isiantar.com – Rendahnya serapan anggaran di Kota Siantar disebut akibat ambruknya semangat kerja para Kepala Dinas (Kadis). Hilangnya semangat itu, disinyalir, sebab hak-hak Kadis sebagai Pengelola Anggaran (PA) ‘dikebiri’ oleh pimpinannya.
“Gairah, semangat, kemauan dan keinginan kerja itu menurun karena adanya mis (ketidaksepahaman) antara pimpinan dan anggotanya (Kadis). Pimpinan ini kan tidak harus saya sebut (namanya), pengguna anggaran itu Kepala Dinas, jadi anda kan sudah bisa identifikasi pimpinan itu siapa,” kata Piliaman Simarmata, Sekretaris Eksekutif Komisi Pemantau Pengadaan Barang dan Jasa (KP2BAJA), yang dimintai tanggapannya atas rendahnya serapan anggaran di Kota Siantar, Selasa malam (28/8/2018).
(Baca: Sampai Akhir Agustus, Serapan Anggaran Pemko Siantar Masih Sangat Rendah)
Dari amatannya, kata Piliaman, pengebirian itu dilakukan dengan mengambil-alih hak Kadis dalam menentukan siapa yang menjadi rekanan untuk setiap proyek pengadaan barang dan jasa. Dan pengambil-alihan itu menciptakan iklim yang tidak produktif, membuat semangat kerja para Kadis menurun drastis.
“‘Dulunya aku yang membagi, tiba-tiba Anda tarik, tiba-tiba jangan, Anda bilang tunggu dulu’, dan seterusnya dan seterusnya. Itu dia, itu intinya,” kata Piliaman menirukan perasaan yang dirasakan para Kadis akibat pengkebirian tersebut. “‘Dulu yang aku berhak membagi, menentukan siapa yang akan melaksanakan pekerjaan ini di lapangan, menentukan penyedia jasanya, penyedia barangnya’. Kemudian datang pemimpin baru mengamputasi ini semua,” imbuhnya.
Faktor Lain yang Menambah Ketidaknyamanan
Selain oleh pengkebirian dari si pemimpin itu, Piliaman juga menyebut faktor penyebab lain yang kali ini berasal dari institusi penegak hukum.
Dalam situasi tertentu, kata Piliaman, aktifitas monitoring dan pengawasan oleh penegak hukum juga bisa membuat pengguna anggaran ataupun pihak rekanan menjadi malas untuk melaksanakan program.
“‘Ya udahlah, orang enggak aku juga yang membagi (proyeknya), datang pula nanti Kasi Intel, Kasi Pidsus, TP4D, memeriksai, apa, segala macam. Ya udahlah, rekanan pun gak tahu aku siapa’, ya malas lah. Itunya, itunya rilnya,” kata Piliaman mengakhiri. [nda]




















