Home Peristiwa Soal Rencana Bangun Mall di GOR, Seorang Warga Minta Dibangun Juga Bioskop

Soal Rencana Bangun Mall di GOR, Seorang Warga Minta Dibangun Juga Bioskop

SHARE
Konsultan PT Suriatama Mahkota Kencana saat memberi pemaparan dalam acara Konsultasi Publik AMDAL Optimalisasi Lahan dan Gedung GOR, di Hotel Horison, Senin (15/7/2019). (isiantar/nda).

Siantar — Berta Sitorus, 68 Tahun, salah seorang warga Kelurahan Pardomuan,  menyatakan sangat setuju dengan rencana pembangunan mall setinggi lima lantai di atas lahan Gedung Olah Raga (GOR), Jalan Merdeka. Dan meminta agar nantinya di pusat perbelanjaan itu juga dibuatkan gedung bioskop.

Pernyataan itu disampaikannya pada acara “Konsultasi Publik AMDAL Optimalisasi Lahan dan Gedung GOR Pematangsiantar” — yang menghadirkan pemerintah setempat dan sejumlah warga sekitar GOR—, yang digelar oleh PT Suriatama Mahkota Kencana yakni perusahaan pemenang tender pemanfaatan GOR, pada Senin sore (15/7/2019), di Hotel Horison Jalan Medan.

“Jadi terkait pembangunan GOR, saya sebagai pensiunan, sangat setuju. Karena belakangan ini datang gubernur ke kantor walikota, bertatap-muka di sana dengan warga, pembangunan di Siantar begitu-begitu aja, tidak ada kemajuan. Jadi dengan adanya pembangunan GOR terjadilah peningkatan mata pencaharian masyarakat sekitar.

Yang kedua, kalau bisa dibuat di sana, dibangun mall dibangun bioskop. Karena  saya kalau menonton ke Medan, ke bioskop. Jadi supaya jangan mengeluarkan dana,” kata Berta.

Siap Mendaftar Jadi Tukang Angkat Batu

Sebelum digelarnya konsultasi publik sore itu, Berta yang memperkenalkan diri sebagai seorang pensiunan PNS ini mengaku jika dia sudah bertemu dan berkonsultasi dengan Kepala Bagian Tata Pemerintahan (TAPEM) Junaedi Sitanggang soal rencana pembangunan mall tersebut sebelumnya. Kata Berta, Junaedi menyarankan, dirinya harus mendukung pembangunan mall tersebut.

“Di pembangunan itu, kalau saya sendiri saya sudah konsultasi dengan Tata Pemerintahan, TAPEM, Bapak Junaedi Sitanggang. Saya disarankan juga harus mendukung, sangat-sangat mendukung, dari pada di sana tempat-tempat orang-orang yang tak beres saya tengok, karena saya itu selalu seperti ‘polisi toba’ saya di sana untuk melihat lingkungan itu,” ucapnya.

Semacam bentuk balasan untuk dukungan yang diberikan terhadap rencana pembangunan mall itu, Berta lalu berharap agar nantinya pihak perusahaan mau memanfaatkan masyarakat sekitar GOR dalam proses pengerjaan bangunannya. Dan dia sendiri berencana untuk mendaftarkan dirinya sebagai tukang angkat batu di proyek tersebut nantinya.

“Jadi ini juga membantu masyarakat yang ada di sekitar GOR. Kami meminta, manfaatkanlah warga kami yang ada di sana untuk bekerja di sana nanti di dalam pembangunan bangunan tersebut. Mungkin saya nanti mendaftar tukang angkat batu, karena saya sudah pensiun,” ujarnya diikuti tawa kecil.

Pihak Pengelola Agar Pikirkan Pengalihan Tempat Tinggal Warga Sekitar GOR

Hal lain yang turut disampaikan Berta pada konsultasi publik sore itu semacam visi ke depan agar kelak lingkungan di sekitar mall itu — bila sudah jadi dibangun — akan terlihat indah dan nyaman.

Mengenai hal ini Berta bercerita bahwa dulunya, sebagai anggota PKK, ia berperan dalam menanam berbagai apotek hidup di lingkungan bagian luar GOR. Namun sekarang, dia melihat di atas lahan yang dulunya adalah taman PKK itu, sudah banyak berdiri bangunan tempat tinggal, yang bangunan-bangunan itu disebutnya sebagai rumah-rumah liar.

