isiantar.com — Caleg DPR RI dari Dapil Sumut III, Anton Sihombing, menyebut pencurian suara dengan pola mengalihkan perolehan suara seorang caleg kepada caleg yang lain di dalam partai yang sama, tengah menimpa dirinya.
“Di Plano suara saya ada, tapi (setelah) dipindahin itu ke C1, suara saya enggak ada, tapi jadi suara partai. Di samping itu, juga masih ada yang dicorat-coret,” ungkap Anton Sihombing dalam konferensi pers, di Pematangsiantar, Sabtu (27/4/2019).
Lebih lanjut ia mengungkap, hal yang menimpa dirinya itu terjadi karena ada pihak yang bertindak sewenang-wenang. “Ada yang memonopoli saksi, suara saya (harusnya, red) masih lebih tinggi dari dia,” ketus Anton setelah beberapa kali menyebut ‘Plt ketua partai di Sumut’ dalam keterangannya itu.
Oleh karena itu politisi yang masih tercatat sebagai anggota DPR RI ini meminta agar di tahap rekapitulasi penghitungan suara di tingkat kabupaten/kota nantinya dilakukan pembukaan lembar Plano, yakni lembar hasil penghitungan suara asli di TPS yang ada di dalam kotak suara yang merupakan dokumen asli.
Tercatat sebelumnya, pada Senin 15 April lalu, atau dua hari sebelum pemungutan suara, Anton juga telah menunjukkan gelagat curiga akan terjadi pencurian terhadap perolehan suaranya oleh caleg lain di partainya sendiri. Di hari itu Anton menggelar konferensi pers dan mewanti-wanti pihak penyelenggara pemilu supaya tidak terlibat tindak pelanggaran yang mengarah ke upaya pengalihan suara tersebut.
Minta Sistem Pemungutan Suara Diubah
Selain adanya perbedaan jumlah perolehan suara saat penghitungan di TPS dengan yang kemudian tercatat di formulir C1, Anton juga menyebut menemukan sejumlah kejanggalan lain di pileg kali ini. Diantaranya, banyaknya versi formulir C1 yang beredar, serta dugaan adanya oknum-oknum yang bertindak menjadi makelar suara.
Demi perbaikan ke depan, maka politisi yang kini berusia 70 tahun ini menyarankan agar pemilu selanjutnya digelar dengan sistem elektronik. “Ke pemilu yang akan datang sistemnya itu diubahlah. Kalau bisa, ya pakai elektronik sistem. Malu kita melihat negara lain kalau masih menusuk suara pakai paku. Di dunia ini yang seperti itu Bangladesh, ya. Jadi kita masih setara sama Bangladesh. Masa merepresentasikan suaranya masih pakai paku,” ujarnya.
Namun, Anton memagari, bahwa pelanggaran-pelanggaran di pemilu kali ini hanya dia temukan pada lingkar pemilihan legislatif. “Kalau pilpres, itu sudah berjalan dengan baik,” ucapnya yakin. [nda]




















