Siantar — Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek “parit artistik” Rp 700 jutaan di BPBD Kota Siantar, Donlikut Tampubolon, tampak berupaya menghindar dari wartawan yang ingin meminta penjelasan terkait detail proyek tersebut kepadanya.
Dihubungi isiantar.com, Rabu (22/12) lalu, Donlikut awalnya menawarkan supaya wawancara dengan dirinya diundur dengan alasan sedang sibuk. “Kebetulan lagi repot-repot ini, besok kalau ada waktu kita ketemu.” Demikian balasan Donlikut lewat pesan teks.
Namun setelah itu, ia sama sekali tidak merespon upaya konfirmasi mengenai proyek yang menyedot perhatian publik tersebut.
Sofyan Purba: Itu harus diluruskan
Berbeda dengan Donlikut, Plt Kepala BPBD, Sofyan Purba, menegaskan bahwa konstruksi parit yang dibangun di Jalan Medan Simpang Kapuk itu memang harus dibuat lurus.
“Itu memang harus diluruskan itu. Sudah saya bilang supaya itu diluruskan. Surat ke PLN juga meminta supaya tiang listrik itu dipindahkan sudah saya tandatangani sama dia (Donlikut),” kata Sofyan.
Menyedot Perhatian Publik
Parit yang dibangun BPBD Siantar dengan biaya Rp 700 jutaan di Simpang Kapuk itu cukup menyita perhatian publik sebab desainnya dianggap melecehkan intelektualitas masyarakat Siantar.
“Jadinya ini ya bencana jugalah namanya ini. Karena nanti anak-anak yang terbiasa melihat ini, yang gak teratur ‘mencong-mencong‘ kayak gini, jadi terbiasa. Seakan-akan membangun ‘mencong-mencong‘ kayak gini normal.
Jadi sumber bencana generasi ke depan juga namanya ini,” ucap seorang warga.
Sementara seorang pembaca isiantar.com menilai pembangunan drainase tersebut sudah salah sejak tahapan perencanaan: “Seharusnya pada titik ini dibuat desain konstruksi gorong-gorong,” tulisnya. [nda]




















