isiantar.com — Pada Sabtu 23 Februari 2019 lalu salah satu media online di Pematangsiantar, Dekrit.com, menggelar dialog publik bertema Evaluasi 2 Tahun Kepemimpinan Hefriansyah Wali Kota Pematangsiantar, di Hotel Sapadia.
Dialog publik ini dihadiri seratusan orang dari berbagai latarbelakang. Ada lima yang menjadi keynote-speaker atau pembicara utama. Mereka yakni Prof Sanggam Siahaan (Rektor UHN Siantar), Anggiat Sinurat (akademisi), Kristian Silitonga (Direktur SoPo), dr Sarmedi Purba, dan Pdt Saut Sirait (akademisi).
Di acara yang menjadi semacam ruang evaluasi terhadap kinerja Hefriansyah setelah dua tahun menjabat walikota ini, sembilan puluh persen yang disampaikan para yang hadir berbentuk kritikan terhadap kinerja dan sikap Hefriansyah. Bahkan, ada pula yang hingga melontar makian.
Selain evaluasi terhadap aspek ekonomi, pemerintahan, layanan publik, pemuda, dan budaya, beberapa orang di acara ini juga menuturkan kisah dan kesan yang mereka dapatkan lewat pengalaman bertemu dan berinteraksi langsung dengan Hefriansyah.
Diantara mereka yang menceritakan pengalaman itu ialah Hermanto Sipayung, Mahadi Sitanggang, dan Pdt Saut Sirait.
Hermanto Sipayung: Hefriansyah Walikota Tak Berbudaya
Hermanto Sipayung, seorang jurnalis, di acara dialog publik ini melontarkan banyak kritikan terhadap Hefriansyah. Dan pada satu momen ia turut menceritakan kenangan saat ia mendatangkan tokoh NU, Gus Sholah, ke Siantar pada Desember 2017 lalu.
Diceritakan, sehubungan rencana kedatangan Gus Sholah, dia menemui Hefriansyah untuk memberitahu konsep acara dan latarbelakang kedatangan Gus Sholah tersebut. Salah satunya yakni untuk mempromosikan Siantar sebagai kota toleransi.
Ternyata pemberitahuan soal rencana kedatangan Gus Sholah itu tidak direspon positif oleh Hefriansyah. “Bang, gak perlu di Siantar ini toleransi toleransi, Bang, Siantar ini toleransi.” Demikian kata Hefriansyah ke Hermanto saat itu.
Selanjutnya, setelah Gus Sholah tiba di Siantar, Hermanto mengaku sempat menyaksikan perbincangan antara Hefriansyah dengan Gus Sholah dimana Hefriansyah terkesan ingin mengajari Gus Sholah tentang Pancasila.
“Saya menghadirkan guru bangsa, tokoh NU, diajarinya pula soal Pancasila, walikota apa itu, memang tak berbudaya,” kata Hermanto.
Pdt Saut Sirait: “Kerjamu hanya untuk foto-foto”
Mantan anggota Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu yang juga dosen STT HKBP Nomensen, Pdt Saut Sirait, yang ikut menjadi keynote speaker dalam dialog publik ini, turut menceritakan pengalamannya dari beberapa kali bertemu dan berinteraksi dengan Hefriansyah.
Salah satu pengalaman itu berkaitan dengan momen saat kedatangan Wakil Ketua MPR ke kota Siantar untuk menjadi pembicara sebuah seminar pada bulan Januari lalu.
Pdt Saut lalu menemui Hefriansyah untuk memberitahu bahwa Wakil Ketua MPR telah sampai. Maksud Pdt Saut supaya pemko melakukan penjemputan. Dan Hefriansyah pun menyuruh seseorang untuk menjemput Wakil Ketua MPR itu dengan mobil yang dibawah standar protokoler.
Pdt Saut merasa kesal mengetahui jenis mobil penjemputan yang tak sesuai standar protokoler itu. Apalagi sebelumnya, Hefriansyah juga pernah menyuruh seorang sopir untuk menjemput seorang pejabat yang lain, yang supir tersebut cuma memakai kaos oblong dan sendal.
Setelah selesai acara seminar dan bertemu lagi dengan Hefriansyah, Pdt Saut pun menegur Hefriansyah.
“Maaf, Pak, jangan marah-marah, foto dulu foto dulu,” begitu respon Hefriansyah kepadanya.
“Saya bukan soal marah-marah, kerjamu hanya untuk foto-foto saja,” balas Pdt Saut kecewa.
Mahadi Sitanggang: Begitu Kepala Daerah?
Seorang undangan yang juga hadir di acara diskusi ini ialah wartawan senior Mahadi Sitanggang.
Mahadi turut menceritakan bagaimana pandangannya terhadap sosok Hefriansyah dari sudut yang berbeda.
Mahadi memgatakan bahwa ia mengenal baik mantan bupati Kabupaten Batubara OK Arya — yang disebutnya merupakan “guru” Hefriansyah. Dimana perkenalan mereka dimulai saat dia ditugaskan meliput di kabupaten tersebut.
Kemudian, beberapa hari setelah Hulman Sitorus meninggal dunia, Mahadi sempat bertemu dan berbincang lagi dengan OK Arya, dan dia menanyakan pandangan OK Arya terhadap Hefriansyah yang otomatis akan dilantik menjadi walikota menggantikan Hulman.
Kata Mahadi pandangan OK Arya saat itu adalah Hefriansyah tidak mampu menjadi walikota. Dan OK Arya sudah berpesan kepada Hefriansyah supaya nantinya setelah dilantik jadi walikota, Hefriansyah jangan coba-coba mendatangkan investor ke Siantar supaya terhindar dari resiko terkena hukuman masuk penjara.
“‘Lima tahun saja kamu jadi walikota duduk dengan tenang, itu akan tenang’ demikian pesan OK Arya kepada Hefriansyah,” kata Mahadi.
“Jadi dia (Hefriansyah) hanya menyelamatkan diri sendiri, jangan berharap ada pembangunan di Siantar,” ungkap Mahadi lebih lanjut.
Dari pengenalannya terhadap latarbelakang dan lingkungan pergaulan Hefriansyah itu pula, Mahadi berpesan kepada semua yang hadir di acara tersebut agar tidak pernah berpikir bahwa Hefriansyah menganggap dirinya sebagai walikota.
“Hefriansyah itu, bapak-bapak, jangan anggap dia itu walikota, bukan, kita menganggap dia itu walikota, tapi dia menganggap dirinya raja. Tengok komentarnya saat ditanya wartawan, ‘Pak habis pelantikan apa rencana bapak?’ ‘saya mau pulang makan,’ begitu kepala daerah? Kemarin di koran lokal ‘Pak, kenapa mobil bapak?’ ‘Suka-sukaku’ katanya, karena dia menganggap dirinya raja, raja absolut,” kata Mahadi.
Oleh karena menganggap dirinya sebagai raja, kata Mahadi, Hefriansyah layak masuk dalam daftar walikota fenomenal. [nda]
Baca juga:
Esron Tertinggi, Budi Terendah
Pemko Siantar Dinilai Berkontribusi atas Pengrusakan DAS Bah Kaitan
Komitmen Politik Hefriansyah Dihadapan Jenazah Hulman Sitorus




