“Jadi sudah terjadi di sana pembangunan-pembangunan rumah-rumah liar sehingga merusak keindahan sekitar. Jadi harapan kami pembangunan mall itu diperhatikanlah nanti warga yang bertempat tinggal di sekitar GOR. Bagaimana diskusinya nanti, kemana mereka dialihkan, supaya nyaman,” katanya.

Tak luput juga Berta menyampaikan kepada pihak investor — melalui konsultan yang menjadi keynote speaker sore itu — bahwa warga di sekitar GOR masih banyak yang belum memahami dengan apa yang dimaksudkan dengan ‘pembangunan’.

“Jadi kepada bapak saya sampaikan, agak sulitnya warga di sekitar kami, kalau ada pembangunan, banyak yang tidak mengerti apa itu pembangunan,” kata Berta.

Perkataan Berta itu akhirnya sontak membuat ruangan bergemuruh oleh desis warga lainnya yang juga hadir di acara itu. Beberapa diantaranya terdengar meracau tak terima dengan perkataan-perkataan Berta sore itu. Tapi Berta tetap melanjutkan ucapannya, “Karena contohnya, Jalan Vihara, waktu dulu walikota RE Siahaan, banyak yang demo. Tetapi sekarang bagaimana Jalan Vihara? Sudah cantik, sudah banyak pemasukan,” katanya.

Sering Alami Kebanjiran

Acara konsultasi ini dimulai sekitar Pukul 14.30 WIB. Setelah kata sambutan dari sejumlah pejabat yang langsung dilanjut pemaparan mengenai AMDAL oleh konsultan PT Suriatama Mahkota Kencana, Berta merupakan orang pertama yang mengajukan diri untuk memberikan tanggapan, masukan, ataupun pertanyaan-pertanyaan terkait pemaparan yang disampaikan konsultan itu.

Sebelum menyatakan dukungan terhadap pembangunan mall dan juga penilaiannya terhadap masyarakat di sekitar GOR itu, kesempatan berbicara dimulai Berta dengan pertama sekali menyampaikan keluhan para warga yang berdomisili di belakang RS Vita Insani, yang disebutnya kerap mengalami kebanjiran.

Kata Berta, setiap kali hujan, meski cuma sebentar, di sepanjang Jalan Merdeka — mulai dari depan SMP Negeri 1 hingga ke depan Vita Insani — akan langsung digenangi limbah dan air. Dan genangan itu akan mengalir ke arah pemukiman penduduk di belakang Vita Insani, dan membuat mereka kebanjiran.

“Apabila terjadi hujan, saya sendiri selalu angkat sepatu. Kenapa? Nanti rusak sepatu saya, saya pikir,” katanya.

Menurutnya, banjir yang sangat merugikan warga itu disebabkan pembangunan gorong-gorong oleh pemerintah yang ukurannya tidak tepat. Maka itu, mewakili warga di sekitar belakang Vita Insani yang sering kebanjiran, ia meminta Dinas Lingkungan Hidup agar melakukan peninjauan ke lokasi tersebut.

Saat tiba di sesi memberikan jawaban atas saran, masukan, maupun pertanyaan dari para undangan tersebut, Lintong Pane selaku konsultan PT Suriatama Wahana Kencana yang menjadi keynote speaker acara itu, sempat merespon persoalan banjir yang dikeluhkan Berta itu dengan mengatakan bahwa persoalan itu bukanlah domain (wilayah kerja) mereka. Tetapi domainnya pemko.

Demikian juga ketika tiba giliran Dinas Lingkungan Hidup memberi tanggapan. Pejabat yang datang mewakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup sore itu, meluruskan kepada Berta, bahwa, persolan ukuran gorong-gorong tersebut bukanlah domain mereka, melainkan domainnya Dinas PUPR.

Acara Konsultasi Publik AMDAL Optimalisasi Lahan dan Gedung GOR Pematangsiantar yang digelar PT Suriatama Mahkota ini berlangsung sekitar 90 menit. Acara ini dihadiri Lurah Pardomuan, yang mewakili Camat Siantar Timur, yang mewakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Kepala SMP Negeri 1, Wakil Kepala SMA Negeri 4, Bhabinkamtibmas Kelurahan Pardomuan, Babinsa Kelurahan Pardomuan, Tokoh masyarakat Kelurahan Pardomuan, dan belasan warga Kelurahan Pardomuan. [nda]


Baca juga:

Lahan Tanjung Pinggir, 3 Miliar untuk 573 Hektar

Pemko Siantar Tak Serius Tuntaskan Krisis Lahan

Monumen WTN Tanpa WTN