Siantar — Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada bulan Maret 2020 Kota Pematangsiantar mengalami deflasi sebesar 0,12 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 103,33 persen.
Deflasi ini merupakan deflasi beruntun setelah pada bulan Februari lalu, dimana kembali terjadi penurunan IHK dari 103.45 pada Februari, menjadi 103.33 di bulan Maret.
Defenisi deflasi secara umum bisa dipahami sebagai kondisi penurunan harga secara terus terus-menerus dalam suatu periode. Deflasi terjadi ketika peredaran mata uang sangat minim hingga menyebabkan penurunan harga secara besar-besaran.
Beberapa menganggap deflasi lebih menguntungkan rakyat sebab akan bisa memenuhi kebutuhan hidup dengan harga relatif murah. Namun tidak. Kondisi yang demikian justru akan mengacaukan, atau berdampak buruk pada kondisi perekonomian suatu negara.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), inflasi adalah penambahan nilai mata uang yang juga diikuti dengan penurunan jumlah produksi, sulitnya lapangan kerja, dan rendahnya daya beli masyarakat.
Kembali ke data BPS, deflasi pada bulan Maret terjadi karena adanya penurunan harga di berbagai kelompok pengeluaran, yaitu; Kelompok Bahan Makanan, Minuman, dan Tembakau mengalami deflasi sebesar 0,64 persen, Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga mengalami deflasi sebesar 0,01 persen, dan Kelompok Perlengkapan, Peralatan, dan Pemeliharaan Rutin Rumah Tangga mengalami deflasi sebesar 0,02 persen. [nda]




















