isiantar.com — Pedagang Pasar Horas dan Pasar Dwikora, Kota Siantar, yang tergabung dalam Perlindungan Persaudaraan Pedagang Pasar Bersatu (P4B), merasa sangat terganggu dengan adanya kegiatan bazar di areal Gedung Olahraga (GOR) Jalan Merdeka.
“Selama ini kami sudah sangat ‘terjepit’ dengan banyaknya pasar-pasar modern (ritel), sekarang ditambah lagi dengan itu (bazar),” kata Nobel Marpaung, Ketua DPD P4B Kota Siantar, ditemui di kiosnya di Gedung II Lantai 1 Pasar Horas, Rabu (22/5/2019).
Pantauan di lapangan, meski diketahui banyak pihak menolak — bahkan kegiatan bazar seperti ini dulu pernah nyaris menciptakan bentrokan — ternyata bazar di areal GOR kembali beroperasi sejak kemarin.
Fakta ini membuat pedagang pasar khususnya di Pasar Horas sangat kecewa. Apalagi areal GOR hanya berjarak sekitar 300 meter di sebelah utara gedung Pasar Horas. Ditambah lagi, semenjak tiga minggu lalu, kegiatan sejenis yang bertajuk Ramadhan Fair juga telah beroperasi di atas badan Jalan Adam Malik — yang jaraknya juga hanya sekitar 300 meter di sebelah selatan gedung ini.
“Kami sangat menolak karena kami semakin ‘terjepit’, karena pengunjung akan ke sana. Itu satu, secara ekonomi. Artinya, itu kan mengurangi pendapatan kami. Kan sebenarnya berkah Ramadan ini ada juga harusnya sama kami, ternyata ‘dipotong’ (oleh bazar tersebut).
Yang kedua, secara tata letak itu juga tidak sesuai. Artinya kalau memang bisa suka-suka, di jalan raya pun akan kita tutup semua untuk buat bazar. Lalu akan dimana lagi pusat ekonomi kerakyatan? Tidak ada lagi. Kami yang selama ini sunyi (pembeli) semakin disunyikan oleh kegiatan-kegiatan bazar yang diberikan tempat oleh pemko itu,” kata Nobel.
Bagi Nobel, kegiatan bazar itu bisa berlangsung karena diijinkan oleh pemko. Logikanya, kata Nobel, bila pemko tidak mengijinkan, bazar tersebut takkan pernah bisa terlaksana sebab lahannya adalah lahan milik pemko. Dan itu membuat mereka sangat kecewa terhadap pemko dibawah kepemimpinan walikota saat ini.
Nobel pun menceritakan bahwa di bulan Februari lalu, karena sudah berulang kali dirugikan oleh kegiatan bazar, P4B bersama-sama dengan Dirut PD PHJ pernah berkunjung ke balaikota untuk beraudiensi dengan Hefriansyah selaku walikota.
(Baca juga: Pedagang Bazaar ke Satpol PP: Balikkan Uangku Rp 13 Juta, Sekarang Juga Kubongkar, Cemmana?)
Di audiensi itu, kata Nobel, mereka menyampaikan ketidak-setujuan mereka pada kegiatan bazar, kecuali jika jenis dagangan yang dijual di bazar tersebut berbeda dengan yang dijual pedagang Pasar Horas dan Dwikora.
“Saat itu walikota langsung berbicara, ‘saya juga kurang setuju, silahkan surati kami’, dan, itu sudah kita surati,” ungkap Nobel mengisahkan kembali bagaimana dialog mereka dengan Hefriansyah di saat audiensi itu.
Maka dengan fakta beroperasinya kembali kegiatan bazar sekarang ini, pihaknya kata Nobel, akan mengambil sikap kolektif yangmana bentuk sikap tersebut sedang mereka rembukkan. [nda]
Baca juga:




















