Siantar — Parit yang dibangun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, di Jalan Medan, Simpang Kapuk, Kecamatan Siantar Martoba, dinilai telah melecehkan intelektualitas warga setempat dan warga Siantar pada umumnya.
Pasalnya, konstruksi parit yang dibangun dengan nilai Rp 700 jutaan ini, tampak tidak normal, menyebabkan penyempitan jalan, dan cukup mengganggu dari aspek estetika.
“Tujuh ratus juta untuk bangun parit yang bentuknya sama kualitasnya kayak gini ya udah menghinalah namanya. Dipikirnya mungkin gak tau masyarakat ini (soal) bangunan, Tukang semua ini,” ujar Iwan, salah seorang warga, Selasa (21/12/2021).
Bentuk parit yang dibangun BPBD ini, yang pada satu bagian menjorok hingga mempersempit ruas jalan, juga dianggap sebagai persoalan serius.
“Ini jadinya ya bencana juga namanya ini. Karena nanti anak-anak yang terbiasa melihat ini, yang gak teratur ‘mencong-mencong‘ kayak gini, jadi terbiasa. Seakan-akan membangun ‘mencong-mencong‘ kayak gini normal. Jadi sumber bencana generasi ke depan juga namanya ini,” ketus warga yang lain.
Selain desainnya tidak lazim, bagian lantai parit juga tampak telah terkelupas di hampir sepanjang parit. Padahal menurut warga, parit ini masih baru selesai dibangun.


Sofyan Purba, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala BPBD Kota Siantar, yang diminta tanggapannya soal keluhan dan kritik warga ini, mengatakan akan memerintahkan bawahannya untuk melakukan cek ke lapangan.
“Biar kusuruh cek lapangan,” kata pria yang baru dilantik jadi Plt Kepala BPBD ini, yang telah menggantikan posisi pejabat sebelumnya yakni Daniel Hamonangan Siregar yang oleh Hefriansyah kini diberi jabatan Kepala Dinas PUPR. [nda]
Baca juga:




















