Siantar — Pemandangan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Tanjung Pinggir mengesankan ketidakmampuan pemko menangani persoalan sampah. Sampah tak cuma semakin menggunung, tapi juga semakin meluber ke badan jalan. Sementara di waktu bersamaan, tumpukan sampah yang belum diangkut juga masih terlihat di beberapa sisi kota.
Kondisi TPA Tanjung Pinggir itu ternyata tak sekadar jadi pemandangan belaka. Sebab beberapa narasumber menyebut adanya kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan. Ada pengendara pernah tergelincir tepat di luberan sampah yang telah membuat badan jalan menjadi licin dan berlubang. Akibatnya, sikunya terluka dan dibaluri rembesan sampah.
Ada juga yang sudah hampir setahun tak mau lagi melintasi kawasan itu karena tidak tahan dengan bau busuk yang ditimbulkan. Meski menghindari jalan itu, berarti membuat jarak tempuh ke rumahnya menjadi semakin jauh dan biaya yang lebih mahal.
Jika malam hari, menurut warga Siantar Martoba, bau busuk dari TPA bisa menguar hingga radius satu kilometer. Meski itu tidak selalu, sebab mungkin tergantung pada arah angin.
Seorang warga lain berkata aroma dari TPA pada malam hari bisa “lebih busuk” bila mengingat wacana sensasional yang pernah digadang pemko, yaitu akan segera membangun pembangkit listrik tenaga biomasa sampah (PLTSa). Menurutnya, pemko seharusnya bukan menggadang-gadang wacana sensasional yang justru bisa menambah beban psikologis masyarakat jika disandingkan dengan realita. Tapi cukup satu keberhasilan saja, sekalipun itu cuma yang keberhasilan yang sederhana, bila ada.
Sementara terkait kondisi ini, Dedi Tunasto Setiawan, selaku pejabat Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kota Pematangsiantar yang dilantik Hefriansyah pada Agustus 2019 lalu, hingga saat ini belum bisa dikonfirmasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan publik perihal persoalan penanganan sampah yang tampak semakin buruk tersebut. [nda]
Baca juga:
BLH Siantar Klaim akan Tinjau DAS Rusak yang Diduga Disebabkan Pebisnis Perumahan




















