawan dan langsung berteriak ke arah pegawai-pegawai di meja tersebut. “Molen, molen, beli molen,” teriaknya kuat. [nda]
Baca juga:
Di Siantar, Serapan Dana Pembangunan Minimal tapi Perjalanan Dinas Maksimal




















