isiantar.com – Hampir tiga bulan setelah Walikota Pematangsiantar terpilih, Hulman Sitorus, meninggal dunia, Partai Demokrat belum juga menetapkan yang diusulkan sebagai pengganti. Di sisi lain, Hefriansyah memang sudah dilantik. Tapi perubahan situasi yang mengejutkan dengan berpulangnya almarhum, justru menempatkan Hefriansyah pada posisi labil.
Belum adanya keputusan mengenai sosok yang akan diusulkan sebagai pengganti, disampaikan Sekretaris Jendral (Sekjen) DPP Partai Demokrat, Hinca Panjaitan, lewat layanan pesan singkat, Minggu (26/2/2017).
“Kita belum putuskan,” balasan singkat Hinca menjawab konfirmasi isiantar.com.
Hefriansyah dalam posisi labil
Kemenangan pasangan Hulman – Hefriansyah pada pilkada November 2016 lalu, sangat signifikan. Namun selepas berpulangnya Hulman, bingkai kekuatan tim pemenangan pasangan ini, terburai dan menunjukkan denahnya. Mencapai 80 persen kekuatan itu berada kerja-kerja yang dilakukan almarhum Hulman.
Kondisi seperti itulah hasil amatan akademisi, Imran Simanjuntak. Dan menurutnya, beranjak dari kondisi itu pula yang menjadi penyebab sempat terjadinya penundaan-penundaan terhadap proses pelantikan Hefriansyah.
“Hefriansyah hanya support paket. Jadi kekuatan pemenangan 70 – 80 persen ada di tangan Hulman. Hulman adalah bagian yang sudah membangun komunikasi politik, komunikasi kekuasaan, komunikasi ekonomi (biaya pemenangan) dengan orang-orang yang memberikan dukungan politik terhadap dirinya. Dan bisa jadi hukum-hukum-suksesi-untuk-pemenangan yang sudah dilakukan dan dilakoni Hulman itu, tidak sepenuhnya diketahui oleh Hefriansyah,” jelasnya.
Bagi orang yang mahfum dunia politik, lanjut Imran, jelas memahami bahwa Hefriansyah tidak akan boleh berlaku naif atas realita itu. Semua komunikasi dan kesepakatan yang telah dijalin terdahulu, tentu sekarang ditagih kepada Hefriansyah. Dan pada titik ini, yang pertanyaan penting bagi kemaslahatan masyarakat ialah perihal apakah kelak Hefriansyah mampu memimpin secara independen.
“Karena syarat untuk pelantikannya, menurut kami, sangat sarat dengan kekuatan-kekuatan politik ekonomi. Lebih konkritnya, banyak bargaining (tawar-menawar) yang dilakukan agar Hefriansyah bisa dilantik, bisa dikukuhkan,” ungkap pria yang juga menjabat Ketua Pimpinan Cabang Ikatan Sarjana Nahdatul Ulama (ISNU) Kota Siantar ini.
Situasi yang berat, yang mungkin tidak terlihat oleh publik, tidak sampai di situ. Sebab mengingat latar belakang Hefriansyah yang bukan orang yang mengenal baik seluk- beluk politik pun birokrasi. Sementara sekarang, ia sudah langsung didera oleh tuntutan-tuntutan dari unsur-unsur yang menjadi kekuatan pemenangan tadi. Termasuk oleh parpol yang mengusungnya di pilkada.
“Bicara tentang cost ekonomi, politik, ini semua kan harus dijalin kembali oleh Hefriansyah ketika ia tidak mau tercederai. Nah persoalannya sekarang bagaimana Hefriansyah bisa mengeliminir kepentingan-kepentingan itu. Tapi di sisi lain, kita melihat Hefriansyah secara personal, ia bukan orang yang terintegrasi dengan kekuatan-kekuaran yang ada seperti parpol atau organ-organ lain. Jadi sangat posisi yang labil. Sangat labil ketika Hefriansyah tidak cepat mencari sandaran politik,” ungkapnya.
Ditanya, lantas bagaimana saran terhadap Hefriansyah untuk menghadapi situasi ini?
“Kalau bicara nurani, dorongan-dorongan yang masuk adalah, yang terutama adalah, mengakomodir kepentingan-kepentingan almarhum dan keluarganya. Itu kan bicara hati nurani, ya karena kita tahu kekuatan ini memang sebenarnya yang pendobrak utama kekuatan Hulman. Itu kalau dimungkinkan. Tapi tetap saja orang partai yang menentukan siapa Wakil ke depannya,”jawabnya.
Bukankah itu rumit dan dilematis? “Ya, (Hefriansyah) baik-baiklah, pandai-pandailah mensinergikannya itu, bagaimana bisa menjalankan kepentingan nurani yang dilandasi oleh kekuatan politik. Intinya tetap kekuatan politik menjalankan kepentingan-kepentingan hati nurani,” tutupnya. [nda]




















