Informasi Terpercaya
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi
Selasa, Juni 16, 2026
  • Login
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil
No Result
View All Result
Informasi Terpercaya
No Result
View All Result

70 Persen Makanan Beredar di Siantar Diduga Mengandung Pengawet Berbahaya

by Redaksi
14/11/2021
in Peristiwa
0
Share on FacebookShare on Twitter

Siantar — Diperkirakan lebih dari 70 persen produk dan bahan makanan yang beredar di Kota Siantar, Sumatera Utara, mengandung bahan pengawet yang berbahaya. Pengawet berbahaya tersebut tak lagi hanya untuk jenis makanan mie, bakso, atau lontong, tapi juga sudah ada pada ikan, buah-buahan, bahkan rempah-rempah yang jadi bahan baku makanan di tiap rumah tangga.

Penelurusan isiantar.com, di kalangan pedagang, sebagian besar sudah mengetahui bahan pengawet yang berbahaya bagi kesehatan tersebut. Tapi dengan alasan agar dagangannya terlihat lebih menarik dan tak cepat basi, mereka tetap memilih pengawet tersebut untuk dicapur dengan bahan atau produk makanan yang mereka jajakan.

Bahkan untuk rempah-rempah seperti merica, ketumbar, dan kapulaga, kini sudah terlebih dulu dicuci dan direndam dengan pengawet yang sejenis dengan kaporit. Pencucian ini disebut agar rempah-rempah terlihat menjadi lebih menarik, dan lebih disukai para pembeli.

“Ibu-ibu yang belanja untuk rumah tangga pun lebih sukanya yang (sudah dicuci kaporit) seperti ini, karena nampak lebih putih dia, lebih segar,” kata seorang narasumber, Minggu (16/11/2020), sambil menunjuk rempah-rempahnya yang telah direndam pengawet.

Menurut narasumber yang seorang pedagang di Pasar Dwikora ini, 70 persen makanan yang beredar di kota Pematangsiantar sudah mengandung bahan pengawet yang berbahaya. Seperti formalin dan boraks yang dicampur dengan jenis-jenis bahan makanan tertentu. Alasannya sama: supaya dagangan lebih menarik, tidak cepat basi, dan lebih laris. Atau setidaknya karena bahan makanan seperti itu tampak lebih segar di mata konsumen awam.

“Kalau untuk pembeli yang baru kita jelaskannya sama orang itu, ‘kalau yang ini seperti ini (pakai pengawet), kalau yang itu murni,’ tapi tetap ajanya yang mereka beli yang pakai pengawet. Karena mereka pikir yang tak berpengawet itu yang sudah busuk itu (karena warnanya cenderung kusam, red), padahal tidak, itu yang bagus,” ungkap sumber.

Bahan Pengawet Berbahaya Beredar Bebas

Hal senada juga diungkapkan oleh narasumber lain yang beraktifitas di Pasar Horas.

Menurut pedagang ini bahan-bahan pengawet berbahaya tersebut diperdagangkan secara bebas di kota ini. Dan banyak pedagang makanan yang sudah mahir mencampurkan sendiri bahan pengawet tersebut dengan makanan yang akan didagangkannya. Dan pedagang seperti ini, jumlahnya terbilang banyak.

“Formalin, boraks, ada lagi yang lain, gampangnya itu didapat, banyaknya yang jual itu. Artinya bebas tapi gak bebas-bebas kali lah.

Ya pastilah orang itu tengok-tengok orangnya juga. ‘O, si ini yang jualan di sana, kasih. Yang ini jualan di sana, kasih’. Kalau kayak abang nya yang datang (jurnalis) memang ya mungkin gak dikasih,” bebernya soal perdaganhan bahan pengawet berbahaya tersebut.

Menurutnya persentase makanan yang mengandung bahan pengawet yang berbahaya yang beredar di kota ini bahkan sudah sekitar 80 persen.

“Apa lagi rupanya yang gak pakai (pengawet)? Pewarna-pewarna itukan (sebagian) ada pengawetnya juga itu. Tinggal nasi sama air putihlah kurasa yang belum berpengawet,” kata sumber. [nda]

Tags: BPS PematangsiantarEkonomiKesehatan
ShareTweetPin

Related Posts

65 Lansia Diwisuda, Ada yang Sudah Berusia 82 Tahun

by Redaksi
12/05/2026
0

...

May Day, Dari Refleksi Jadi Sekedar Seremoni

by Redaksi
02/05/2026
0

...

Kader Posyandu Kelurahan Sumber Jaya Ikuti Bimtek Selama Tiga Hari

by Redaksi
30/04/2026
0

...

Rumah Sakit Umum Siantar Kini Bisa Obati Batu Ginjal Tanpa Bedah

by Redaksi
30/04/2026
0

...

Uli Berganti Nama, Disarankan Jadi Air Mineral Wajib Seluruh Instansi di Siantar

by Redaksi
29/04/2026
0

...

Pemko Siantar Sidak Harga Minyakita di Pasaran

by Redaksi
28/04/2026
0

...

Pemko Siantar Luncurkan 22 Ribu Paket Bantuan Pangan untuk Warga Miskin

by Redaksi
08/04/2026
0

...

Disampaikan kepada Menteri, Begini Konsep Pemko Siantar Turunkan Angka Pengangguran

by Redaksi
02/04/2026
0

...

Baznas Siantar Salurkan Zakat Kepada 520 Mustahik

by Redaksi
15/03/2026
0

...

Wesly Silalahi Traktir Ratusan Anak Yatim Belanja ke Ramayana

by Redaksi
13/03/2026
0

...

Terkini...

Nobar Pesta Babi dan Menyoal Fungsi Gereja atas Penancapan 1800 Salib Merah

14/06/2026

Teratai Kembang Raih Juara Umum di Ajang O2SN Kota Siantar

13/06/2026

Walikota Siantar Terima Penghargaan atas Komitmen Mendirikan Posbankum

10/06/2026

Fenomena Cawe-cawe Politik di Siantar: Krisis Demokrasi Lokal dan Peran Rakyat

10/06/2026

Laba Terus Meningkat, Perumda Tirta Uli Serahkan Dividen Rp 1,3 M kepada Pemko

09/06/2026

Walikota Siantar Temu Ramah dengan Pengurus Pusat Gereja Pentakosta Indonesia

09/06/2026

FASI XIII Sumut: Qur’ani, Kebangsaan, dan Jejak Kontribusi Lintas Agama dalam Peradaban Islam

06/06/2026

Angkat Tema Pulihkanlah Bangsa Kami, GAMKI Sumut Gelar Apel Kebangsaan di Siantar

04/06/2026

Walikota Siantar Hadiri Festival Malam Waisak 2570 Buddhist Era

31/05/2026

Dekranasda Siantar akan Gelar UMKM Siantar Expo, Diikuti 30 Peserta

31/05/2026
  • Pedoman Media Siber
  • Disclaimer
  • Redaksi

© 2019 isiantar.com

No Result
View All Result
  • Home
  • Peristiwa
  • Komunitas
  • Seni & Wisata
  • Politik
  • Uang
  • Hukum
  • Khas
    • i Pelajar
  • Opini
    • Profil

© 2019 isiantar.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In