isiantar.com – Ditengah isu kurangnya perhatian pemko terhadap perkembangan dunia kesenian, ternyata ada sebuah kelompok kesenian yang sudah bertahun-tahun secara rutin memberikan hiburan bagi warga Kota Siantar.
Hiburan yang disuguhkan kelompok tersebut yakni kesenian Kuda Lumping, yang selalu ditampilkan secara terbuka di Lapangan Adam Malik.
Menurut penuturan pedagang jajanan di trotoar sekitar lapangan, kelompok kesenian tersebut setidaknya sudah memberikan hiburan secara gratis dan terbuka bagi warga sejak lima tahun yang lalu.
“Kurasa lima tahun sudah lebih lah, sejak aku jualan di sini mereka sudah ada. Biasanya Sabtu Minggu aja, itu pun kalau tidak ada pemko misalnya di situ,” ujar Feby, salah seorang pedagang.
Menurut Feby, dia dan temannya sesama pedagang selalu senang dengan kehadiran kelompok kesenian tersebut. Alasannya, penampilan mereka menjadi alasan pengunjung untuk singgah dan membeli jajanan mereka.
Dalam penampilan Minggu (21/11/2016), ratusan penonton tampak melingkar mengerumuni penampilan kesenian Kuda Lumping itu. Mereka tampak terhanyut. Wajah mereka terlihat cemas dan ngeri saat adegan memakan beling, dan tertawa terbahak saat melihat tearikal lucu yang komunikatif yang selalu ada di sepanjang lakon.
Penampilan mereka yang dimulai sekitar jam tiga sore baru berakhir setelah jam sembilan malam. Menurut pedagang, jadwal mereka setiap Sabtu Minggu selalu seperti itu.
Menurut sejumlah ulasan, Kuda Lumping yang merupakan salah satu jenis kesenian budaya Jawa yang merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran sebuah pasukan berkuda. Tarian dengan gerakan ritmis, dinamis, dan agresif melalui kibasan anyaman bambu berbentuk kuda menirukan gerakan layaknya seekor kuda di tengah peperangan. Tarian ini diiringi dengan suara gending yang selalu mengalun yang suaranya menciptakan nuasa mistis sekaligus eksotis.
Beberapa adegan penampilan Kuda Lumping juga menyuguhkan atraksi kesurupan, kekebalan, dan kekuatan magis, seperti atraksi memakan beling dan kekebalan tubuh terhadap deraan pecut.
Meskipun tarian ini berasal dari Jawa, Indonesia, tarian ini juga diwariskan oleh kaum Jawa yang menetap di Sumatera Utara dan di beberapa daerah di luar Indonesia seperti di Malaysia, Suriname, Hongkong, Jepang dan Amerika.
(nda)




















